BEI: Pembiayaan Marjin Naik hingga 10 Persen Tiap Bulan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pembiayaan margin turut naik sejalan dengan tren kenaikan transaksi saham di bursa. Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengungkapkan kenaikan pembiayaan marjin ini meningkat di rentang 8-10 persen tiap bulan.

“Rentangnya kurang lebih bertahan di angka sekitar 8 persen sampai 10 persen setiap bulannya relatif dibandingkan transaksi keseluruhan yang dilakukan oleh para investor ritel,” kata Hasan dalam siaran bertajuk Incar Cuan Investasi Saham, Pahami Risikonya, Selasa (23/3/2021).

Sebagai gambaran, pada Januari 2021, Hasan mengatakan, transaksi pembiayaan marjin rata-rata per harinya mencapai Rp 1,3 triliun. Dengan angka rata-rata transaksi keseluruhan investor ritel ada di angka Rp 14 triliun.

"Jadi proporsinya sekitar 9,5 persen pada saat itu," kata Hasan.

Untuk diketahui, fasilitas pembiayaan margin ini memungkinkan nasabah membeli saham melebihi dana yang dimiliki dengan menggunakan pembiayaan dari fasilitas pinjaman oleh sekuritas.

Hasan menuturkan, fasilitas ini cukup aman karena dijamin otoritas termasuk OJK melalui pemberlakuan ketentuan yang ketat.

"Pembiayaan margin ini hanya dapat diberikan untuk efek-efek yang terdaftar dalam daftar efek margin, yang daftarnya pun dikeluarkan dan diseleksi secara ketat oleh bursa setiap bulannya,” kata Hasan.

Adapun pertanyaan ini, menjawab fenomena banyaknya nasabah yang ikut-ikutan investasi hingga tak segan menggunakan uang panas hasil pinjol. Sayangnya, fasilitas pembiayaan marjin ini tidak ditujukan bagi investor baru. Hal ini mengingat proses seleksi yang ketat ,sehingga pembiayaan marjin bisa berjalan dengan baik.

"Jadi efek margin ini merupakan efek pilihan yang kami melihat kecukupan syarat kekuatan fundamentalnya, lalu likuiditas dan kewajaran transaksinya selama ini di pasar juga terjaga dan sebagainya. Sehingga kita harapkan kalau transaksi pembiayaan marjin ini cukup aman,” ujar Hasan.

Alasan Investor Investasi

Seorang pria mengambil gambar layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Seiring berjalannya perdangan, penguatan IHSG terus bertambah tebal hingga nyaris mencapai 1,50 persen.   (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Seorang pria mengambil gambar layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Seiring berjalannya perdangan, penguatan IHSG terus bertambah tebal hingga nyaris mencapai 1,50 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat lonjakan investor selama pandemi COVID-19 berlangsung tahun lalu. Sepanjang 2020, jumlah investor di Pasar Modal Indonesia yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksadana, mengalami peningkatan sebesar 56 persen mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID) sampai dengan 29 Desember 2020.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi menerangkan, kenaikan angka investor ini sejalan dengan munculnya kesadaran untuk berinvestasi di masyarakat.

Pada Oktober-November 2020, BEI melakukan survei dengan jumlah responden tidak kurang dari 1.222 investor yang berasal dari 30 kota di Indonesia. Dari angka ini, 42 persen di antaranya merupakan investor baru.

“Dari hasil survei itu kami mendapatkan konfirmasi jumlah investor individu di pasar modal selama masa pandemi ini sangat positif karena bersumber dari meningkatnya kesadaran berinvestasi di kalangan masyarakat kita,” kata Hasan dalam siaran bertajuk Incar Cuan Investasi Saham, Pahami Risikonya, Selasa (23/3/2021).

Mayoritas responden mengaku ingin memperoleh cuan dari investasi saham. “40,3 persen itu memang menyatakan ingin memperoleh capital gain atau cuan,” kata Hasan.

Kemudian 20,8 persen mengaku ingin mendapatkan penghasilan tambahan. Selanjutnya, yang mengharapkan deviden sebanyak 17,6 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini