Benarkah Mobil Listrik Lebih Hemat Pengeluaran?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kendaraan listrik bukan lagi kendaraan yang langka. Di jalan-jalan Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia, hampir pasti terdapat kendaraan listrik melintas. Kondisi tersebut menguatkan sinyal bahwa transformasi kendaraan berbahan bakar minyak ke energi listrik, bukan sekadar wacana.

Salah satu isu yang digemborkan pemerintah terhadap kendaraan listrik yaitu hemat biaya. Benarkah demikian?

Merdeka.com berbincang dengan Brodan, pemilik mobil listrik. Dia mengakui, jika dilihat dari sisi biaya pengeluaran, kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.

"Setuju, seboros-borosnya mobil listrik, dengan semacet-macetnya Jakarta, tetap lebih irit mobil listrik dari segi biaya yang kita keluarkan," ujar Brodan, Senin (19/9).

Brodan menuturkan, dia pernah menggunakan mobil listriknya dengan jarak sekitar 103 kilometer. Dari kapasitas baterai 100 persen, kemudian berkurang menjadi 51 persen. Dia kemudian mengisi penuh daya mobil di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Biaya yang dihabiskan sekitar Rp38.000.

Biaya yang dikeluarkan Brodan terbilang hemat, jika membandingkan kebutuhan bahan bakar minyak untuk perjalanan 100 kilometer. Brodan menuturkan, mobil berbahan bakar minyak sedikitnya membutuhkan 10 liter untuk menempuh jarak 100 kilometer. Jika mobil tersebut menggunakan BBM jenis pertalite, maka pengguna harus merogoh biaya paling sedikit Rp100.000.

"Kalau beli pertalite saja dengan harga Rp10.000 artinya dia butuh uang Rp100.000 sedangkan saya dapatkan hanya di 30 ribu sekian kalau dibulatkan bisa Rp40.000, artinya ada penghematan sekitar Rp60.000," pungkasnya.

Brodan juga mengatakan bahwa mobil listrik dapat menghemat pengeluaran karena, minim komponen perawatan (fast moving) selayaknya kendaraan berbahan bakar minyak. Pada kendaraan listrik, tidak ada perawatan rutin seperti mengganti oli, atau busi.

Sementara itu pemerintah terus mendorong program peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke mobil listrik ini terus diusung pemerintah guna menciptakan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan. Untuk itu, pemerintah tengah menyiapkan intensif untuk memberikan subsidi bagi pembelian mobil listrik di masyarakat.

"Iya. Sekarang kan mekanismenya sedang digodok, sedang dibahas," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif beberapa waktu lalu di Jakarta, dikutip Minggu (18/9).

Selain itu, Arifin mengatakan, penggunaan mobil listrik berbasis baterai juga lebih hemat ongkos ketimbang kendaraan konvensional bertenaga BBM.

"Contohnya, sekarang ini Pertalite, bensin Rp 10.000 untuk 30 km. Sekarang kalau pakai listrik 1 kWh bisa juga 30 km. Sekarang kalau nge-charge listrik kan enggak sampai Rp 2.000. Sedangkan kalau pakai bensin Rp 10.000. Jadi hemat Rp 8.000," bebernya. [azz]