Begini Caraku Mendukung Teman Perempuan yang Mengalami Pelecehan Seksual

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh : Ranti Uli

Tidak ada orang yang mau dilecehkan, apalagi dilecehkan secara seksual. Tindakan pelecehan seksual sangat menyakiti korban, terutama secara psikis. Dalam beberapa kasus, mungkin tidak terlihat perubahan secara fisik pada korban pelecehan seksual, tapi dampak secara mental biasanya berkepanjangan dan terus menghantui korban.

Begitulah yang aku ketahui dari membaca banyak artikel dan jurnal mengenai topik pelecehan seksual. Jujur, aku juga pernah mengalaminya, walaupun aku merasa pelecehan seksual yang terjadi padaku tergolong ringan.

Saat itu aku masih SMP dan sedang berbelanja di pasar bersama ibuku. Sekitar 5 menit kami terpisah karena ibuku sibuk menawar suatu barang, sementara aku melihat barang lainnya. Tiba-tiba ada laki-laki paruh baya yang mendekatiku lalu membuka celananya dan menunjukkan kelaminnya padaku. Aku kaget dan langsung kabur ke arah ibuku. Ada perasaan takut, cemas, sekaligus bingung sehingga aku memutuskan diam dan tidak bercerita apapun pada siapapun waktu itu.

Kemudian ketika aku kuliah, pelecehan seksual kembali kualami ketika aku sedang berjalan bersama temanku di trotoar dekat kampus. Pengendara motor yang muncul dari belakangku meremas bokongku. Kejadiannya hanya beberapa detik, tapi cukup membuatku syok dan tertegun beberapa detik.

Yang membuatku mual adalah pelaku tertawa setelah melakukan perbuatan menjijikkan itu. Aku merasa geram dan mengharapkan sesuatu yang jahat terjadi padanya suatu saat, karena saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Soalnya pengecut itu langsung kabur setelah melakukan kejahatan.

Percaya dan Dukung Korban

Ilustrasi. (Photo by Melissa Askew on Unsplash)
Ilustrasi. (Photo by Melissa Askew on Unsplash)

Pengalaman dan pengetahuan mengenai pelecehan seksual membuatku sangat bisa berempati pada orang-orang yang mengalami pelecehan seksual, terutama sesama perempuan. Kejadian yang kualami memang sangat buruk dan traumatis, tapi ternyata bisa berguna membantu teman-temanku yang mengalami hal yang sama.

Ketika teman perempuanku bercerita bahwa mereka dilecehkan secara seksual, hal pertama yang kulakukan adalah mendengarkannya. Aku membiarkan dia bercerita dan tidak menginterupsinya. Tidak mudah menceritakan pengalaman pelecehan seksual, apalagi stigma negatif terhadap korban pelecehan seksual masih mendominasi pemikiran masyarakat.

Karenanya, aku berusaha untuk menjadi pendengar yang aktif tanpa mengeluarkan respon secara reaktif. Setelah mereka bercerita, aku akan berterima kasih karena mereka sudah percaya padaku sehingga mau bercerita. Aku akan berkata, “I’m so sorry that happened to you and I believe you."

Sulit sekali membuktikan terjadinya pelecehan seksual, apalagi ketika korban baru bisa bercerita setelah kejadian sudah lama berlalu. Akan tetapi, tidak ada bukti bukan berarti pelecehan itu tidak terjadi. Mengingat sifatnya yang sensitif, penting sekali untuk percaya dulu pada korban.

Masyarakat kita cenderung menyalahkan korban pelecehan seksual dengan berbagai argument nir-empati. Aku berharap ini bisa berubah. Menyalahkan korban pelecehan seksual sama saja dengan melanggengkan perilaku ini dan membungkam suara korban.

Setelah mendengarkan cerita teman perempuan dan mengapresiasi keberaniannya bercerita, biasanya aku bertanya, “Apa yang kamu harapkan dari bercerita kepadaku tentang kejadian ini?” Mayoritas teman perempuan hanya butuh dukungan dengan cara didengarkan dan dipercayai. Mereka sudah menyimpan pengalaman buruk itu cukup lama karena takut disalahkan jika bercerita dan malah menambah trauma mereka.

Pada sedikit kasus, mereka ingin kasusnya diproses secara hukum. Tentu saja ini bukan ranahku. Aku menyarankan mereka menghubungi lembaga terkait. Sejauh ini, belum ada yang sampai ke tahap melaporkan pelecehan seksual yang mereka alami karena berbagai alasan. Lagi-lagi aku mendukung, karena yang terpenting adalah temanku merasa aman dan berjuang untuk menyembuhkan trauma yang dirasakan.

Tentunya aku berharap semua perempuan bisa aman dari pelecehan seksual. Aku sangat amat ingin agar pelaku pelecehan seksual menerima konsekuensi dari perbuatan jahat mereka. Namun, di dunia yang belum ideal ini, ayo terus dukung para korban dan jangan lagi menyalahkan korban pelecehan seksual.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel