Belajar Daring dan Balada Ponsel di Pondok Pesantren

·Bacaan 3 menit
Ilustrasi main ponsel sebelum tidur (iStock)

Liputan6.com, Semarang - Selama hampir dua tahun pelajaran ini, para siswa, guru dan orangtua berkutat dengan pembelajaran moda dalam jaringan (daring).

Sekilas pembelajaran model online memang terkesan lebih modern dan inovatif. Dari yang tadinya dengan pembelajaran tatap muka secara klasikal maupun dalam kelompok kecil, mendadak berubah total menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Tentu saja, lagi-lagi kita akan menimpakan kesalahan pada virus corona yang penyebarannya mampu membuat jungkir balik tiap bidang kehidupan. Lantas apakah pembelajaran daring menjadi solusi yang tepat bagi para praktisi pendidikan?

Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Al Itqon Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah mengungkapkan kegelisahan terhadap perilaku para santri di bawah asuhannya yang 'terjebak' dalam dunia digital dan menyebabkan mereka hilang konsentrasi terhadap materi pokok keagamaan yang diajarkan di ponpes.

Sebagai salah satu pondok pesantren salaf yang fokus pada pengajaran syariat Islam secara murni, maka Ponpes Al Itqon Kendal memang menjadi tempat belajar santri yang mengkaji kitab-kitab.

Riyanto, Ketua Pengurus Ponpes Al Itqon Kendal mengatakan bahwa untuk bisa menyerap ilmu dan menghafal kitab-kitab tersebut pikiran para santri harus jernih dan berkonsentrasi penuh saat berada di pondok.

Meski bentuknya pondok salaf, tetapi Ponpes Al Itqon tetap memberikan kesempatan pada santri untuk menempuh pendidikan secara formal. Keberadaan gadget untuk belajar online di lingkungan ponpes inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai masalah.

"Konsentrasi santri menjadi kurang karena terkontaminasi oleh konten dalam smartphone, sehingga kompetensi belajar kitab menjadi sangat berkurang," keluh Riyanto.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Plus Minus Belajar Daring

Miftahul Ulum, M.Pd., Kepala SMK N 1 Blora Jawa Tengah mengatakan bahwa untuk mata pelajaran umum tidak ada masalah menggunakan metode daring misalnya dengan video tutorial dan sebagainya tergantung kreativitas para guru.

Tetapi untuk pembelajaran life skill tetap sangat memerlukan pembiasaan. Permasalahan yang muncul adalah peralatan praktik bagi pendidikan kejuruan rata-rata berada di sekolah. Jika siswa belajar dari rumah maka tidak ada latihan langsung untuk meningkatkan kompetensi mereka.

"Ke depan meski di tengah pandemi Covid-19 kami berharap tetap ada blended learning supaya siswa kejuruan tetap bisa meningkatkan skill mereka," harap Miftahul Ulum.

Sementara itu, sejak setahun yang lalu para pakar pendidikan sudah mengungkapkan berbagai dampak pembelajaran daring bagi siswa, guru maupun orangtua siswa. Dampak positif pembelajaran daring bagi siswa yakni adanya family time, metode belajar variatif dan fleksibel, kesempatan mengeksplorasi teknologi serta nyaman belajar di rumah karena di rumah minim bullying.

Dampak negatifnya yakni anak jadi kurang bersosialisasi, gangguan emosional dan intelektual, pertumbuhan fisik motorik kurang maksimal karena kurang bergerak, KDRT yang tidak terdeteksi, penyalahgunaan perangkat untuk gim online atau tayangan berkonten negatif.

Sedangkan dampak pembelajaran daring bagi orangtua di antaranya, mereka lelah memotivasi semangat belajar anak yang turun, peningkatan biaya untuk sistem belajar daring, sulit menerapkan disiplin belajar anak di rumah, sulit membagi waktu pengawasan anak jika orangtua juga bekerja di luar rumah, potensi KDRT jika perilaku anak dianggap menyimpang.

Sedangkan dampak positifnya yaitu orang tua merasa keamanan anak lebih maksimal karena berada di dalam rumah, waktu belajar anak lebih fleksibel, orangtua berpotensi mengenal anak secara akademis, mudah memantau belajar anak serta penerapan pendidikan dalam keluarga lebih maksimal.

Dampak pembelajaran online yang paling terasa oleh guru adalah motivasi belajar teknologi informasi, berpeluang menyusun program pembelajaran yang inovatif serta pengelolaan waktu yang lebih fleksibel.

Tantangan utama bagi guru dalam pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 yakni masalah jaringan internet, pembelajaran kurang interaktif, kurangnya minat siswa dalam belajar serta tak ada sentuhan pribadi antara guru dengan siswa.

Saksikan Video Pilihan Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel