Bejat, Tentara Myanmar Bubarkan Ibadah Warga Kristen di Gereja

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pasca kudeta militer yang terjadi di Myanmar Februari 2021 lalu, warga sipil di sejumlah wilayah kehilangan kebebasannya. Seperti warga Kristiani yang berada di Mohcin, Negara Bagian Kachin, yang menjadi sasaran penangkapan personel tentara Angkatan Bersenjata Myanmar (Tatmadaw).

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer yang dikutip The Irrawaddy, sejumlah personel militer Myanmar dari Komando Utara, mendatangi sebuah beberapa gereja untuk membubarkan ibadah.

Para tentara Myanmar mendatangi gereja Konvensi Baptis Kachin (KBC), gereja Asosiasi Katolik Roma, dan gereja Asosiasi Anglikan, yang berada di kota Mohcin.

Tak hanya membubarkan paksa ibadah, para tentara Myanmar juga menangkap sejumlah warga. Di bawah komando pemerintah junta militer Myanmar, aktivitas ibadah gereja dilarang. Militer Myanmar bahkan menganggap prosesi ibadah di gereja sebagai aktivitas ilegal.

"Ini adalah situs religi yang berbagi ajaran Kristen. Jika mereka ingin menelusuri, mereka harus meminta persetujuan dari para pemimpin agama. Sebaliknya, personel yang memegang senjata tba seperti sedang melakukan operasi militer," ujar Pendeta Awng Seng.

"Itu tidak bisa diterima dan saya sangat mengutuknya. Jika mereka berperilaku seperti ini di tanah agama, kami tidak bisa membayangkan bagaiman mereka berperilaku di rumah orang. Tidak ada tempat aman," katanya.

Presiden Konvensi Baptis Kachin, Hkalam Samson, mengungkap bahwa para umat Kristen di gerejanya dibubarkan paksa di bawah todongan senjata.

Hkalam sangat mengutuk tindakan para tentara Myanmar itu. Sebab menurutnya, gerja adalah tempat beribadah dan bukan tempat melancarkan demonstrasi anti-pemerintah junta militer.

"Tempat keagamaan itu sakral. Belum lagi, Tuhan tidak suka di-bully dengan senapan dan sempatu bot di tempat suci. Kami asosiasi agama selalu memberitakan kebenaran," ucap Hkalam.

"Budha, Hindu, dan Muslim, melakukan hal yang sama. Karena organisasi agama selalu memberitakan kebenaran, mencari bangunan keagamaan itu mengerikan. Pencarian menggunakan kekuatan yang tidak perlu, adalah tanda-tanda kediktatoran," katanya.