Benci Islam Buat Wanita Ini Dalami Al Quran Hingga Luluh Jadi Mualaf

·Bacaan 2 menit

VIVA – Peristiwa 11 September di World Trade Center New York Amerika pada tahun 2001 menjadi perhatian seluruh warga dunia. Peristiwa yang menewaskan hampir tiga ribu jiwa ini menjadi titik awal perburuan besar-besaran pada sosok Osama bin Laden, pendiri organisasi al-Qaeda sebagai otak di balik serangan tersebut.

Pada 11 September 2001 terjadi pembajakan maskapai penerbangan dan serangan bunuh diri. Peristiwa 9/11 atau 11/9 dilakukan mereka yang terkait dengan Al-Qaeda sebuah kelompok yang berdiri pada saat perang Afghanistan sekitar tahun 1986. Serangan ini memang menyasar Amerika Serikat sebagai target dan kemudian menjadi yang paling mematikan bagi negara adidaya tersebut.

Hal tersebut membuat berbagai pandangan negatif menyebar di masyarakat. Setelah kejadian tersebut orang menyamaratakan seluruh orang yang beragama Islam berpaham radikal dan terorisme. Pandangan ini juga yang membuat wanita bernama Myriam Francois Cerrah begitu marah dan emosional terhadap Islam karena menyaksikan betapa banyaknya nyawa melayang dan motif ideologis yang dibawa-bawa oleh pelaku.

Wanita yang diterima di Universitas Cambridge dan mengambil studi filsafat ini bahkan sempat berdebat soal Tuhan dengan teman kuliahnya. Sang teman menggunakan dalil ketuhanan sesuai konsep dalam Islam. Tak puas dengan debat itu, Myriam mempelajari Islam langsung dari Al Quran.

"Saya mempelajarinya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang muslim itu salah," kata Myriam.

Kemudian ia mulai membaca Al Quran dengan pikiran yang lebih terbuka. Baru membaca Al Fatihah ia mengaku sudah tercengang.

"Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya," kata dia dikutip dari channel YouTube Hidayatullah Tv.

Bertolak belakang dengan agamanya yang mengajarkan dosa warisan. Terlebih kata Myriam semua yang termuat dalam Al Quran seakan-akan mencerminkan gabungan berbagai pemikiran filsafat yang ia pelajari sejauh ini. Hal itu semacam kombinasi perenungan Kant, Hume, Sartre dan Aristoteles.

"Sebagai seseorang yang selalu memiliki minat dalam filsafat, Al Quran terasa seperti puncak dari semua renungan filosofis saya," kata dia.

Ia mengakui, mendalami Al Quran membuatnya menemukan jawaban dari misteri sumber kehidupan.

"Entah bagaimana Al Quran dalam sekejap berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis mendalam yang diajukan selama berabad-abad tentang eksistensi manusia dan menjawab satu yang paling mendasar terkait alasan mengapa manusia diciptakan," kata dia.

Semakin lama ia belajar Al Quran, semakin besar keinginan Myriam untuk menganut agama Islam. Tujuan semula mendebatkan argumentasi temannya, berubah menjadi pengakuannya kepada sang teman tentang kebenaran agama Islam.

Tak mau membuang waktu, Myriam segera bersyahadat. Ia mengatakan, konversi keimanannya bukan sebagai reaksi atau oposisi terhadap budaya Barat namun sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang selalu dipikirkannya.

Setelah lebih dalam mempelajari Islam ia menyebut bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai seseorang yang membuatnya termotivasi untuk mengubah kariernya. Myriam menggambarkan Nabi Muhammad sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah yang telah disalahpahami.

Myriam pun mengutip beberapa perkataan populer Nabi Muhammad SAW dan salah satu kutipan favoritnya adalah 'Maafkan orang yang bersalah kepada Anda. Jalinlah hubungan dengannya. Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat jahat kepada Anda dan berbicaralah tentang kebenaran bahkan jika itu bertentangan dengan diri Anda sendiri'.