Begini Suasana Mencekam Penembakan Versi Bharada E

Merdeka.com - Merdeka.com - Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J tewas ditembak rekannya sesama ajudan. Penembak Richard Eliezer Pudihang Lumui alias Bharada E atas perintah dari atasannya bernama Ferdy Sambo.

Terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumui diperiksa di persidangan atas kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Sidang digelar di PN Jaksel, Kamis (5/1).

Dalam persidangan, Richard menceritakan, kronologi penembakan yang terjadi di Komplek Perumahan Polri Duren Tiga, Nomor 46 RT.05 RW. 01 Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, pada 8 Juli 2022.

Bharada E, Brigadir J, Kuat Maruf, Bripka Ricky Rizal Wibowo dan Putri Candrawathi menumpang sebuah mobil dari Rumah Pribadi Ferdy Sambo di Jalan Saguling III No.29, Duren Tiga, Jakarta Selatan menuju ke Komplek Perumahan Polri Duren Tiga, Nomor 46 RT.05 RW. 01 Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Dalam persidangan, Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santoso memfokuskan ke Bharada E. Wahyu setiba di rumah dinas (Rumdin) Eks Kadiv Propam Polri itu.

"Begitu saudara datang ke sana saudara langsung masuk ke dalam. Ke lantai 2 ke kamar," kata Wahyu.

"Langsung ke dalam Yang Mulia," ujar Bharada E.

"Kemudian suadara turun. Ketemu Ferdy Sambo kapan. Berapa lama," tanya Wahyu.

"Tidak lama," jawab Bharada E.

Wahyu menerangkan, sebagaimana pengamatan rekaman CCTV. Terlihat bahwasanya tak lebih dari 5 menit.

"Tidak lama saudara tiba saudara Ferdy Sambo tiba," ucap Wahyu.

"Siap Yang Mulia," jawab Bharada E

"Kemudian saudara bertemu Ferdy Sambo kapan," tanya Wahyu.

Bharada E menerangkan, waktu itu ia sedang berdoa di lantai 2. Terdengar suara di lantai bawah.

"Terus habis berdoa saya turun. Sampai ujung tangga ada pak Sambo di ujing tangga Yang Mulia," ucap Bharada E.

Bharada E mengatakan, Ferdy Sambo memintanya mengisi peluru.

"Langsung dia nanya ke saya 'sudah isi senjata mu'. Izin Yang Mulia, isi itu maksudnya kokang," ujar Bharada E.

"Saya bilang 'belum bapak. Terus kata Pak Sambo 'kau isi dulu'. Saya keluarkan senjata ssya saya kokang, baru saya masukin lagi di pinggang," Bharada E menambahkan.

Bharada E mengaku melihat Ferdy Sambo telah menengakan sarung tangan warga hitam.

"Sudah pakai sarung tangan hitam.
Sebentar sarung tangan hanya satu sisi saja ya sebelah kanan," tanya Wahyu.

"Sebelah kanan Yang Mulia," ujar Bharada E.

Bharada E menerangkan, Brigadir J langsung masuk ke dalam melalui samping.

"Masuk dari samping berarti melewati saudara dong," tanya Wahyu.

"Tidak Yang Mulia," ucap Bharada E.

Wahyu mengatakan, ia sudah mengecek langsung suasana Komplek Perumahan Polri Duren Tiga, Nomor 46 RT.05 RW. 01 Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

"Oh tidak karena kemarin ketika kami ke sana, berarti dia memutar meja tamu," Wahyu bertanya.

"Dia ditarik Yang Mulia sama Pak Sambo," jawab Bharada E.

"Oh ditarik, ditarik untuk suruh maju ke depan," ujar Wahyu.

"Betul Yang Mulia," jawab Bharada E.

"Oke pada saat itu langsung tanpa ada pembicaran itu," tanya Wahyu.

"Langsung," jawab Bharada E.

Wahyu kembali menceritakan temuan sewaktu meninjau lokasi tewasnya Brigadir J. Menurut dia, masih ada beberapa tanda dan bekas tembakan di beberapa sisi ruangan.

