Belajar Online, Guru dan Murid Mulai Alami Tekanan Psikologis

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebanyak 85 persen orang tua dan anak mengalami kendala dalam kegiatan belajar online jarak jauh. 1 dari 5 orang tua (22 persen) mengatakan tidak memiliki fasilitas pendukung, khususnya bagi mereka yang memiliki lebih dari satu anak.

Selain itu, 3 dari 4 guru tidak memiliki akses ke website atau aplikasi pembelajaran online. Banyak dari mereka mulai mengalami tekanan psikologis. Tekanan ini jika tidak tertangani dengan baik berpotensi menimbulkan semakin banyaknya kekerasan pada anak dalam rumah tangga.

Berangkat dari hal tersebut, P&G Indonesia, Selasa, 10 November 2020 bersama dengan Save the Children Indonesia menggelar program Indonesia Volunteers Community Impact (CommPact – dibaca Kompak!). CommPact merupakan program kegiatan virtual mentoring yang dilakukan oleh 90 karyawan dan partner distributor P&G Indonesia untuk berbagi kisah inspiratif dan pelatihan kilat kepada lebih dari 300 guru dan orang tua di wilayah Jawa Barat. Kegiatan Virtual Mentoring CommPact berlangsung selama 4 minggu dan memiliki target sekitar 1.000 jam volunteering hours yang harus dipenuhi selama program berlangsung.



Kegiatan relawan ini merupakan perpanjangan aktifitas dari program kerjasama global antara P&G Global dan Save the Children International, #WeSeeEqual. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan kesetaraan gender di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat melalui intervensi nilai-nilai #WeSeeEqual. Di Indonesia, program #WeSeeEqual yang dimulai di tahun 2018, saat ini difokuskan di provinsi Jawa Barat dan telah memasuki fase kedua.

Bertepatan di Hari Pahlawan ini, acara ini digelar untuk mengapresiasi para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Terlebih di tengah kondisi pandemi seperti ini, tutupnya sekolah dan beralihnya proses pembelajaran menjadi pembelajaran jarak jauh memberikan tantangan tersendiri bagi para guru dan orang tua.

Dalam kegiatan Virtual Mentoring ini, para peserta akan dibagi menjadi 30 kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari 3 volunteers P&G dan 10 penerima manfaat #WeSeeEqual yang berasal dari beberapa sekolah Bandung dan Cianjur.

LV Vaidyanathan selaku President Director Procter & Gambler Indonesia mengungkapkan, “Memberi kembali kepada masyarakat, merupakan hal paling utama bagi P&G. Tidak hanya terus menghasilkan produk yang terbaik, kami juga terus berinisiatif menjalankan program tanggung jawab sosial yang memberikan dampak berarti bagi komunitas di sekeliling kami. Kami yakin dukungan kami merupakan pendorong yang tepat untuk menciptakan pertumbuhan yang kuat; force for good, force for growth.”

Save the Children Indonesia, lembaga nirlaba yang berfokus pada kesejahteraan anak-anak di Indonesia, menyambut positif dukungan ini. “Kemitraan Save the Children dengan P&G bersifat long-term. Kami sangat senang dengan inisiatif dan semangat para relawan P&G atas kesedian mereka meluangkan waktu setiap minggunya bagi para beneficiaries. Inisiatif ini merupakan yang pertama di Indonesia, yang kami yakin akan memberikan dampak berarti bagi komunitas. Semoga inisiatif ini memberikan ripple effect bagi pendonor lainnya,” ujar Rizal Algamar selaku Chief of Business Development Save the Children Indonesia.

Kegiatan Virtual Mentoring akan terbagi menjadi 4 pertemuan dimana pada setiap pertemuan, para mentor akan memberikan pelatihan skillset yang topik pembahasannya seputar pembelajaran jarak jauh dan kiat menghadapi tantangan selama pandemi.

Topik-topik mentoring terdiri dari: literasi digital, pembelajaran kreatif, eksplorasi sosial media, pemahaman terhadapstandar kebersihan Sekolah dan Rumah, pola asuh positif dan kedisiplinan, hingga eksplorasi terhadap berbagai komunikasi visual.

Sementara itu, Head of Corporate Communications P&G Indonesia Dinda Kusumawardani mengungkapkan, “Selain untuk memberdayakan guru, orang tua dan para siswa, kegiatan Virtual Mentoring ini kami harapkan dapat disebarluaskan oleh peserta ke komunitas di sekitar mereka. Seperti train the trainers, melalui sesi seperti ini mereka akan dapat berbagi, bertukar pikiran, dan saling menguatkan satu sama lain, dimana hal itulah yang sangat dibutuhkan di masa sekarang ini.”

Dinda menambahkan, setiap kelompok akan menghasilkan satu output yang dinamakan The Equal Project di akhir kegiatan mentoring. Outputnya berupa produk komunikasi yang dapat digunakan dan direaplikasikan oleh guru maupun orang tua untuk mengkampanyekan kesetaraan gender, sekolah dan keluarga sehat ataupun pencegahan COVID-19 di lingkungan komunitas.