Bentrok Musi Rawas diduga karena transaksi politik

MERDEKA.COM. Bentrokan terjadi di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Sedikitnya, empat orang tewas terkena peluru dari pihak kepolisian. Wakil Ketua DPD La Ode Ida mengaku sangat prihatin atas insiden tersebut. Dia pun mengutuk aksi penembakan yang dilakukan oleh polisi.

"Kami mengutuk tindakan polisi yang kemudian menembak menjadikan warga Musi Rawas itu korban. Sebenarnya itu tidak perlu terjadi dan polisi pada kasus ini boleh dikatakan memancing di air keruh. Tidak saatnya untuk menembak, apalagi menjadikan warga kita korban," jelas La Ode dalam jumpa pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/5).

La Ode menjelaskan, sebetulnya konflik ini tidak perlu terjadi karena DPD telah selesai melakukan verifikasi terhadap Musi Rawas yang dinyatakan sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB). Namun, dalam proses pengesahan antara DPR dan pemerintah masih belum menemukan titik cerah.

"Tidak ada masalah, dokumen yang dibutuhkan sesuai dengan persyaratan di DPD. Sejak 2007 sudah lengkap tidak ada alasan menunda keputusan untuk Musi Rawas sampai dengan tiga kali masa sidang," terangnya.

Dia mengaku heran mengapa DPR dan pemerintah tidak juga menetapkan Musi Rawas sebagai DOB. La Ode pun menduga ada proses transaksi politik yang belum selesai dilakukan oleh oknum anggota DPR, sehingga menyebabkan berlarutnya penetapan Musi Rawas sebagai DOB.

"Makanya ada kecurigaan, ada semacam transaksional yang tidak selesai. Kami tidak mau seperti ini. Karena kami pejabat di negeri ini tidak boleh memeras rakyat," tegas dia.

Caleg dari PAN ini juga mengaku mendapatkan kabar dari masyarakat setempat bahwa ada oknum yang meminta uang kepada masyarakat demi mempercepat proses pemekaran Musi Rawas.

"Informasi itu berselebaran, tapi ini seperti bau busuk saja. Saya mendengar itu dari yang sudah mekar juga, atas nama lembaga tertentu untuk menyetok ke Jakarta. Ada informasi ada pihak tertentu yang datang ke panitia pemekaran. Bau busuk menyengat sekali. Tapi kita tidak tahu asalnya dari mana," tandasnya.

Diketahui, Aksi demontrasi warga Musi Rawas yang menuntut pemekaran wilayah pada senin (29/04) sedikitnya memakan 4 korban jiwa. Keempat korban tewas diduga karena terkena peluru polisi saat terjadi bentrok antara warga dan kepolisian.

Berikut nama-nama korban bentrokan yang terjadi di Musi Rawas Utara:

1. Mitson 50 tahun Desa Muara Rupit Meninggal Luka Tembak pada dada kiri.
2. Padila 45 tahun Desa Karta Sari Meninggal Luka Tembak di kepala.
3. Rinto 17 tahun Desa Muara Rupit Luka tembak di dada kanan.
4. Suharto 17 tahun Desa Muara Rupit Meninggal Luka tembak di kepala.

Topik pilihan:
Jokowi vs Lurah Warakas | Hari Pendidikan Nasional | Google Glass | Susno Buron | Caleg Artis 

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.