"Kemarin kami masih temukan apa yang digambarkan di BAP ini jadi masih ada bekas bekas silang di mana korban jatuh. Jarak suadara menembak tidak terlalu jauh sekira dua meter saya hitung," kata Wahyu.

"Betul," ujar Bharada E.

Wahyu meminta Bharada E menerangkan yang dilihat usai Brigadir J ditarik oleh Ferdy Sambo.

"Begitu korban ditarik sama Ferdy sambo apa yang disampaikan," ujar Wahyu.

Bharada E menerangkan, Brigadir J diminta untuk berlutut dengan posisi tangan kiri dan kanan saling berpegangan di depan.

"Sini kamu. langsung dorong ke depan 'kau berlutut berlutuy kamu'. Langsung berlutut Yang Mulia," ujar Bharada E.

"Berlutut diantara tangga dan pintu gudang," tanya Wahyu.

"Pas di depan tangga ya," jawab Bharada E.

Bharada E mengutarakan, Brigadir J tampak kebingungan. Ia bertanya-tanya ke Ferdy Sambo.

"Habis itu kan almarhum tanya ke Pak Sambo. 'Ada apa pak ada apa pak'. Begini tangan di depan," Bharada E menjelaskan ke Hakim.

Bharada E mengatakan, Ferdy Sambo menatap ke arahnya. Saat itu, posisinya dengan Ferdy Sambo bersebelahan

"Saya di samping kanan beliau, 'eh kau tembak, kau tembak cepat. Langsung saya keluarkan senpi Yang Mulia," ucap Bharada E.

"Saudara tembak," tanya Wahyu.

"Siap," jawab Bharada E.

"Saat saudara tembak apa yang ada di benak saudara saat itu," tanya Wahyu

"Saya tidak tau lagi Yang Mulia," kata Bharada E sembari mengeleng-gelengkan kepala.

Bharada E kemudian menjelaskan, dirinya memuntahkan tiga sampai empat peluru ke arah Brigadir J. Akibat tembakan itu, Brigadir J tersungkur. Sementara itu, Ferdy Sambo maju mendekati Brigadir J.

"Maju sudah pegang senjata api, menembak ke arah almarhum," ucap Bharada E.

"Pada saat Ferdy sambo menembak itu dia berdiri atau jongkok," tanya Hakim.

"Waktu maju kokang pas itu langsung berdiri," jawab Bharada E yang mengaku tak ingat berapa banyak peluru yang dilepaskan.

"Habis tu langsung jongkok di depan tangga persis. Kemudian menembak ke arah tangga atas. Ada sembat berhenti kemudian ke arah berlawanan atas TV langsung nembak lagi," sambung Bharada E.

Wahyu bertanya keberadaan Kuat Maruf dan Bripka Ricky Rizal Wibowo.

"Saat itu KM dan Ricky di mana," tanya Wahyu.

"Masuk sama almahum sama-sama," ujar Bharada E.

Bharada E melanjutkan Ferdy Sambo melepaskan peluru ke tembok ke arah berlawanan dengan senjata Brigadir J.

"Lalu Pak Sambo maju ke arah almarhum dikasih pegang senjata itu ke tangan almarhum. Ditembakan ke tembok," ucap Bharada E.

Bharada E menerangkan, Ferdy Sambo kemudian keluar. Saat itulah, ia meluapkan emosinya.

"Saat keluar dia teriak ke kita semua. 'Kalian tidak bisa jaga ibu. Baru pas ke arah Ricky juga Pak Sambo bilang 'kau cek itu handphonenya'.

Dalam kesempatan itu, Wahyu turut mengkorek latar belakang Bharada E.

"Saudara di kepolisian adalah dengan pangkat Bharada," tanya Wahu.

"Siap," jawab Bharada E.

"Di dalam pelatihan Saudara, Saudara hanya pelatihan bagaimana menjalankan perintah," tanya Wahyu.

"Siap. Betul," jawab Bharada E

"Di level pangkat Saudara hanya menjalankan perintah, tidak untuk menganalisa atau mengatur strategi," tanya Wahyu.

"Betul," jawab Wahyu.

Reporter: Ady Anugharadi
Sumber: Liputan6.com [eko]