Belajar bareng di ekosistem hutan Taman Eko Rimba Kuala Lumpur

Jarum di jam tangan sudah mendekati angka 12, teriknya Matahari semakin terasa, menembus awan yang sedikit tebal pada Minggu (30-10) siang di atas Perdana Botanical Garden, Kuala Lumpur.

Ibu Yanti, sapaan dosen dari Universitas Muhammadiyah (UM) Jambi Sri Muryati Asropi, meminta beberapa anak dari Sanggar Bimbingan dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Muhammadiyah di Kampung Baru untuk berkumpul di bawah pohon palem yang sebagian pelepahnya sudah tampak mengering.

Ia duduk di bawah pohon bersama Sendy Permana, mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jambi, dan Octavia Handayani, mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Jakarta yang sedang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Malaysia, sambil menunggu anak-anak berkumpul.

Ada 42 anak sanggar bimbingan TPA yang turut serta dalam kegiatan hari itu. Saat itu, semuanya telanjur berhamburan begitu melihat berbagai macam fasilitas permainan setelah masuk ke kebun raya yang memiliki luas sekitar 91,6 hektare (ha) itu.

Bukan perkara mudah tentu mengumpulkan anak-anak usia taman kanak-kanak hingga kelas enam sekolah dasar yang sedang asyik bermain, sekalipun udara terasa makin panas siang itu, suhu kisaran 30 derajat Celsius.

“Ayo, Nak sini kita kumpul dulu, duduk di sini. Kalian capek, kan tadi sudah jalan di hutan,” kata Yanti, yang justru dijawab “tidak” oleh beberapa anak.

Murid-murid dan orang tua murid dari Sanggar Bimbingan dan Taman Pendidikan Al Qur'an di Kampung Baru menjelajahi hutan di Taman Eko Rimba Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P. Setyorini
Murid-murid dan orang tua murid dari Sanggar Bimbingan dan Taman Pendidikan Al Qur'an di Kampung Baru menjelajahi hutan di Taman Eko Rimba Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P. Setyorini


Seperti baterai yang baru diisi daya, tenaga anak-anak itu, “Enggak ada matinye”, kata orang Betawi.

Setelah akhirnya semua anak berkumpul, barulah dosen Fakultas Kehutanan itu memulai sesi dialog dengan mereka, mengulas lagi apa yang sudah mereka lakukan dan lihat saat menjelajah Taman Eko Rimba Kuala Lumpur pagi tadi.

Ia menanyakan bagian-bagian apa saja yang mereka lihat ada pada satu pohon. Lalu menjelaskan fungsi dari akar, batang, buah, bunga, hingga daun, dan bagaimana keberadaan pohon begitu berharga karena menghasilkan oksigen sangat diperlukan makhluk hidup.

Lalu juga menjelaskan betapa berharga sebuah ekosistem hutan yang menjadi tempat hidup berbagai makhluk hidup, tumbuhan, maupun hewan.

Yanti meminta anak-anak menyebutkan kembali apa yang mereka lihat dan temui saat menjelajahi hutan kota tersebut. Bagi anak-anak di kelas empat hingga enam sekolah dasar, mereka diminta menuliskan dalam cerita pendek.

Sementara itu, untuk anak-anak di usia yang lebih muda, ia mengajak bernyanyi bersama, lagu-lagu anak yang biasa dinyanyikan di Indonesia. Ada pula yang membacakan teks Sumpah Pemuda.

Dosen Universitas Muhammadiyah Jambi Sri Muryati Asropi memberi penjelasan tentang ekosistem hutan pada murid-murid di Sanggar Bimbingan Kampung Baru di Perdana Botanical Garden, Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P Setyorini
Dosen Universitas Muhammadiyah Jambi Sri Muryati Asropi memberi penjelasan tentang ekosistem hutan pada murid-murid di Sanggar Bimbingan Kampung Baru di Perdana Botanical Garden, Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P Setyorini

Menjelajah hutan kota

Pagi hari, sekitar pukul 10.00 waktu Kuala Lumpur, bersama beberapa orang tua dan guru serta didampingi Ibu Yanti dan dua mahasiswa KKN, 42 anak dari sanggar bimbingan dan TPA tersebut menjelajahi Taman Eko Rimba Kuala Lumpur yang berada di Bukit Nanas.

Mereka mendapat kesempatan berjalan di antara kanopi berbagai jenis pohon dengan beragam ketinggian serta melewati beberapa jembatan gantung sepanjang sekitar 200 meter, sebelum menuruni puluhan anak tangga.

Karena berada di tengah kota maka di sela-sela pepohonan akan tampak gedung-gedung pencakar langit dan juga KL Tower pada satu sisi.

