Bentrok Perbatasan, Jenderal Azerbaijan Tewas Digempur Tentara Armenia

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Azerbaijan menyatakan salah seorang jenderal dan lima perwira lainnya tewas dalam pertempuran hari ketiga dengan pasukan Armenia di perbatasan kedua negara.

Jumlah tentara Azerbaijan yang tewas secara keseluruhan mencapai 11 orang. Di pihak Armenia, empat tentaranya tewas – termasuk dua perwira.

Kedua negara tersebut merupakan bagian dari Uni Soviet yang runtuh pada 1990-an. Mereka bertempur memperebutkan wilayah pegunungan, dalam sengketa yang belum terselesaikan.

Nagorno-Karabakh diakui secara internasional sebagai wilayah Azerbaijan, namun dikendalikan etnis Armenia. Akan tetapi, pertempuran militer kedua negara justru berlangsung di bagian utara wilayah yang disengketakan.

Pihak Azerbaijan mengatakan pertempuran sengit berlangsung di Distrik Tovuz, yang berbatasan dengan Tavush di bagian timur laut Armenia.

Dmitry Peskov, juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, mengatakan Rusia "amat prihatin" dengan aksi kekerasasan tersebut dan bersedia untuk menjadi penengah.

"Kami mendesak kedua pihak menahan diri dan menaati kewajiban-kewajiban mereka di bawah gencatan senjata."

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merilis pernyataan yang "mengecam dalam makna terkuat kekerasan di sepanjang perbatasan internasional Armenia-Azerbaijan" serta menyerukan kedua pihak menghentikan pertempuran dan mematuhi gencatan senjata.

Apa yang terjadi di perbatasan?

Kedua pihak saling menuding membombardir wilayah permukiman sipil di perbatasan.

Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan seorang pria berusia 76 tahun tewas di Desa Agdam, akibat artileri Armenia.

Map
Map

Sebelumnya, kementerian tersebut mengatakan sebanyak empat serdadu Azerbaijan tewas dalam bentrokan pada Minggu (12/07) dan Senin (13/07), melibatkan tank dan artile

Sementara itu, Armenia menuduh Azerbaijan membombardir Kota Berd.

Militer Azerbaijan mengatakan telah menghancurkan benteng Armenia dan artileri sehingga menimbulkan "ratusan" korban tentara Armenia.

Armenia membantah adanya korban dalam jumlah sedemikian banyak. Yang dilaporkan adalah beberapa orang terluka dan dua perwira tewas.

Dalam pertemuan darurat pada Senin (13/07), Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, berkata: "Kepemimpinan politik dan militer Armenia akan memikul tanggung jawab sepenuhnya atas provokasi ini."

Akan tetapi, Armenia menuding tetangganya "menggunakan artileri dalam serangan yang bertujuan merebut posisi [Armenia]."

"Agresi terhadap keamanan populasi warga sipil Armenia akan mendapat tanggapan setimpal, yang tanggung jawabnya dipikul Azerbaijan sebenuhnya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Armenia.

Bagaimana sejarah konflik kedua negara?

Kedua bekas negara anggota Uni Soviet ini melancarkan pertempuran pada 1990-an, ketika Armenia mendukung etnik mayoritas Armenia di Nagorno-Karabakh. Gencatan senjata disepakati pada 1994.

Ketegangan kemudian memuncak menjadi konflik pada 2016, ketika kedua negara bentrok di teritori yang disengketakan selama empat hari. Kala itu, BBC melaporkan dari wilayah kedua pihak.

Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) sudah lama mengupayakan agar perseteruan kedua negara ditengahi. Para diplomat dari Prancis, Rusia, dan AS – yang tergabung dalam Kelompok OSCE Minsk – berusaha membangun gencatan senjata.