Benarkah Abraham Samad dalang pembocor sprindik Anas?

MERDEKA.COM. Khalayak ramai menunggu pengumuman dari Komite Etik pada Komisi Pemberantasan Korupsi, tentang siapa sebenarnya pembocor Surat Perintah Penyidikan (sprindik) dari tersangka dugaan gratifikasi proyek Hambalang, Anas Urbaningrum. Menurut kabar beredar, Komite Etik bakal mengumumkan sang pembocor pekan ini, meski belum diketahui kapan pastinya.

Namun, berbagai pertanyaan dan dugaan turut menyeruak ke permukaan, sejalan dengan rumitnya skandal kebocoran sprindik AU itu. Bahkan, konon kabarnya, suasana dalam tubuh lembaga antikorupsi sempat memanas, dan saling curiga lantaran perkara ini.

Sejak terkuaknya sprindik Anas Urbaningrum ke hadapan publik lewat berita di media massa, KPK nampaknya meradang. Mereka seolah kecolongan soal bocornya sprindik itu. Dengan sigap, mereka langsung membantah sprindik tersebar itu asli. Bahkan, terlontar pernyataan siapapun yang membocorkan bakal dipidanakan. Meski belakangan diralat dan mereka mengakui sprindik yang tersebar itu asli. Asal tahu saja, kebocoran dokumen macam sprindik bukanlah yang pertama kali terjadi.

Bahkan dari awal bergulir kencang opini soal si pembocor itu berasal dari kalangan pimpinan. Dugaan itu makin menguat setelah KPK memutuskan membentuk Komite Etik, setelah sebelumnya Pengawas Internal dan Dewan Pertimbangan Pegawai menelusuri siapa pihak yang menyebarluaskan sprindik. Komite Etik dibentuk buat menelusuri jika memang terdapat pelanggaran dilakukan oleh pimpinan KPK.

Wacana pun disusun sedemikian rupa dan mengarah kepada tudingan Ketua KPK Abraham Samad yang membocorkan sprindik itu.

Berbagai spekulasi bermunculan. Abraham dianggap sebagai 'agen' Istana, dan sprindik buat Anas itu adalah pesanan pihak tertentu. Apalagi bocoran sprindik itu muncul bertepatan saat konflik internal Partai Demokrat sedang 'lucu-lucunya'. Makin kuat saja anggapan sprindik itu buat menjatuhkan satu pihak.

Namun, menurut sumber merdeka.com, dari hasil investigasi Dewan Pertimbangan Pegawai dan Komite Etik, tidak satupun pihak bisa membuktikan jika Abraham Samad yang membocorkan sprindik itu. Mereka mendapat pengakuan dan bukti sang pembocor sprindik itu adalah orang kepercayaan Abraham, berinisial WS.

"Tidak ada yang bisa membuktikan Abraham Samad yang membocorkan sprindik itu. Abraham mengakui di depan persidangan DPP dan Komite Etik tidak pernah membocorkan, atau memerintahkan seseorang buat menyebarluaskan sprindik AU," kata sumber merdeka.com saat berbincang di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bahkan, dari penjelasan sumber merdeka.com lainnya, dia menegaskan Abraham Samad tidak terbukti sebagai pembocor sprindik Anas. Tetapi, dia heran dengan sikap KPK yang memilih membentuk Komite Etik, padahal diketahui si pembocor itu bukan pimpinan, melainkan sekretaris Abraham, yakni WS.

"Terus terang saya heran. Ketika Pengawas Internal dan sidang DPP, WS sudah mengaku sebagai pembocor sprindik, dan dia bukan dari kalangan pimpinan. Tetapi mereka malah memilih membentuk Komite Etik. Apakah mereka tidak puas dengan hasil kerja Pengawas Internal dan DPP atau ada maksud lain?" kata sumber merdeka.com lainnya di Jakarta.

Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, mengatakan tidak mau memberikan pernyataan apapun terkait Komite Etik. Menurut dia, nanti pada saatnya Komite Etik akan memberikan pernyataan tersendiri.

Jadi kita tunggu saja dalam waktu dekat ini hasil kerja Komite Etik KPK, dalam mengusut skandal sprindik Anas Urbaningrum. Semoga saja mereka bakal mengumumkan sang pembocor itu, terlepas dari intrik, konflik kepentingan, dan pengaruh politik.

Baca juga:
Usut pembocor Sprindik Anas, jutaan rupiah dihamburkan KPK?
Mahfud MD: MK & KPK harapan masyarakat dalam penegakan hukum
Komite Etik KPK sidang terbuka bahas Sprindik bocor

Topik Pilihan:
polisi teladan | Penembakan Lapas | Soeharto | Jokowi ahok | Prostitusi

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.