Bentara Budaya Gelar Pameran Wayang Rupa Kita hingga 4 Desember 2021

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pameran wayang bertajuk “Wayang Rupa Kita” yang dikuratori oleh Nanang HP kini tengah diselenggarakan oleh Bentara Budaya sejak 19 November kemarin hingga 4 Desember 2021.

Berlokasi di Bentara Budaya Jakarta, pembukaan pameran yang dilangsungkan pada 18 November 2021 lalu, bisa disaksikan secara virtual melalui kanal YouTube Bentara Budaya.

Pada pameran ini, deretan koleksi wayang milik Bentara Budaya yang akan ditampilkan meliputi Wayang Kulit, Wayang Golek, serta Wayang Suket (rumput).

Karya-karya tersebut dipilih dan disusun sebagai penggambaran adegan-adegan yang berdasarkan pada kisah-kisah tertentu.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ada 17 Adegan

Pameran Wayang Rupa Kita yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 19 November hingga 4 Desember 2021. (Bentara Budaya)
Pameran Wayang Rupa Kita yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 19 November hingga 4 Desember 2021. (Bentara Budaya)

Di sini terdapat 17 adegan wayang berbentuk instalasi di atas batang pisang yang disertai oleh beberapa kacadengan tema wayang, serta lukisan wayang di atas kanvas.

Karya wayang kulit dan wayang golek merupakan hasil kreasi padepokan Asep Sunarya. Sedangkan wayang suket atau wayang rumput tidak lain adalah karya Kasan Wikrama yang lebih dikenal dengan Mbah Gepuk.

Wayang suket dibuat dari bahan rumput khusus yang hanya tumbuh di bulan Sura. Sehingga disebut rumput Kasura-an (Kasuran).

Makna Tema Wayang Rupa Kita

Pameran Wayang Rupa Kita yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 19 November hingga 4 Desember 2021. (Bentara Budaya)
Pameran Wayang Rupa Kita yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 19 November hingga 4 Desember 2021. (Bentara Budaya)

Tema “Wayang Rupa Kita” bisa diartikan sebagai ragam rupa wayang yang mencerminkan diri kita sebagai manusia sekaligus penikmat yang melihat aneka lakon tersebut.

Wayang bukan semata bayangan di layar pertunjukan. Namun juga bayang-bayang kehidupan dengan aneka rupa, karakter serta polahnya.

Aneka karakter wayang dalam beragam lakon dan peristiwa yang terjadi ribuan tahun sebelum kita lahir, sesungguhnya dapat menjadi cermin bagi diri masing-masing.

Bukan Sekadar Benda Koleksi

Pameran Wayang Rupa Kita yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 19 November hingga 4 Desember 2021. (Bentara Budaya)
Pameran Wayang Rupa Kita yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 19 November hingga 4 Desember 2021. (Bentara Budaya)

Pameran ini bukan sekadar mempresentasikan wayang sebagai benda koleksi. Namun juga sebagai bentuk eksplorasi tradisi bersama upaya reflektif serta mencari solusi atas berbagai persoalan yang kini merundung keseharian kita.

Bersama upaya refektif itu kita tak hanya mengenali diri lebih dekat, tetapi juga akan menemukan jawaban-jawaban yang masih kontekstual atas permasalahan pada masa modern saat ini.

Menjaga Tradisi

Pameran “Wayang Rupa Kita” juga menjadi wujud dari upaya Bentara Budaya untuk menjaga tradisi dan kebudayaan Indonesia.

Caranya adalah dengan menampilkan wayang kepada masyarakat luas. Terutama generasi millennial dan generasi Z dengan kemasan yang menarik sekaligus relevan dengan fenomena yang dihadapi saat ini.

Wayang bukanlah warisan tradisi yang membosankan. Kehadirannya justru mengandung nilai-nilai luhur serta mendalam. Terdapat juga bekal untuk menghadapi perkembangan situasi terkini yang semakin rumit.

Terbuka untuk Umum

Pada pembukaan pameran, akan dihadirkan catatan kuratorial pameran yang disampaikan oleh Nanang HP. Lalu pengantar oleh Hermanu selaku Kurator Bentara Budaya, Paulina Dinartisti sebagai Manajer Bentara Budaya, dan Ika W Burhan sebagai Kepala Bidang Event Production Bentara Budaya.

Pameran ini terbuka untuk umum sejak pukul 11.00 - 16.00 WIB di Bentara Budaya Jakarta. Caranya adalah dengan melakukan registrasi terlebih dahulu secara daring.

Bentara Budaya berharap pameran ini dapat menjadi edukasi positif lintas generasi. Tak hanya bagi mereka yang ‘senior’, tetapi juga kaum milenial. Sehingga semua generasi bisa memetik nilai-nilai sejarah, budi pekerti, catatan sejarah, maupun legenda di masa lalu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel