Belajar Membatik dengan E-Batik Kreasi Mahasiswa Unesa, Seperti Apa?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Lima mahasiswa PKM RSH Universitas Negeri Surabaya (Unesa) merancang aplikasi E-Batik Nusantara. Mereka adalah Aas Nafilah Ilmi, Novan Ari Pradana, M Anan Charismadeyanto, Maharani Syahdilla Putri W dan Ama Fatmala.

Ketua PKM RSH Unesa Aas Nafilah Ilmi mengatakan, E-Batik dirancang menggunakan metode augmented reality berbantuan combine close sebagai media pembelajaran atau sarana edukasi ragam batik tanah air.

"Media tersebut dikembangkan berdasarkan riset dan sudah melewati tahap ujicoba dan mulai digunakan di sekolah Kota Surabaya. Kalau mau belajar batik, macam-macamya, motif dan maknanya dari berbagai daerah bisa lewat E-Batik,” ujarnya, Senin (13/9/2021).

Aas mengungkapkan, E-Batik memiliki beberapa fitur utama, mulai dari materi, game hingga informasi seputar aplikasi dan petunjuknya. Cara kerja aplikasi itu pun cukup sederhana.

Pada tampilan utama dimunculkan peta Indonesia yang jika salah satu daerah di-klik, akan muncul ikon model berbaju batik ciri khas daerah tersebut yang disertai dengan keterangan nama batik hingga filosofinya.

“Jenis dan makna batik 34 privinsi di Indonesia semua ada di aplikasi,” ucapnya.

Visual model batik dirancang berbasis 3D sehingga bisa digerakkan, diputar atau diperbesar dengan sentuhan jari. Selain itu, juga dilengkapi dengan suguhan 34 lagu daerah dan fitur permainan sederhana berupa tanya jawab dan tebak-tebakan seputar batik nusantara.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Dukungan Kemendikbud

Dalam pengembangan aplikasi itu, lima mahasiswa tersebut mendapat sokongan dana PKM RSH dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemendikbud Ristek.

"E-Batik Nusantara hadir untuk mengedukasi dan mendorong anak-anak bangsa sehingga tertarik mempelajari, memahami dan memaknai batik sebagai bagian dari warisan penting bangsa Indonesia," ujar Aas.

Aas mengatakan, tidak sebatas memahami batik sebagai warisan dan karya seni serta budaya bangsa, tetapi lebih jauh sebagai kearifan lokal dan inspirasi dalam berkreasi dan berinovasi bagi para generasi.

“Orang luar kagum dengan batik kita, masa kita nggak bangga dan gak belajar tentang batik kita sendiri. Lama-lama batik bisa terkikis dari atensi generasi kalau tidak diperkenalkan dan diajari sejak dini,” tukasnya.

Ia dan teman-temannya berharap, aplikasi edukasi tentang batik tersebut bisa memudahkan para guru dalam mengajar dan para siswa dalam belajar tentang batik nusantara.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel