Belajar dari Vaksinasi MR di Jatim, Masyarakat Perlu Edukasi dan Pencegahan KIPI

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Program vaksinasi guna melindungi hingga eliminasi suatu penyakit menular kerap terbentur kultur dan keyakinan masyarakat. Hal itu menjadi tantangan yang harus dihadapi para tenaga kesehatan dalam melakukan vaksinasi. Padahal vaksin merupakan aset paling ampuh untuk menghadapi penyakit infeksi agar tak terjadi epidemi hingga pandemi.

Seperti yang terjadi di Jawa Timur beberapa waktu lalu sebelum vaksin MR berhasil diberikan untuk melindungi masyarakat dari campak dan rubella.

"Kadang kala, kita tidak bisa edukasi langsung ke masyarakat, tapi dengan pendekatan kultural. Jadi kita merapat kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, para pimpinan wilayah, kemungkinan berikan pemahaman dulu pada tokoh-tokoh tersebut. Kemudian mereka akan berikan sosialisasi, pemahaman ke masyarakat,” ungkap Direktur RSSA Malang dan Ketua Tim Tracing gugus tugas COVID-19 Jatim Dr dr Kohar Hari Santoso dalam dialog produktif dengan tema “Belajar dari Sukses Vaksin MR di Jawa Timur dan Peran Media dalam Vaksinasi” di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (17/11/2020).

Menurutnya, yang harus dilakukan tak hanya berhenti pada edukasi vaksin, melainkan masyarakat juga harus mendapat penjelasan yang cukup mengenai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang bisa terjadi usai vaksinasi.

"Kita sudah siapkan tim, ahli-ahlinya, para dokter untuk antisipasi kalau ada efek samping, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Itu kita sudah siapkan."

Pencegahan KIPI

KIPI bukanlah hal yang menakutkan karena umumnya bersifat ringan. Namun, pencegahan guna mengurangi risiko kejadian ikutan ini tetap harus dilakukan.

“Sebelum disuntikkan (vaksin), yang bersangkutan harus kita periksa dulu, apakah kondisinya cukup fit, cukup sehat. Sehingga kalau kita suntikkan vaksin, bisa tumbuh daya tahannya, atau kekebalannya, atau antibodinya,” tegas Kohar.

“Kalau dia kondisi sakit, padahalkan kita masukkan penyakit yang sudah kita lemahkan, itu malah bisa menjadi kejadian ikutan (KIPI). Tapi kejadian ikutan yang paling sering terjadi adalah reaksi panas dan pada umumnya bisa diatasi dengan diberikan obat,” tambahnya.

Selain itu, anggapan bahwa biaya vaksin mahal juga keliru. “Saya setuju bahwa biayanya (vaksin) tidak sedikit. Tapi mahal itu kan menjadi relatif, dibandingkan dengan nanti kejadian benar, kalau sampai sakit, atau cacat, itu bebannya lebih tinggi, lebih mahal lagi biayanya. Berhitungnya lebih sulit lagi,” tegasnya.

Masyarakat harus sadar bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Tak hanya terhindar dari rasa sakit, namun juga lebih murah dari segi biaya.

Infografis

Infografis 3 Tips Cuci Masker Kain untuk Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Tips Cuci Masker Kain untuk Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan juga video menarik berikut ini: