Benar Kata Mbak Ayu, Menyiapkan Sarapan Pagi itu Memang Seru

Syahdan Nurdin, arianafatma
·Bacaan 4 menit

VIVA – Kadang-kadang kita ini seperti terkena karma, tapi tidak sadar. Kita mengkritik perilaku orang lain yang menurut kita menyebalkan, tapi kita --sadar atau tidak sadar-- meniru perilaku menyebalkan itu. Contohnya, sering saya temui menantu yang mengeluh jika dikritik mertuanya. Menantu sebal jika dianggap sok tahu dan menganggap mertua, yang mentang-mentang lebih tua, selalu merasa paling benar.

Di timeline saya, beredar sebuah cuitan dari Twitter Ayu di @ayubsr yang isinya biasa saja sebenarnya. "Gak sabar rasanya pagi-pagi bikinin kamu sarapan, nyiapin keperluan kamu sebelum berangkat kerja. Seru banget kalo ngebayanginnya,"

Demikian cuitan Ayu. Khas cuitan para jomblo. Komentar-komentar di bawahnya juga membahas bahwa cuitan itu tak lebih dari sekadar kehaluan seorang jomblo.

Ngaku saja deh, dulu kita sewaktu masih muda (dan jomblo), kelakuannya tak jauh beda juga dengan Mbak Ayu. Sering halu membayangkan hal-hal indah jika kelak menikah. Dan ini menurut saya wajar. Sangat wajar.

Dan karma seperti yang saya bilang di paragraf pertama menjadi kenyataan. Reaksi ibu-ibu membaca cuitan itu, mirip seperti mertua galak melihat menantunya yang lugu. Mulai timbul perasaan lebih senior. Merasa lebih berpengalaman. Lalu enteng berkomentar.

"Belum tahu dia."

"Iya sih bener, tapi tunggu nanti kalau sudah ada buntutnya."

"Realita tak seindah itu, Esmeralda."

"Boro-boro nyiapin sarapan, ke WC gak ada bocah yang ngikutin aja udah bagus."

"Yang kayak gitu sih cuma pas pengantin baru aja."

Coba dibaca lagi cuitannya Mbak Ayu, salahnya di mana coba? Namanya orang belum nikah, ya wajar jika yang dia bayangkan tentang pernikahan melulu tentang indah-indahnya saja. Nggak kepikiran kalau pernikahan banyak juga nggak enaknya.

Dulu waktu kita masih kecil, sering juga kan membayangkan kalau menjadi dewasa itu menyenangkan? Tak perlu memikirkan tugas sekolah, bebas menentukan pilihan, bisa bekerja dan mendapat uang. Sama sekali tak kepikiran kalau menjadi dewasa itu juga berarti tanggung jawab yang semakin berat dan segunung persoalan lainnya.

Makanya wajar kalau Mbak Ayu kepikirannya soal keseruan menyiapkan sarapan untuk suami. Coba kita tengok adegan sarapan di sinetron atau iklan. Sepertinya serba indah. Pagi-pagi semua sudah cantik dan ganteng. Melingkar sarapan bersama di meja makan. Istri membetulkan dasi suami, cium tangan, dan dadah-dadah di muka pintu melepas kepergian suami ke kantor dan anak-anak ke sekolah.

Mbak Ayu nggak salah. Menyiapkan sarapan itu memang seru. Seru banget malah.

Bisa bangun lebih pagi dari suami adalah keseruan pertama. Selanjutnya meski ngantuk, harus menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Kalau di kulkas sudah tak ada bahan yang tersedia, cerita bakal lebih panjang lagi. Menunggu tukang sayur lewat atau musti ke pasar. Di tukang sayur atau di pasar, itu bisa jadi cerita tersendiri.

Keseruan dalam proses memasak adalah episode berikutnya. Apalagi kalau kita adalah tipe perempuan yang baru masuk dapur setelah menikah. Yang masih sulit membedakan mana jahe mana kencur dan mana merica mana ketumbar. Masa-masa awal pengantin baru adalah masa trial dan error yang tak terlupakan. Percayalah, separah apa pun hasil masakan kita, suami pasti akan tetap bilang enak. Dengan atau tanpa pelototan kita.

Itu belum ketambahan kalau sudah ada buntut eh anak. Beuuhh…serunya banget-banget-bangettt…Dijamin, Sinetron Tersanjung saja pasti kalah seru dan panjangnya.

Anak-anak di sinetron dan iklan sepertinya memang anak sholih dan sholihah semua. Nggak ada rewel-rewelnya. Makannya tetap rapi meski tak disuapi. Dikasih apa saja juga kelihatannya lahap saja.

Nasi goreng, telur mata sapi yang kuningnya sempurna, roti bakar oles mentega, atau sereal yang bahkan mereka bisa menuang sendiri susunya tanpa tumpah. Kalau makanan tadi dibawa ke sekolah sebagai bekal, mereka akan berkata dengan bangga pada temannya, "Ini buatan ibuku."

Hmm...sempurna.

Masalahnya anak-anak kita meski manis, biasanya tak seanteng anak-anak di iklan. Tapi jangan khawatir Ibu, kata dokter, anak yang aktif adalah salah satu tanda anak yang sehat.

Jadi, jangan harap sarapan bisa berakhir tanpa mengelap dan mengepel bekas ceceran makanan dan tumpahan susu bocah. Melewati hectic-nya pagi hari tanpa aba-aba dan teriakan adalah ujian kompetensi tersendiri untuk Kaum Ibu.

Alhamdulillahnya, kita adalah manusia pilihan yang terpilih untuk tinggal di Indonesia. Inilah negeri di mana ibu-ibu yang tidak sempat, malas, bosan, atau tidak bisa masak untuk sarapan menemukan surganya.

Nasi Pecel, Nasi Uduk, Nasi Kuning, dan menu-menu sarapan lain tersedia melimpah ruah di sekitar kita. Keanekaragaman menu sarapan ini adalah salah satu alasan kenapa saya masih mencintai Indonesia. Berburu sarapan adalah jenis keseruan yang solutif untuk kita semua.

Di layar kaca mana ada adegan ngantri beli nasi pecel plus gorengan? Nggak pernah nemu juga kan adegan debat sengit ibu dan ayah untuk menentukan siapa yang ngantri beli nasi dan siapa yang mandiin bocah?

Setelah melewati semua petualangan seru tadi, bisa tampil cantik saat melepas suami berangkat kerja menjadi prestasi besar yang tak sembarang istri bisa melakukannya

See, terbukti kan kalau yang dibilang Mbak Ayu bahwa ritual pagi menyiapkan sarapan untuk suami ternyata memang beneran seru? Kita saja yang selama ini salah menafsirkan arti “keseruan” itu tadi. Jadi Ibu-ibu, mari berhenti mem-bully dan menyanggah kehaluan para jomblo dengan bayangan-bayangan menyebalkan versi kita tentang pernikahan.