Belajar Memanusiakan Manusia Melalui Pandemi Covid-19

·Bacaan 4 menit

VIVA – “We are the world, we are the children, we are the ones who make a brighter day, so let's start giving.” Penggalan lirik lagu “Heal The World” karya Michael Jackson adalah lagu yang cocok untuk menggambarkan hal tentang kemanusiaan.

Dikutip dari jurnal milik Sri Nur Hadi Wijaya, lagu ini memiliki makna bahwa Indonesia masih mengalami kesenjangan sosial yang menyebabkan banyaknya kekacauan di negeri ini.

Lagu “Heal The World” akhirnya semakin relate dengan keadaan sekarang, yaitu munculnya pandemi Covid-19. Telah berada lebih dari satu tahun di sekitar kita, pandemi Covid-19 sudah membawa banyak perubahan ke dalam hidup ini.

Berbagai dampak positif maupun negatif sudah dirasakan selama pandemi ini. Bukan hanya berdampak pada sisi ekonomi atau kesehatan, pandemi Covid-19 juga berdampak pada sisi kemanusiaan.

Manusia dan Kemanusiaan

Menurut Aristoteles (384-347 SM), manusia adalah animal rationale atau hewan yang berakal budi. Maksud dari pernyataan ini, yaitu manusia adalah makhluk yang berakal budi. Maka dari itu, manusia dapat berpikir dan mengambil tindakan.

Hubungan manusia pun tidak terlepas dari apa yang dinamakan kemanusiaan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI diartikan sebagai sifat-sifat manusia.

Srini Priyanti, seorang psikolog, ikut memberikan definisi kemanusiaan. Ia mengatakan, kemanusiaan adalah kebajikan yang terkait dengan etika dasar altruisme yang bersumber dari kondisi manusia. Kemanusiaan juga melambangkan kasih sayang antar sesama manusia.

Pandemi, Jalan Menuju Kemanusiaan yang Lebih Baik atau Sebaliknya?

Mohammad Chandra, seorang mahasiswa semester empat, mengatakan jika pada mulanya pandemi membuat ia sedikit kehilangan rasa kemanusiaan.

“Awal pandemi ngerasa bodo amat sama orang yang terdampak Covid-19. Jadi cuman mikirin diri sendiri dan keluarga aja,” jelas Chandra.

Chandra pun lama kelamaan menyadari jika hal tersebut kurang bersifat kemanusiaan. Oleh karena itu, ia akhirnya berusaha peduli dengan lingkungan sekitarnya, seperti mulai saling support dengan teman-temannya agar tetap semangat dalam menghadapi berbagai dampak dari pandemi.

Ia juga berusaha membantu kondisi ekonomi temannya yang terdampak Covid-19 ini semampunya. Menurutnya, hal sederhana itu dapat membuat orang lain menjadi sangat terbantu.

“Ya bantu sebisanya juga sih kalau ada teman yang butuh pinjaman uang, dicoba bantu. Sekarang juga jadi lebih suka bantuin orang tua kerja,” tambah Chandra.

“Pandemi ini sebenarnya sangat mengusik sisi kemanusiaan karena ada sisi kesejahteraan antar sesama manusia yang terganggu,” tutur Srini.

Hal tersebut terjadinya karena adanya pembatasan kegiatan dari setiap orang, terutama yang bermata pencaharian tidak tetap seperti pedagang kecil di pasar.

Paradoks kemanusiaan pun dapat kita lihat pada awal pandemi. Pelaku penimbunan masker merupakan wujud nyata dari paradoks kemanusiaan. Di saat ada orang yang berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan masker sebagai alat pelindung, justru ada oknum tidak bertanggung jawab yang menyulitkannya.

Fenomena hoaks pun datang seakan membuat suasana semakin genting. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam Siaran Pers No. 42/HM/Kominfo/03/2020 menyebutkan bahwa per 17 Maret 2020 telah teridentifikasi sebanyak 242 konten hoaks dan disinformasi berkaitan dengan Covid-19 yang beredar di Indonesia. Konten-konten tersebut tersebar di berbagai platform media sosial, website, dan platform pesan instan.

Kejahatan Kemanusiaan, Sebuah Aksi Tak Beberlaskasihan

Pandemi belum berakhir, dunia belum sembuh, tetapi permasalahan seakan muncul tiada henti. Pada Minggu, 28 Maret 2021, telah terjadi aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Melalui pernyataan Presiden Joko Widodo dalam keterangan persnya, ia menyatakan jika serangan teroris merupakan wujud kejahatan kemanusiaan.

Menurut Undang-Undang No.26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, kejahatan terhadap kemanusiaan adalah perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil.

Kejahatan kemanusiaan ini juga termasuk salah satu dari empat pelanggaran HAM berat yang berada dalam yurisdiksi International Criminal Court (ICC). Pelanggaran tersebut, antara lain adalah genosida, kejahatan perang, dan kejahatan agresi.

“Contoh lain dari kejahatan kemanusiaan adalah perbudakan seksual dan perkosaan,” tambah Srini.

Sebelum atau setelah adanya Pandemi, kejadian kejahatan kemanusiaan memang selalu kita temukan. Namun, kejahatan kemanusiaan selama pandemi dirasa lebih parah karena ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Sudahkah Kamu Memanusiakan Manusia Selama Pandemi?

Memanusiakan manusia dalam konsep teori humanistik berarti proses dimana individu diharapkan dapat mengaktualisasikan dirinya, ucap Srini.

Srini juga membagikan tips untuk mempertahankan sisi kemanusiaan di kala pandemi. Kita dapat tetap melakukan gotong royong sesuai dengan asas yang dianut sehari-hari oleh masyarakat Indonesia.

Gotong royong yang dimaksud bukanlah bekerja sama membersihkan lingkungan seperti apa yang diajarkan pada saat sekolah dasar. Gotong royong maksudnya adalah bekerja sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Maka, saling membantu, saling peduli, dan saling menghargai adalah sisi kemanusiaan yang penting, terutama di situasi pandemi seperti ini.

Berbagai dampak negatif dari pandemi memang dapat memengaruhi sisi kemanusiaan kita. Namun, itu bukan alasan konkret untuk kita tidak memanusiakan manusia. Seharusnya, pandemi ini membuat kita semakin peduli terhadap satu sama lain dan meningkatkan sisi kemanusiaan kita guna memerangi pandemi Covid-19.

Jadi, apakah kamu sudah memanusiakan manusia selama pandemi ini?