Belajar dari Bulog dalam memperkuat lumbung pangan

Awan mendung masih menggantung kuat saat seorang pria berpakaian formal datang berkunjung ke pabrik penggilingan padi modern atau modern rice milling plant (MRMP) yang diklaim mampu menghasilkan beras kualitas premium di Kendal, Jawa Tengah.

Dia adalah Budi Waseso, seorang purnawirawan Polri yang mengemban tugas sebagai Direktur Utama Bulog terhitung sejak April 2018 lalu.

Dengan mengenakan setelan kemeja putih lengan panjang, celana bahan, dan sepatu kulit, ia melangkahkan kaki melihat mesin penggilingan gabah modern. Di sana tampak lima pekerja mengenakan jaket oranye dengan rompi hijau sedang memindahkan gabah dari dalam truk, lalu memasukkannya ke dalam mesin penggilingan untuk diolah menjadi beras.

Budi bercerita selama ini gudang yang Bulog miliki masih tergolong konvensional dengan kemampuan penyimpanan hanya sekitar 1.300 ton, sehingga jika gudang-gudang itu dipakai untuk menyimpan beras akan mempercepat penurunan mutu.

Menurutnya, gudang konvensional adalah benang merah dari imej beras Bulog yang mendapat cap kurang bagus dari mata masyarakat.

"Berangkat dari kondisi itulah, kami lantas membangun pabrik modern MRMP di banyak daerah," kata Budi Waseso di Kendal, Jawa Tengah, pada Kamis (21/7) petang.

Saat ini, Bulog telah memiliki produk beras kualitas premium dengan merek dagang Tanak, Uenak, Befood, Slyp Super, Befood Setra Ramos, dan Pulen Wangi yang dijual tak hanya ke pasar-pasar tradisional, tetapi juga pasar modern dan digital.

Budi optimistis Bulog akan menguasai pasar beras nasional melalui pembangunan infrastruktur pengolahan beras modern MRMP di berbagai daerah sentra produksi padi Indonesia.
Baca juga: KSP bersama pakar bahas inovasi produksi padi antisipasi krisis pangan

Mengenal MRMP

Strategi memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang terus bertambah tidak cukup dengan hanya melipatgandakan produksi pangan semata, tetapi juga memperkuat lumbung melalui pemanfaatan teknologi terbaru untuk menghasilkan produk pangan berkualitas.

Pembangunan infrastruktur MRMP merupakan strategi Bulog untuk membantu petani dan menyederhanakan alur proses pengolahan beras yang terpusat dalam fasilitas pengolahan gabah hasil panen berbasis teknologi modern yang terdiri dari mesin pengering serta unit penggilingan padi sebagai mesin konversi gabah menjadi beras dengan dilengkapi teknologi penyortir warna.

MRMP berfungsi untuk menurunkan susut pascapanen, meningkatkan kuantitas serapan gabah, dan meningkatkan hasil panen gabah.

Bulog menyimpan gabah di dalam silo, yakni struktur yang digunakan untuk menyimpan bahan curah. Gabah baru akan diolah menjadi beras jika dibutuhkan, seperti untuk kondisi darurat bencana, sehingga beras yang disalurkan kepada masyarakat masih terjamin mutu dan kualitasnya.

Saat ini, lokasi MRMP terletak di Kendal dan Sragen di Jawa Tengah; Bojonegoro, Magetan, Jember, dan Banyuwangi di Jawa Timur; Subang dan Karawang di Jawa Barat; Bandar Lampung di Lampung; Sumbawa di Nusa Tenggara Barat.

Sebanyak 10 pabrik MRMP itu memiliki kapasitas dryer sebanyak 288 ribu ton gabah kering panen per tahun, milling sebanyak 115.200 ton gabah kering giling per tahun, dan silo sebanyak 60 ribu ton.

Bulog berencana akan membangun tiga unit MRMP tambahan, yakni satu unit MRMP di Dompu, Nusa Tenggara Barat dan dua unit lainnya sedang memasuki tahap studi kelayakan di Sulawesi Selatan.

Dana yang dipakai dalam pembangunan 13 MRMP itu berasal dari Penyertaan Modal Negara (PNM) sebesar Rp2 triliun. PNM tersebut sudah diberikan sejak tahun 2016 lalu.

Fasilitas MRMP yang kini dimiliki Bulog telah membangkitkan optimisme Indonesia untuk swasembada pangan dan tidak lagi mengandalkan mengimpor beras dari luar negeri.

Manajer Operasi MRMP Kendal Mochamad Aziz Latif mengatakan fasilitas terbaru MRMP telah menerapkan konsep ekonomi sirkular yang mengoptimalkan sumber daya hingga pemanfaatan limbah.

MRMP Kendal ini dilengkapi dengan mesin pengering berkapasitas 120 ton per hari, unit penggilingan berkapasitas enam ton per jam, dan tiga unit silo berkapasitas simpan 2.000 ton.

