Benarkah Konsumsi Susu Sapi Dapat Meningkatkan Risiko Terkena Kanker Payudara?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara kini telah mengambil alih posisi kanker paru-paru sebagai kanker yang paling sering didiagnosis di dunia. Kanker payudara juga menjadi penyebab utama kematian terkait kanker bagi wanita di banyak negara.

Meskipun faktor genetika berperan penting sebagai penyebab kanker, ada faktor lain yang menjadi pemicu pada kebanyakan wanita, seperti faktor gaya hidup, konsumsi alkohol, atau kelebihan berat badan. Dilansir dari Independent, Selasa, 23 Maret 2021, beberapa penelitian yang diterbitkan pada 2020 mengidentifikasi bahwa susu sapi menjadi faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengidap kanker payudara.

Studi pertama yang mengobservasi 33.780 wanita Swedia sejak 1997, menemukan fakta bawa wanita yang mengonsumsi 300 mililiter susu sapi per hari berisiko sepertiga lebih tinggi untuk mengidap kanker payudara dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi susu.

Studi kedua yang diadakan di Amerika Serikat hasilnya juga tidak jauh beda. Bahkan di sana, para wanita mengonsumsi sekitar 300 mililiter susu per hari memiliki risiko 50 persen lebih tinggi terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi susu.

Kedua studi ini juga menemukan fakta bahwa sebagian besar wanita yang telah menopause, mengidap kanker payudara yang disebabkan oleh estrogen dan disebut sebagai kanker payudara positif reseptor estrogen. Melalui dua studi ini, peneliti hanya dapat menyimpulkan bahwa ada hubungan antara konsumsi susu dan kanker payudara, tapi mereka tidak dapat membuktikan bahwa minum susu dapat menyebabkan seseorang mengidap kanker.

Untuk memahami alasan susu sapi dapat meningkatkan risiko kanker payudara positif estrogen, penting untuk melihat studi biologis. Hal ini untuk membantu kita melihat mekanisme mana yang akan terjadi di dalam tubuh.

Produk Susu Fermentasi

Ilustrasi kanker payudara | unsplash.com
Ilustrasi kanker payudara | unsplash.com

Susu sapi secara alami mengandung stimulan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel. Stimulan ini bekerja di dalam tubuh dengan cara meningkatkan kadar faktor pertumbuhan yang disebut IGF1 (faktor pertumbuhan mirip insulin 1).

Studi yang telah dilakukan menunjukan bahwa pada tubuh manusia, peningkatan kadar IGF1 inilah yang sangat berpengaruh dalam peningkatan risiko kanker payudara. Itu pula yang menjadi alasan minum susu dikaitkan dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi.

Menariknya, pada studi lain menunjukan bahwa produk susu fermentasi, seperti yogurt dan keju, tidak meningkatkan risiko seseorang mengidap kanker payudara. Hal ini mungkin terjadi karena faktor perangsang IGF1 yang ada dalam susu hilang dalam proses pembuatan keju dan yoghurt.

IGF1 tidak meningkatkan risiko kanker payudara, justru kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan sel sangat dipengaruhi oleh estrogen. Hal ini dapat menjelaskan mengapa dalam dua penelitian tersebut, konsumsi susu yang tinggi meningkatkan risiko kanker payudara positif reseptor estrogen, tetapi tidak untuk jenis lainnya. (Dinda Rizky Amalia Siregar)

Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker?

Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker? (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker? (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut: