BEI: Masih ada 18 perusahaan berencana melantai di bursa tahun ini

Kelik Dewanto
·Bacaan 1 menit

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih ada sebanyak 18 perusahaan yang berencana melantai di bursa pada sisa tahun ini.

Sampai dengan 6 November 2020, BEI telah mencatatkan sebanyak 135 penerbitan efek baru terdiri atas 46 saham, 89 obligasi atau sukuk, tujuh exchange traded fund (ETF), satu efek beragun aset (EBA). Selama kuartal IV 2020, sudah terdapat delapan emisi obligasi atau sukuk yang dicatatkan di bursa.

"Saat ini, masih terdapat 18 perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, Senin.

Baca juga: BEI perkenalkan platform perdagangan efek bersifat utang dan sukuk

Adapun rinciannya yakni tujuh perusahaan dari sektor perdagangan, jasa & investasi; tiga perusahaan dari sektor properti, real estate & konstruksi bangunan; dua perusahaan dari sektor industri barang konsumsi; dua perusahaan dari sektor aneka industri; dua perusahaan dari sektor pertanian; satu perusahaan dari sektor infrastruktur, utilitas & transportasi; serta satu perusahaan dari sektor keuangan.

Adapun 18 perusahaan tersebut masih menjalani proses evaluasi penawaran umum dan diperkirakan aksi IPO-nya akan terjadi pada November-Desember 2020.

Selain itu, terdapat sembilan penerbit yang akan menerbitkan 10 emisi obligasi atau sukuk yang berada dalam pipeline EBUS di BEI, dengan satu diantaranya merupakan calon perusahaan tercatat obligasi baru.

BEI telah melakukan soft launching sistem e-IPO pada 10 Agustus 2020 lalu dan BEI telah melakukan sosialisasi kepada seluruh anggota bursa (AB).

Hadirnya sistem e-IPO diharapkan dapat menjalankan proses IPO secara transparan, serta meningkatkan cakupan investor dan pemangku kepentingan lainnya, yang diharapkan akan semakin meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap pasar modal.

Baca juga: BEI: Jumlah ETF Indonesia terbanyak dibandingkan negara lain di ASEAN
Baca juga: BEI ingin perkuat basis investor saham syariah