Belajar dari Olimpiade Tokyo 2020, KONI Terapkan Sistem 'Bubble' di PON XX Papua

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum KONI Pusat Letnan Jenderal TNI (Purn.) Marciano Norman memastikan pihaknya bakal memberlakukan sistem bubble dalam pelaksanaan PON XX Papua yang bergulir mulai 2–15 Oktober mendatang. Keputusan tersebut diambil menyusul keberhasilan Jepang dalam menyelenggarakan Olimpiade Tokyo 2020.

Dalam konferensi pers virtual yang membahas persiapan penerapan protokol kesehatan COVID-19 di PON Papua, Marciano Norman menjelaskan bahwa para atlet nantinya hanya boleh melakukan mobilisasi dari bandara menuju athlete village, serta dari athlete village menuju lokasi pertandingan atau latihan.

“Setelah sampai di Papua, akan diberlakukan sistem bubble, di mana para atlet akan berangkat dari bandara menuju athlete village, lalu (dari athlete village) menuju venue untuk berlatih atau bertanding, dan kembali ke athlete village,” ujar Ketua Umum KONI Pusat pada Rabu (15/9/2021).

Ketentuan tersebut sejalan dengan protokol yang diterapkan di Olimpiade Tokyo 2020. Adapun, para atlet Olimpiade kala itu hanya boleh pergi ke athlete village menggunkan kendraan yang tersedia serta dilarang berkontak dengan atlet dari negara lain pada hari kedatangan awal.

Akan tetapi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang Ir. Heri Akhmadi–yang telah menyaksikan penerapan protokol di Olimpade Tokyo 2020–mengungkapkan bahwa sistem bubble berpotensi membuat para atlet merasa stres. Oleh sebab itu, KONI disarankan untuk menyiapkan psikiater atau psikolog guna memberi pendampingan bagi para atlet yang berlaga.

“Sesungguhnya dalam lingkungan yang bubble ini, para atlet sangat stres sehingga pada dasarnya, (mereka) akan membutuhkan pendampingan dari psikiater atau psikolog,” papar Heri Akhmadi dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/9/2021).

Penerapan Protokol Ketat

Vaksinasi Covid-19 akan diberikan kepada seluruh Atlet yang akan bertanding dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua mendatang. (Foto: Dok. Kemenpora)
Vaksinasi Covid-19 akan diberikan kepada seluruh Atlet yang akan bertanding dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua mendatang. (Foto: Dok. Kemenpora)

Selain menerapkan sistem bubble, Marciano Norman juga mengeklaim bahwa pihaknya akan memastikan protokol kesehatan diberlakukan secara ketat selama penyelenggaran PON XX Papua pada Oktober mendatang.

Oleh karena itu, seluruh atlet yang berlaga di PON harus sudah menerima vaksin. Mereka juga diwajibkan menjalani karantina selama beberapa hari jelang keberangkatan ke Papua. Tak berhenti sampai di situ, para atlet wajib melakukan tes PCR pada waktu-waktu yang ditentukan.

Terkait hal ini, Heri Akhmadi menyarankan agar KONI bersama Satgas dapat meningkatkan kualitas sarana tes COVID-19 guna meminimalisasi tekanan yang diterima para atlet selama berlaga di PON XX Papua.

“Kualitas tes (COVID-19) juga harus diperhatikan. Di Tokyo misalnya, (tes COVID-19) dilakukan dengan menggunkan saliva, hasilnya lebih cepat dan tidak terlalu menyiksa bagi atlet. Kalau positif, panitia juga menyiapkan tempat isoman khusus di hotel-hotel, jadi tidak langsung ke rumah sakit,” tuturnya.

Diselenggarakan dengan Penonton

Venue PON XX di Papua. (Dok Kementerian PUPR)
Venue PON XX di Papua. (Dok Kementerian PUPR)

Meski banyak mengambil pelajaran dari Olimpiade Tokyo 2020, PON XX Papua rupanya memberanikan diri untuk menggelar pertandingan dengan penonton. Hal ini berbeda dari pelaksanaan Olimpiade Tokyo yang tidak dihadiri oleh penonton sama sekali.

“Masyarakat Papua itu tidak hanya ketempatan (menjadi lokasi penyelenggaraan PON XX Papua), tetapi juga berkesempatan untuk menyaksikan (pertandingan),” tegas Marciano Norman dalam kesempatan yang sama.

Oleh sebab itu, pihak penyelenggara nantinya akan bekerja sama dengan para relawan untuk menyeleksi kesiapan penonton yang akan masuk ke venue pertandingan. Tiap penonton kabarnya akan melakukan scan barcode melalui aplikasi guna memastikan kelayakan mereka.

Penerapan Kedisiplinan

Terlepas dari ketatnya protokol yang telah disiapkan oleh pihak penyelenggara, Heri Akhmadi masih menggarisbawahi pentingnya penerapan kedisiplinan selama penyelenggaraan PON di tengah pandemi.

Menurutnya, KONI harus berani memberi sanksi pemulangan hingga diskualifikasi bagi atlet yang abai pada protokol kesehatan. Hal ini diyakini dapat menekan potensi pelanggaran protokol oleh para atlet selama festival olahraga berlangsung.

Penulis: Melinda Indrasari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel