Belajar dari Kudus untuk Kendalikan Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia tengah mengalami tren positif dalam perkembangan kasus Covid-19. Karena sifatnya masih fluktuatif, maka penting untuk melakukan evaluasi serta belajar dari pengalaman yang ada, salah satunya melalui penanganan di Kudus.

Diketahui salah satu Kabupaten di Jawa Tengah tersebut sempat menjadi perhatian publik terkait lonjakan kasus Covid-19 yang pernah mengalami lonjakan hingga 30 kali lipat dalam waktu sepekan.

"Sekarang situasi kasus Covid-19 di Kudus sudah sangat landai, dengan penerapan PPKM Level 2,"kata Bupati Kudus, Hartopo dalam dialog virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9)-KPCPEN bertajuk 'Dialog Semangat Selasa', Selasa (31/08/2021).

Dia mengakui jika lonjakan kasus pada pertengahan Juni 2021 lalu dipicu oleh mobilitas masyarakat yang tinggi dalam rangka menjalankan tradisi hari raya. Namun begitu, respon pemerintah kabupaten, cepat.

Beberapa kunci pengendalian yang dapat dipelajari antara lain adalah penguatan testing, tracing, treatment (3T), termasuk penyediaan isolasi terpusat di kabupaten dan desa agar tidak terjadi klaster keluarga. Kudus juga mengaktifkan sistem kolaborasi jogo tonggo (menjaga tetangga) dengan melibatkan relawan, pokdarwis, karang taruna, PKK.

"Dalam jogo tonggo, yang sehat membantu yang sakit, yang kaya membantu yang miskin. Selain itu, kami selalu melakukan update data mulai dari zonasi terkecil, yaitu dari tingkat RT. Dengan demikian, kami bisa saling memantau dan bila ada masalah segera tertangani," kata Hartopo.

Percepat Vaksinasi

Upaya lain dalam mengendalikan kasus Covid-19 adalah menggenjot percepatan vaksinasi dengan bersinergi bersama pihak swasta, aparat, dan masyarakat. Saat ini, cakupan vaksinasi di Kudus adalah 24% untuk dosis 1 dan 20 persen untuk dosis lengkap.

Terkait distribusi vaksin ke daerah, saat yang sama Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pembagian vaksin dilakukan dengan banyak pertimbangan, di antaranya jumlah penduduk, laju penularan, serta varian virus yang beredar.

Pemerintah berkomitmen, ketersediaan vaksin akan terus ditingkatkan. Melalui koordinasi dengan daerah, pembagian sasaran dan prioritas vaksin juga diatur dengan cermat.

Mengenai proteksi kondisi Tenaga Kesehatan (Nakes) di Kudus pada saat lonjakan kasus, Nadia menegaskan bahwa mereka telah 100 persen mendapatkan suntikan vaksin. 90 persen Nakes dengan kasuspositif di Kudus saat itu, tidak memiliki gejala berat dan sekarang sudah beraktivitas kembali.

Bagi mereka, pemerintah juga menyiapkan vaksin booster sebagai perlindungan tambahan.

Nadia juga menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan pengawasan protokol kesehatan (Prokes) untuk memastikan keamanan masyarakat dalam aktivitas publik. Salah satunya, melalui aplikasi PeduliLindungi yang diharapkan kelak dapat berguna untuk mengontrol kapasitas ruang publik dan memastikan masyarakat menjaga jarak.

Sementara Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS UNS Surakarta, dr. Tonang Dwi Ardyanto memaparkan beberapa hal yang menjadi pelajaran dari peristiwa di Kudus, bahwa lonjakan kasusCovid-19 bisa terjadi di kota kecil tanpa akses transportasi besar seperti bandara atau pelabuhan.

Selain percepatan vaksinasi, menurut dr. Tonang penguatan testing dan tracing juga harus selalu dijaga kendati jumlah kasus sedang tidak tinggi. Tujuannya, agar perkembangan kasus dapatterdeteksi lebih dini sehingga segera tertangani.

dr. Tonang pun menyatakan jika kemajuan penanganan Covid-19 di Indonesia wajib disyukuri. "Sebagai wujud rasa syukur, kita harus dapat belajar dari pengalaman yang lalu, agar tidak terjadilagi," kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel