Belum Ada Anggaran Pasti untuk Siapkan Kelas Rawat Inap Standar untuk Pasien BPJS

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Kesehatan saat ini tengah melakukan uji coba Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) bagi pasien BPJS. Namun pelaksanaannya masih dilakukan di rumah sakit vertikal, rumah sakit yang dikelola Kementerian Kesehatan.

Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Mickael Bobby Hoelman menyampaikan, belum ada angka pasti untuk anggaran yang disiapkan jika rumah sakit menerapkan sistem KRIS. Namun, pertimbangan dasar bagi rumah sakit untuk mengalokasikan anggaran menerapkan KRIS tergantung karakteristik di setiap daerah.

"Itu mengacu kepada atau dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing di daerah, karenanya perlu ada pemantauan yang baik kesiapan di masing-masing daerah," ucap Mickael saat rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR, Selasa (20/9).

Dia juga menyampaikan, sosialisasi sekaligus pendekatan terhadap rumah sakit swasta sudah dilakukan terkait sistem KRIS. Namun, mengingat uji coba baru diterapkan pada awal September, dan belum muncul hasil evaluasi, DJSN bersama Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan menyusun komunikasi publik terkait sistem KRIS ini.

Dia mengutarakan, komunikasi publik harus selaras antara pihak yang beririsan dengan kebijakan KRIS. Terlebih lagi, uji coba KRIS dilakukan di tengah tensi politik yang kerap tidak stabil.

"Kami akan menyusun strategi komunikasi publik bersama sehingga potensi kegaduhan yang timbul tidak terjadi, kami sangat memahami itu," pungkasnya.

Target 50 Persen Rumah Sakit

Pada rapat tersebut, Bobby juga menjabarkan target keterlibatan 50 persen RS vertikal (rumah sakit dikelola Kementerian Kesehatan), 25 persen RSUD Provinsi, 25 persen RSUD Kabupaten/Kota, 25 persen RS TNI/POLRI dan 25 persen RS Swasta, menerapkan KRIS pada 2023. Jumlah tersebut ditargetkan bertambah pada 2024 dan bisa diterapkan ke seluruh rumah sakit pada 2025.

Terdapat 12 kriteria yang harus dipenuhi oleh RS dalam mengimplementasikan KRIS, antara lain terkait bahan bangunan RS yang harus memiliki porositas yang tinggi, memiliki ventilasi udara dan pengaturan khusus mengenai pencahayaan ruangan. Adapun kriteria yang mengatur tentang kepadatan ruang, kualitas tempat tidur kelengkapan kontak listrik, nurse call, nakas hingga suhu ruang yang stabil antara 20-26 derajat Celcius.

Ruang perawatan juga harus terbagi atas jenis kelamin, usia, jenis penyakit. Terdapat pula kriteria yang dapat dipenuhi secara bertahap seperti: ruang perawatan yang dilengkapi kamar mandi dalam yang disesuaikan dengan standar aksesibilitas serta ketersediaan outlet oksigen pada rumah sakit tersebut. [idr]