Burung dan monyet menjadi dua dari beberapa satwa yang ada di sana selain berbagai jenis serangga. Menurut salah seorang staf Taman Eko Rimba, kawanan monyet biasanya hanya akan datang pada pagi dan sore hari, saat pihak pengelola menyiapkan makanan untuk mereka.

Pada sisi lain hutan, anak-anak bersama orang tua menjelajah masuk ke dalam hutan melewati jalur setapak yang tersedia. Sesuai dengan nama lokasinya yakni Bukit Nanas, maka kontur hutan di beberapa sisi cukup terjal sehingga pengelola memberi kemudahan dengan membuatkan tangga.

Dosen Universitas Muhammadiyah Jambi Sri Muryati Asropi memberi penjelasan tentang ekosistem hutan pada murid-murid di Sanggar Bimbingan Kampung Baru di Perdana Botanical Garden, Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P Setyorini
Dosen Universitas Muhammadiyah Jambi Sri Muryati Asropi memberi penjelasan tentang ekosistem hutan pada murid-murid di Sanggar Bimbingan Kampung Baru di Perdana Botanical Garden, Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P Setyorini

Taman Eko Rimba Kuala Lumpur merupakan hutan dipterokarpa bukit dengan ketinggian 300-750 meter di atas permukaan laut. Jenis hutan tersebut memang mendominasi di Semenanjung Malaysia dan cukup membuat orang berpeluh saat menjelajahinya.

Beberapa pohon yang biasa tumbuh di jenis hutan tersebut yakni damar hitam siput jantan atau juga biasa di sebut pohon seraya, keruing, dan meranti.

Butuh waktu 45 menit untuk menjelajahi seluruh sudut hutan di tengah Kota Kuala Lumpur tersebut. Namun, sekarang ini ada beberapa bagian yang ditutup karena terjadi longsor sehingga hanya sekitar 30 menit saja wilayah jelajah pengunjung, ujar staf Taman Eko Rimba.

Beberapa anak maupun orang tua mengaku baru pertama mendatangi hutan tersebut.

Karena harus bergegas berpindah ke lokasi berikutnya maka rombongan anak dari Sanggar Bimbingan dan TPA di Kampung Baru memutuskan memotong jalur dengan menaiki puluhan anak tangga yang lumayan terjal.

Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Yanti bersama Sendy dan Octa berada di Malaysia untuk mengikuti Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah.

Jika Yanti hanya beberapa hari, Sendy dan Octa akan lebih lama, 24 Oktober hingga 21 November 2022, melaksanakan KKN Pendidikan di Sanggar Bimbingan Kampung Baru dan Sanggar Bimbingan Subang Mewah.

Tugasnya selain membimbing anak-anak, juga menerapkan ilmu yang sudah mereka peroleh di bangku kuliah sejauh ini.

Murid-murid dari Sanggar Bimbingan Kampung Baru retat sejenak di Tugu Negara, Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P Setyorini
Murid-murid dari Sanggar Bimbingan Kampung Baru retat sejenak di Tugu Negara, Kuala Lumpur, Minggu (30-10-2022). ANTARA/Virna P Setyorini

Berbincang saat berada di Perdana Botanical Garden, Octa mengatakan ilmu manajemen yang dimilikinya bisa membantu pendataan dan verifikasi murid-murid di Sanggar Bimbingan Kampung Baru. Data murid yang terverifikasi dengan baik sangat dibutuhkan, salah satunya untuk diserahkan ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Sekitar 70 persen data itu sudah dapat dibenahi. Sisanya memang menjadi tantangan tersendiri karena berkaitan dengan kelengkapan dokumen murid dan orang tua murid.

Kepala Taman Pendidikan Al Qur’an Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah dan Aisyiyah (PRIMA) Kampung Baru Mintarsih Warijan mengatakan kegiatan ke lapangan memang sengaja mereka lakukan agar anak-anak tidak bosan hanya belajar di dalam ruangan.

Dan, kebetulan ada Program Pengabdian Kepada Masyarakat Kemitraan Internasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah yang mana dosen dan mahasiswa dari Indonesia yang melaksanakan KKN bergantian di Malaysia. Ini sangat membantu dalam menjalankan berbagai program-program mengajar.

Ada sekitar 35 sanggar bimbingan yang dikelola dan dijalankan oleh beberapa organisasi masyarakat Indonesia yang ada di Semenanjung Malaysia. Sanggar-sanggar tersebut menginduk ke SIKL.

Tentu tidak sama seperti sekolah pada umumnya. Sanggar-sanggar bimbingan yang semakin bertambah di Semenanjung memberi secercah harapan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia yang memiliki akses terbatas memperoleh pendidikan formal.