"Dari gabah sampai menjadi beras, kami menghasilkan produk sampingan, seperti sekam kisaran 18 sampai 20 persen, dedak sekitar 8 sampai 10 persen, dan menir (patahan butir beras) sekitar 0,5 sampai 1 persen," jelas Aziz.

Bulog menggunakan sekam sebagai bahan bakar untuk mengeringkan gabah dan hasil dari sekam bakar itu dijadikan pupuk untuk meningkatkan kesuburan lahan persawahan.

Penerapan ekonomi sirkular merupakan langkah Bulog dalam mendorong keberlanjutan bisnis dengan menghasilkan produk pangan hijau yang kini telah menjadi tuntutan global dengan pendekatan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta Environment, Social, and Governance (ESG).
Baca juga: Mentan RI ajak negara G20 bangun pertanian berkelanjutan

Direktur Utama Bulog Budi Waseso memeriksa kualitas beras pada infrastruktur pengolahan beras modern atau modern rice milling plant (MRMP) di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2022). ANTARA/Sugiharto Purnama/aa.
Direktur Utama Bulog Budi Waseso memeriksa kualitas beras pada infrastruktur pengolahan beras modern atau modern rice milling plant (MRMP) di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2022). ANTARA/Sugiharto Purnama/aa.

Inventaris padi lokal

Sebagai lembaga pangan pelat merah yang mengurusi tata niaga beras, Bulog sedang menginventarisasi beragam varietas padi lokal yang tumbuh di daerah tertentu dari mulai Aceh sampai Papua.

Varietas padi lokal itu disulap menjadi beras premium yang diminati oleh konsumen. Program ini merupakan upaya Bulog untuk memperkuat produk beras komersial yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dan membangun kembali kejayaan Bulog dalam bidang pangan.

Meski rata-rata usia tanam varietas padi lokal berlangsung selama enam sampai tujuh bulan yang membuat biaya produksi menjadi mahal, namun kondisi itu bukan menjadi masalah bagi Bulog karena nilai jual beras lokal juga tinggi.

Sebagai contoh, beras Solok dengan merek dagang Anak Daro yang diproduksi Bulog Divre Sumatera Barat diminati para konsumen yang didominasi masyarakat Minang.

Bulog membeli gabah padi lokal sekitar Rp6 ribu per kilogram, lalu diolah menjadi beras premium dan dikemas yang membuat harga berasnya tembus Rp14 ribu sampai Rp16 ribu per kilogram.

Inventaris padi lokal adalah cara Bulog dalam mempertahankan eksistensi varietas padi lokal sebagai warisan leluhur agar terus dibudidayakan oleh para petani. Harga padi lokal yang lebih mahal dibandingkan padi biasa diharapkan bisa mendongkrak kesejahteraan petani sebagai garda terdepan dalam penyediaan beras nasional.

Apalagi, telah diketahui bahwa saat ini terdapat ancaman krisis pangan dunia akibat perubahan iklim, pandemi COVID-19, dan konflik geopolitik antara Rusia dengan Ukraina perlu disikapi dengan menggalakkan gerakan diversifikasi pangan di Indonesia.

Bulog mendorong gerakan diversifikasi pangan untuk menciptakan kemandirian pangan dengan menitikberatkan kepada komoditas pangan lain, seperti jagung, umbi-umbian, dan sagu.

Pada 15 Desember 2020 lalu, Bulog bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) meluncurkan produk beras singkong dengan merek dagang Besita.

Besita merupakan beras dari olahan singkong produksi petani Indonesia yang kaya serat, bebas gluten, dan rendah lemak. Produk itu hadir sebagai diversifikasi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian masyarakat mengingat Indonesia memiliki lahan singkong terbesar di dunia.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso menegaskan agar ketergantungan dengan beras dapat dikurangi dengan melakukan diversifikasi, karena berarti bila panen beras gagal maka terdapat penggantinya antara lain berupa pangan singkong, jagung atau sagu.

Untuk itu, Dirut Bulog menekankan pentingnya menggalakkan produksi pangan lokal seperti sagu di Papua, sehingga ke depannya juga bangsa Indonesia tidak usah takut kekurangan pangan karena tidak lagi ketergantungan terhadap pangan impor.

Saat ini, Bulog terus bertransformasi agar optimal berkontribusi dan menjadi kekuatan dalam memitigasi krisis pangan. Pemanfaatan teknologi terbaru melalui MRMP, pengembangan padi lokal, dan diversifikasi sumber-sumber karbohidrat adalah harapan bagi ketahanan pangan Republik Indonesia.

Baca juga: Mendes PDTT minta desa maksimalkan Dana Desa untuk ketahanan pangan

Pegawai Perusahaan Umum Bulog bersiap memasuki penampungan gabah (Silo) di Sentra Penggilingan Padi atau Modern Rice Milling Plant (MRMP) di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Pegawai Perusahaan Umum Bulog bersiap memasuki penampungan gabah (Silo) di Sentra Penggilingan Padi atau Modern Rice Milling Plant (MRMP) di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel