Belum Didistribusikan, Masa Simpan 1,1 Juta Vaksin AstraZeneca Berakhir Mei 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Vaksin COVID-19 AstraZeneca yang sudah tiba di Indonesia pada 8 Maret 2021 saat ini belum didistribusikan ke fasilitas layanan kesehatan. Padahal, masa simpan (shelf life) vaksin ini pendek, hanya sampai akhir Mei 2021.

Terkait hal ini, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa tidak ada penundaan dalam pemberian vaksin AstraZeneca. Namun, vaksin tersebut belum bisa didistribusikan ke fasilitas layanan kesehatan karena masih ada pemeriksaan kontrol (quality control) fisik vaksin yang didapatkan dari COVAX itu.

Selain itu, saat ini tengah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ) bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) serta para ahli sedang mengecek kembali kriteria yang sudah dikeluarkan sebelumnya untuk penerima vaksin COVID-19 Sinovac bakal sama atau tidak dengan penerima vaksin AstraZeneca. Terlebih, kata Nadia, WHO mengatakan bahwa rentang waktu yang optimal dalam pemberian dosis kedua vaksinAstraZeneca sekitar 9-12 minggu. Hal ini berbeda dengan interval penyuntikan dosis vaksin Sinovac yakni antara 14-28 hari.

"Terkait vaksin AstraZeneca, seperti sudah saya sampaikan, bahwa kita tidak ada penundaan. Hanya prinsip kehati-hatian sambil menunggu quality control fisik," kata Nadia dalam konferensi pers daring, 16 Maret 2021.

Mengingat masa simpan yang pendek hanya sampai Mei 2021, Kementerian Kesehatan bakal mengkaji sasaran prioritas serta daerah mana yang mendapatkan vaksin ini. Jangan sampai pemberian melebihi jatuh tempo masa simpan.

"Tentunya 1,1 juta dosis ini kita harus prioritaskan pada tempat-tempat tertentu sebelum masa shelf life habis," katanya.

Bila nanti sudah bisa digunakan, hanya enam hari saja untuk 'menghabiskan' vaksin sejumlah 1,1 juta dosis ini.

"Kami cukup optimistis, penyuntikan vaksin saat ini 250-350 ribu dosis per hari, artinya kalau kita melakukan penyuntikan 1,1 juta dosis dengan estimasi 200 ribu dosis per hari, maka dalam enam hari vaksinnya akan habis," katanya.

Namun, jika sudah melewati masa shelf life, Nadia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan vaksin tersebut.

"Rasanya tidak mungkin kita memberikan vaksin yang masa shelf life sudah habis," katanya.

Negara-Negara yang Menunda Sudah Mulai Suntikkan Kembali Vaksin AstraZeneca

Nadia, mengutip pernyataan WHO yang meminta agar negara-negara tidak menunda pemberian vaksin AstraZeneca. Lalu, beberapa negara yang tadinya menunda seperti Thailand dan Korea Selatan kini sudah mulai kembali menjalankan program vaksinasi COVID-19 menggunakan vaksin asal Inggris itu.

"Vaksin ini cukup aman meski ada kejadian tersebut (40 orang dilaporkan alami pembekuan darah usai divaksin AstraZeneca, kini masih dalam tahap investigasi). Hal ini menjadi kehati-hatian kita dalam penggunaannya," kata Nadia.

Hingga saat ini vaksin yang dibuat bekerja sama dengan Oxford University tersebut sudah disuntikkan pada 17 juta orang. Vaksin ini juga dikenal efektif terutama pada lanjut usia 65 tahun ke atas dengan penyakit komorbid.

"Tidak perlu takut. Disampaikan WHO bahwa manfaat vaksin ini jauh lebih besar dari efek samping yang timbul," tandasnya.

Infografis

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)