Begini Penerapan Salat Jumat di Turki dan Singapura pada Masa Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 215 negara di dunia tengah berjuang menghadapi pandemi Covid-19, tak terkecuali Turki dan Singapura. Meski demikian, negara-negara tersebut mulai menerapkan new normal secara bertahap.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, new normal tempat ibadah di Turki mulai diterapkan pada 29 Mei 2020. Tetapi ada yang berbeda pelaksanaan ibadah di masa new normal dengan sebelumnya.

Di fase new normal, kata Lalu, salat Jumat misalnya, harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Para jemaah yang datang ke masjid harus menggunakan masker, membawa sajadah masing-masing dan menjaga jarak atau physical distancing.

"Saat di masjid tidak boleh dekat-dekat dan ada polisi yang menjaga. Ini untuk memastikan bahwa setiap yang datang ke masjid ini mengambil jarak," jelas Lalu dalam Talk Show Ibadah Jumat di Negara Sahabat yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Sabtu (27/6/2020).

Salat Jumat di Turki tidak dilakukan di dalam masjid. Melainkan di halaman masjid. Waktu khutbah Jumat juga dibatasi, maksimal lima menit.

Selain itu, jemaah juga tidak diperkenankan untuk melaksanakan salat sunah di masjid. Salat sunah harus dilakukan di rumah masing-masing.

Sementara, Wakil Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Singapura, Didik Eko Pujianto menceritakan kondisi serupa. Dia menyebut, salat Jumat di Singapura itu dihentikan pada pertengahan bulan Maret lalu karena Covid-19.

"Baru dibuka pada bulan Juni. Itu fase pertama, belum boleh melakukan salat Jumat. Fase kedua tanggal 15 Juni baru kemarin salat Jumat pertama kalinya dengan standar yang cukup ketat," jelasnya.

Sedikit berbeda dengan Turki, waktu khutbah Jumat di Singapura maksimal 10 menit termasuk doa. Jumlah jemaah salat Jumat juga dibatasi paling banyak 50 orang dalam satu masjid.

Dilaksanakan Bergelombang

Jika lebih dari 50 orang, maka salat Jumat dilaksanakan dua kali atau dua gelombang.

"Ini juga ada beberapa orang yang sudah mengantre itu dilakukan pendataan secara online. Jadi sebelum memasuki masjid, daftar online," ujarnya.

Pendaftaran salat Jumat lewat online ini bertujuan untuk melakukan tracking terhadap para jemaah. Jika terjadi penyebaran Covid-19 di masjid, maka otoritas setempat bisa melakukan penelusuran dengan cepat.

"Ketika terjadi sesuatu bisa ditrack di masjid itu ada berapa orang, siapa saja, kemudian pada kloter keberapa kalau melakukan salat Jumat," pungkasnya.

Reporter: Titin

Sumber: Merdeka

Saksikan video pilihan di bawah ini: