Begini Road Map Pemkab Sleman Atasi Masalah Sampah

Merdeka.com - Merdeka.com - Penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan beberapa waktu lalu membuat beberapa Kabupaten dan Kota di DIY kewalahan salah satunya Kabupaten Sleman. Selama ini, TPST Piyungan masih menjadi andalan pembuangan sampah yang dihasilkan warga Kabupaten Sleman.

Dari data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), volume sampah harian di Sleman mencapai 706 ton dalam sehari. Jumlah tersebut diyakini masih akan terus bertambah mengingat sejak tahun 2018 volume sampah di Sleman terus meningkat sebanyak 60 ton per hari di tiap tahunnya.

Kondisi TPST Piyungan yang sering ditutup karena sudah terlampau over kapasitas, Pemkab Sleman mulai gerak cepat dengan membuat road map jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Untuk rencana jangka pendek yang diambil Pemkab Sleman adalah membangun TPST sendiri. Rencana pembangunannya akan dimulai pada tahun 2023 mendatang. Ada dua lokasi yang diproyeksikan menjadi lokasi TPST yakni di Sleman Timur dan Sleman Barat.

"Lokasinya untuk Sleman Timur ada di Tamanmartani. Luasnya sekitar 1,8 hektare. Satunya ada di Sendangrejo, Minggir, dan yang tengah sedang kita cari lokasinya. Target kita bisa dimulai tahun 2023," ujar Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo.

Kustini menerangkan, pembangunan TPST Tamanmartani nantinya akan menelan anggaran sebesar Rp38 Miliar. Sedangkan, TPST Sendangrejo akan menggunakan dana alokasi khusus dari pemerintah pusat. Ditargetkan dua TPST tersebut akan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPST Piyungan.

Kustini merinci sistem yang diterapkan di TPST akan mengolah dan memilih sampah jenis organik menjadi kompos. Sementara untuk sampah jenis anorganik dijadikan lapak atau dicacah serta residunya akan dimusnahkan dengan cara dibakar atau dijadikan briket. Sementara teknologi pengolahan sampah yang akan digunakan oleh kedua TPST tersebut menggunakan teknologi dari dalam negeri.

"Sementara, untuk residu dari sampah tak terolah akan dibakar atau diproduksi menjadi briket. Harapan kita sudah tidak ada sampah yang tersisa karena semua bisa diolah," tambah Kustini.

Rencana jangka pendek lainnya yang sedang dioptimalkan adalah kinerja Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R, Transfer Depo dan Bank Sampah yang ada di seluruh Kalurahan. Saat ini berbagai tempat pengolahan sampah di atas sudah memproduksi berbagai macam kompos dari olahan sampah organik.

Kustini membeberkan proses tersebut masih belum bisa dilakukan maksimal dikarenakan sampah yang masuk ke dalam tempat pengolahan belum dipilah dengan baik .

Untuk itu, Kustini mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang berisi instruksi gerakan pilah sampah dari rumah. Melalui SE ini, Kustini meminta masyarakat untuk mulai memilih sampah menurut jenis sampah organik dan anorganik.

SE ini merupakan langkah jangka menengah dan panjang yang diambil untuk membumikan kesadaran masyarakat pentingnya pemilahan sampah dari tingkat hulu. Bahkan juga sudah disiapkan saksi tegas sesuai Perda No 5 Tahun 2014 kepada masyarakat yang tidak melakukan pemilahan sampah sebelum disalurkan ke depo transfer. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel