Belajar Soal Cita dan Ci(n)ta dalam novel Cahaya Cinta Pesantren

Dian Lestari Ningsih, NaylaAulia
·Bacaan 6 menit

VIVA – Di zaman serba modern ini berbagai teknologi banyak bermunculan, adanya media internet membuat penemuan ini semakin lama semakin pesat saja perkembangannya.

Jika pada zaman dahulu, manusia masih berlomba-lomba memiliki media konvensional untuk menyebarluaskan berita, maka sekarang banyak yang mulai meninggalkannya. Walaupun tidak sepenuhnya meninggalkan, tapi hal tersebut sudah berdampak cukup signifikan terhadap angka penurunan media konvensional, sehingga banyak para pemilik media tersebut yang tutup warung.

Sebut saja para penerbit buku. Kini jumlah mereka mulai menipis karena tersaing adanya media online atau buku online. Masyarakat banyak yang beralih pada buku online macam ini dikarenakan lebih ekonomis harganya, juga tentunya lebih praktis untuk dbawa kemanapun.

Belum lagi para pembajak buku yang malah meraup keuntungan lebih besar, karena menawarkan harga yang lebih ekonomis dua kali lipat harga asli. Hal ini tentu membuat para penulis geram, bahkan banyak yang memutuskan untuk berhenti memproduksi karya baru.

Melihat hal ini, pemerintah tentu tidak tiinggal diam, beberapa undang-undang tentang hak cipta mereka keluarkan guna membuat pihak nakal ini jera. Hal ini setidaknya cukup mampu meredam kecurangan ini, walau di belakang sana masih banyak pembajak yang menawarkan jasanya.

Tercatat bahwa hampir 60 persen nbuku yang dibajak berbentuk novel. Karena nyatanya warga Indonesia ini cenderung lebih banyak yang mengonsumsi novel khususnya usia sekolah.

Banyaknya angka pembajakan ini sebenarnya menunjukkan sebuah angka positif bahwa, banyaknya angka literasi masyarakat Indonesia. Banyaknya minat pembaca ini bisa dimanfaatkan para da’I untuk menyampaikan dakwah islami di dalamnya.

Betapa banyak penulis Indonesia seperti Asma Nadia, Habiburrahman El-Shirazy yang menyisipkan pengetahuan islami dalam novel yang mereka buat.

Novel merupakan media komunikasi yang cukup ampuh untuk menyampaikan informasi tertentu pada masyarakat. Pesan dalam novel cenderung tersirat, sehingga terasa halus untuk diterima masyarakat dan tidak terasa menggurui.

Karya sastra adalah refleksi masyarakat dari renungan mendalam serta pengolahan serius penciptanya (sastrawan). Maka, seorang da’i yang ingin berdakwah menggunakan novel ini harus membuat ciri khas sehingga bisa menarik perhatian pembaca.

Ketika pembaca sudah jatuh hati pada tulisan penulis, maka ia cenderung akan selalu meng-update pa saja tulisan teraru si penulis, bahasa simpelnya pembaca itu akan setia terhadap tulisan si penulis.

Jika sudah adanya kepercayaan semacam itu, maka mudahlah bagi penulis untuk sering menyelipkan pesan dakwah di dalam tulisannya dan pasti mudah pula diterima di masyarakat.

Dakwah menggunakan sastra memiliki tantangan tersendiri seiring berkembangnya zaman. Penulis harus bisa membaca karakter pembaca yang ia tuju, cocokkah mereka dengan pembawaan karakter yang dimuat dalam novel.

Salah satu novel yang cukup menginspiasi penulis mengenai dakwah Islami ialah novel cahaya cinta pesantren karya Ira Madani. Novel ini menggunakan bahasa yang ringan, sehingga cocok untuk pembaca pemula.

Meskipun ringan, kisah yang disediakan tidak seringan yang dibayangkan. Banyak pesan moral yang tersirat dalam setiap adegan. Novel karangan Ira Madani ini mendapat banyak apresiasi dari warga Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Ira Madani merupakan saah satu penulis berbakat Indonesia yang sangat produktif. Hampir semua jenis novel yang ia terbitkan bertajun religi, kekeluargaan dan pengetahuan. Dan hampir kesemuanya menjadi novel best seller. Ira begitu apik membungkus isi ceritanya dengan konflik yang dekat dengan masyarakat sehingga ketika dibaca, masyarakat seolah langsung memiliki pandangan sendiri mengenai novel buatan Ira ini. Bahkan hampir seluruh novel buatanya berhasil tembus ke dunia perfilman.

Novel Cahaya Cinta di Pesantren merupakan novel lokal yang mengusung tema kehidupan pesantren khusus putri, yaitu Pesantren Al-Amanah yang mengadopsi kurikulum Pesantren Darussalam Gontor yang terletak di daerah Medan, Sumatera Utara.

Novel ini menceritakan pengalaman seorang santriwati, Marshila Silalahi yang diminta ibunya untuk melanjutkan pendidikannya di pesantren. Kehidupannya di pesantren diawali dengan berbagai penyesuaian karena Shila, nama panggilan akrabnya, tidak terbiasa hidup terpisah dari orang tuanya.

