Belajar dari Bung Karno, Jalan Kaki Blitar - Tulungagung Demi Berantas Buta Aksara

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Blitar - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI melalui UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno terus bergerak menginternalisasikan pemikiran Bung Karno dari semua komponen yang menjadi dasar dan haluan negara. Selain itu, upaya ini dilakukan agar cita-cita mulia Proklamator untuk mengantarkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur bisa tercapai.

"Kalau di dalam bukunya, Sukarno adalah penyambung lidah rakyat, mari kita menjadi penyambung lidah Bung Karno untuk menyampaikan betapa cita-cita beliau mulia untuk bangsa ini," ujar Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, dalam webinar Bung Karno dan Literasi Pancasila 'Menggali Pemikiran, Membumikan Pancasila', Rabu (10/3/2021).

Menurutnya, masyarakat Indonesia perlu memahami bahwa Pancasila yang telah dirumuskan Bung Karno merupakan salah satu dasar negara yang paling sempurna di atas muka bumi ini. Pasalnya, Pancasila mencakup seluruh sendi kehidupan manusia.

Perpusnas bersama seluruh jajarannya, termasuk UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno maupun UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, punya tugas memastikan seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati filosofi dari dasar negara ini, yakni mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Untuk itu, bicara mengenai literasi tentunya akan berbeda dengan versi literasi pada 75 tahun silam.

Dijelaskan, pada awal kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika Presiden Sukarno mendeklarasikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebanyak 98 persen penduduk Indonesia tidak bica membaca. Dengan anggaran pendidikan yang sangat minim, Sukarno harus turun langsung bahkan pernah berjalan kaki dari Blitar ke Tulungagung untuk memastikan pemberantasan buta aksara bisa berjalan dengan baik.

"Pada saat itu literasi hanya sebatas kemampuan mengenal kata, kemampuan mengenal kalimat, dan menyatakan hubungan sebab akibat," ungkapnya.

Namun kondisi berbeda pada masa saat ini, di mana sebanyak 96 persen penduduk Indonesia sudah melek huruf, ditambah dukungan anggaran pendidikan yang cukup besar. Karenanya, di makna literasi pun harus mengalami perubahan sehingga guna mewujudkan SDM unggul.

"Literasi yang mau kita bangun saat ini, salah satunya kemampuan aksestabilitas terhadap sumber bahan bacaan terbaru, kemudian kemampuan memahami yang tersirat dari yang tersurat, mengemukakan ide, teori, kreativitas dan inovasi baru serta mampu menciptakan barang dan jasa bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global," bebernya.

Pemikiran Bung Karno

Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif mengatakan, Pancasila merupakan hasil proses penggalian penemuan diri sejarah yang merentang panjang, mulai dari periode pembibitan, perumusan hingga pengesahan. Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dikatakan, Sukarno mulai memikirkan Pancasila sejak usia 17 tahun.

"Pancasila menjadi suatu yang sangat fundamental, karena Pancasila menampilkan keragaman Indonesia," kata Yudi Latif.

Siapa saja yang ingin memimpin Indonesia, katanya, atau menjadi warga negara Indonesia yang baik, harus memiliki keluasan mental dan kekayaan rohani seluas Indonesia. Sehingga memahami nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menjadi penting.

Sementara itu, Ketua Yayasan Generasi Lintas Budaya Olivia Zalianty menilai sosok Bung Karno merupakan tokoh yang memiliki gaya berpikir yang cerdas, strategis, tepat waktu, dan ruang. Aktris monolog Aku dan Soekarno tersebut mengagumi kecerdasan Bung Karno yang dapat mengkristalisasikan idelogi-ideologi dunia menjadi satu ideologi yang mengikat dunia yaitu Pancasila.

Salah satu bentuk ilustrasi itu adalah humanity atau kemanusiaan. Kemanusiaan ini memiliki suatu adab atau morality. Bung Karno pernah mengatakan kepribadian yang berkebudayaan, hal ini yang seharusnya menjadi pegangan hidup manusia untuk bisa lebih bersikap.

"Dengan mempelajari pemikiran Bung Karno sama seperti aku lebih mempelajari lagi atau mengenali Indonesia," pungkasnya.

Simak juga video pilihan berikut ini: