Benda Ini Disengaja Dikorbankan demi Menyelamatkan Manusia

Lazuardhi Utama, Novina Putri Bestari
·Bacaan 2 menit

VIVA – Mengamati gunung berapi dari jarak dekat bukanlah perkara mudah, termasuk mengukur emisi gas di dalamnya. Untuk menjawab persoalan itu sejumlah peneliti mendesain sebuah pesawat nirawak atau drone.

Melansir laman Live Science, Selasa, 3 November 2020, drone ini bisa membantu memonitor dan memperkirakan letusan gunung berapi di masa depan.

Dengan menggunakan drone dapat membantu peneliti untuk mengetahui informasi lebih banyak soal gunung berapi yang tidak dapat diakses, termasuk juga kontribusinya pada siklus karbon global.

Baca: 10 Gunung Berapi Berbahaya di Dunia, Indonesia Masuk Daftar

Drone spesial ini diperbantukan untuk mengumpulkan data dari Gunung Berapi Manam yang berlokasi di Papua Nugini. Manam merupakan salah satu gunung berapi aktif yang berada di sebuah pulau seluas 10 kilometer dengan jumlah penduduk lebih dari sembilan ribu jiwa.

Salah satu letusan terbesar Manam terjadi pada 2004 yang memaksa seluruh warga untuk mengungsi, menghancurkan rumah, dan tanaman sekitar. Daerah sekitar Manam sangat berbahaya untuk dilakukan penelitian oleh manusia. Maka drone membantu tim peneliti untuk menghitung gas emisi lebih akurat lagi.

Tim peneliti melakukan peneliti pada Oktober 2018 dan Mei 2019 dengan menggunakan dua tipe drone jarak jauh. Perangkat itu terbang lebih dari dua ribu meter untuk perjalanan sejauh enam kilometer.

Setiap drone mengambil gambar Manam dan dua kawahnya. Hasilnya ada peningkatan hembusan atau degassing gunung sejak Oktober 2018 dan Mei 2019.

Faktanya, Manam segera meletus pada Juni 2019. Gunung Berapi Manam mengeluarkan sekitar 3.700 ton Co2 dan 5.100 ton So2 setiap hari atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

"Inilah pendekatan baru kami. Mengoperasionalkan drone jarak jauh dengan ketinggian yang memungkinkan untuk pengukuran. Suka tidak suka, itu adalah satu-satunya cara yang layak untuk mengidentifikasi emisi gas pada gunung berapi aktif yang curam serta berbahaya seperti Manam," tulis tim peneliti.

Pada awal Agustus 2020, akun Instagram @volcanoes_life merilis 10 gunung berapi berbahaya di dunia. Dari keseluruhan itu dua nama gunung yang terletak di Indonesia masuk daftar. Pada urutan keenam adalah Gunung Agung di Bali dan ke sepuluh yaitu Gunung Kelud di Jawa Timur.

Mengutip postingan tersebut, nomor pertama ditempati oleh Gunung Iwo Jima di Jepang, Gunung Apoyeque di Nikaragua, Gunung Campi Flegrei di Italia, dan Gunung Trans Mexico Volcanic Belt di Meksiko.