Pada awal menjalani kehidupan pesantren, Shila sering berbuat nakal dengan melanggar peraturan dan membuat siasat agar dapat lepas dari hukuman. Namun, semakin berlalunya waktu, Shila dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan pesantren dan dipercaya menjadi kepala asrama dan menjadi utusan Pesantren ke Jepang. Sifat Shila juga perlahan berubah dan semakin gigih dalam mengejar prestasi, karena sebelum dia lulus dari pesantren tersebut ayahnya meninggal. Oleh karena itulah, Shila melakukan semuanya dan dia lulus sebagai santriwati terbaik serta mendapat beasiswa ke Jepang, demi ayahnya.

Ira bukan hanya menceritakan tentag lika-liku kehidupan santri, tapi ia juga mengisahkan tentang mu’amalah terhadap orang tua. Pesan tentang birrul walidain terasa sangat kental di dalam novel ini. Tentang bagaimana pentingnya menaati orangtua dalam hal kebaikan dengan sebaik-baiknya taat. Pilihan terbaik yang orangtua pilihkan tentu bukan untuk kepentingan mereka, tapi demi menunjang masa depan anak menjadi lebih baik.

Allah memerintahkan birrul walidain tentu dengan alasan yang mulia. Allah memuliakan orangtua karena mereka yang menjadi perantara-Nya untuk mendidik, mengasuh dan membesarkan hambaNya dengan penuh kasih. Setiap orangtua tentu meninginkan anaknya menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat. Maka pesantren menjadi alternatif yang dinilai cukup menjanjikan untuk mewujudkan semua itu. Di pesantren modern (pesantren yang dijadikan latar novel) para santri bukan hanya diajarkan kitab kuning dan bahasa arab-inggris, tapi juga ilmu umum seperti jurnbalistik, matematika, juga ekstrakulikuler lainnya. Dengan ini santri tidak hanya dibekali ilmu untuk mampu berkecimpung di wilayah muslim saja, tapi diharapkan bisa berkecimpung di wilayah lebih luas lagi. Supaya bisa menyebarluaskan islam lebih jauh lagi.

Sadar akan banyaknya pembacanya yang berasal dari kalangan remaja, Ira pun menyisipkan pesan soal cinta di dalam novel ini. Sebab, seringkali remaja menyalah artikan cinta, sehingga terjerumus pada dosa. Dikisahkan pemeran utama, yaitu Shila yang mulai menyimpan rasa suka pada ustadnya sendiri. Shilla dengan bijak memanfaatkan rasa itu untuk hal yang lebih bermanfaat, ia terpacu untuk semakin produktif dengan mengikuti lomba jurnalistik tingkat internasional. Pencaaian inilah yang menjadi titk awal kesuksesan dirinya. Dari sini diharapkan masyarakat bisa mencontoh Shilla dalam mengambil sikap saat jatuh cinta, supaya cinta yang ada bukan menjadi toxic, tapi menjadi motivasi untuk selalu berbenah diri.

Salah satu yang menarik dalam novel ini ialah para santri di ponpes ini menggunakan ini diwajibkan menggunakan bahasa arab dan inggris dalam percakapn sehari-hari. Lalu dalam akhir novel, dikisahkan ketiga pemeran inti dalam novel ini berhasil meneruskan karir hingga luar negrei. Berkat bakat bahasa arab-inggris yang mereka miliki saat di pesantren dulu, mereka bisa mudah beraaptasi di sana. Seperti Marshila yang akhirnya bisa berkuliah di Jepang. Ketika membaca adegan bagian ini, penulis terhenyak beberapa waktu mengingat betapa santri memang seharusnya seperti itu, santri janganlah sampai hanya bertopang dagu di negri ini saja, harus ada santri yang bisa berperan seperti tiga sekawan dalam novel ini.

Santri yang sudah banyak dibekali dengan ilmu pengetahuan islami dan umum, harus bisa unjuk diri do depan publik dengan gagah berani guna membuktikan pada dunia, bahwa kaderisasi dalam pesantren memang bukan sebatas ngaji kitab saja, tapi juga ngaji IPTEK. Hal ini menjadi angin segar bagi Islam tentunya jika para santri mampu bersaing dengan ilmuwan barat sana yang sudah lebih dulu menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Santri harus bisa mengembalikan masa kejayaan umat islam dalan hal IPTEK. Sebab, islam tercatat pernah menduduki masa kejayaan ilmu pengetahuan pada masa dinasti sekiar Abbasiyah-Umayyah.

Dakwah menggunakan novel rasanya cukup memiliki sisa lebih dan kurang yang sepadan. Keelebihannya teretak pada cakupan pembaca novel yang dituju. Para pembaca novel biasanya berusia rwmaja hingga dewasa. Penyisipan dakwah dalam novl bisa membantu remaja untuk mendapatkan ilmu pengetahuan islam secara berkala. Usia remaja merupakan usia di mana anak cenderung mudah terbentuk dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Anak cenderung meniru perilaku melalui tontonan atau bacaan yang mereka konsumsi.

Meskipun begitu, novel semacam itu pelu interpretasi yang tepat supaya anak tidak salah menafsirkan pesan dakwah yang terkandung di dalamnya. Sebab, biasnaya penulis menyampaikan pesannya dengan cara tersirat. Jangan sampai anak salah menafsirkan adengan yang kurang baik sebagai contoh yang harys mereka terapkan, padahal maksud penulis hanyalah menggambarkan pada pembaca supaya mereka tidak meniru hal semacam itu.