Benarkah Taliban Sudah Berubah? Aktivis: Harapan Palsu

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Aktivis perempuan di Afghanistan meragukan narasi yang menyebut Taliban sudah berubah. Dalam konteks hak perempuan, Taliban dinilai belum menunjukkan respons positif.

"Apa yang mengkhawatirkan adalah faktanya adalah Taliban telah bereaksi negatif terhadap protes-protes serta tuntutan yang dibuat perempuan," ujar Mariam Wardak dari Her Afghanistan di acara Global Town Hall 2021 yang digelar oleh FPCI, Sabtu (20/11/2021).

Ia pun berkata kehidupan yang lebih liberal masih sulit dicapai bagi perempuan Afghanistan, sehingga peran tekanan internasional penting dalam aspek ini.

Ketika Taliban merebut kekuasaan, ada pandangan-pandangan yang menilai Taliban tidak akan separah dulu. Meski demikian, Mariam mengaku ogah memberikan harapan palsu.

"Saya tidak akan memberikan harapan palsu terkait bahwa Taliban telah berubah. Tidak," kata Mariam.

Ia pun menyindir bahwa hal yang bisa "dipuji" adalah sikap Taliban yang konsisten dalam mengekang perempuan.

"Satu-satunya yang saya puji adalah konsistensi mereka bahwa mereka akan sangat ketat terkait bagaimana perempuan aktif dalam masyarakat," jelasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Masalah Pendidikan

Seorang anak mengikuti kelas tentang risiko ranjau oleh Organisasi penjinak ranjau HALO Trust di desa Nad-e-Ali, provinsi Helmand pada 9 November 2021. Sekitar 41.000 warga sipil Afghanistan terbunuh atau terluka oleh ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak sejak 1988. (Javed TANVEER/AFP)
Seorang anak mengikuti kelas tentang risiko ranjau oleh Organisasi penjinak ranjau HALO Trust di desa Nad-e-Ali, provinsi Helmand pada 9 November 2021. Sekitar 41.000 warga sipil Afghanistan terbunuh atau terluka oleh ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak sejak 1988. (Javed TANVEER/AFP)

Belakangan ini, Kementerian Kebajikan di Afghanistan berkata mendukung pendidikan perempuan dengan syarat memakai hijab.

Kementerian Kebajikan di Afghanistan berkata ingin memisahkan tempat belajar antara laki-laki dan perempuan.

Sekolah-sekolah di beberapa daerah juga mulai terbuka untuk para siswi, akan tetapi Mariam berkata terbukanya sekolah itu tak bisa dianggap sebagai jasa Taliban.

"Saya pikir ini lebih kepada bagaimana para tetua (di provinsi) berkomunikasi dengan Taliban di provinsi-provinsi tersebut," kata Mariam yang berkata hal ini perlu dilihat secara case-by-case.

Masalah pendidikan perempuan ini menjadi halangan bagi Taliban yang ingin diakui secara internasional.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel