Berani bercerita dan berkarya, langkah awal buat film independen

·Bacaan 2 menit

Dua sosok di balik film pendek "Makmum" (2017) dan penulis adaptasi film panjang berjudul sama, "Makmum" (2019) dan "Makmum 2" (2021), Riza Pahlevi dan Vidya Talisa Ariestya mengatakan cerita yang kuat dan keberanian dalam berkarya merupakan langkah awal dan penting dalam memulai membuat film independen (indie).

Baca juga: Film horor masih jadi pilihan penonton Indonesia

Bagi Riza, dasar dari film adalah bagaimana dapat menjadi media penyampaian cerita dan pesan yang lebih luas.

"Film itu basic-nya adalah medium penyampaian cerita dari pembuatnya ke penonton. Ruh dari film adalah cerita. Fokus ke sana, buat cerita yang bagus dengan memperbanyak referensi tontonan," kata Riza kepada ANTARA, Sabtu.

"Jangan takut bikin film dengan alat apa pun yang kamu punya. Filmmaking itu proses belajar, learning by doing. Kita akan tahu ketika kita semakin sering terlibat. Jangan terpaku dengan budget dan alat, agaknya penting buat diingat," ujarnya menambahkan.

Sementara, Vidya menengok ke belakang, ketika ia, Riza, dan kawan-kawannya di bangku kuliah mulai membuat film pendek "Makmum" pada tahun 2015. Keterbatasan yang mereka alami kala itu rasanya tidak menjadi tantangan berarti bila dibandingkan dengan semangat yang mereka miliki.

Akhirnya, proses itu berbuah manis untuk tampil di festival film, memenangkan penghargaan, hingga kemudian diadaptasi menjadi format film panjang dan memiliki sekuel.

"Kita tidak pernah tahu keisengan ini akhirnya akan sejauh ini. Perjalanannya panjang," kenang Vidya.

Untuk para pembuat film muda, Vidya mengatakan penting bagi mereka untuk cerdas dalam memanfaatkan kesempatan yang ada untuk terus belajar dan terlibat dalam pembuatan film.

"Aku berkaca dari pengalamanku. Aku sendiri tidak menyangka, keisengan itu bakal berjalan sejauh ini. Punya teman-teman dan tim yang solid itu juga penting. Tim memang tidak selalu sejalan, pasti ada debat dan itu wajar," kata Vidya.

"Dari situ, manfaatkan peluang. Sekarang ini kayaknya mindset kita buat film harus 'menghasilkan uang'. Padahal, menurutku, (monetisasi) itu proses. Kalau kita sudah melakukannya dan manfaatkan kesempatan dengan baik, uang itu datang sendiri. Jadi, mulai dulu, dan dari kesempatan yang satu akan muncul peluang-peluang lain," imbuh wanita lulusan Sekolah Tinggi Multimedia Yogyakarta tersebut.


Baca juga: Dee Company tak mau buru-buru garap "Makmum" sekuel ketiga

Baca juga: Produser ungkap sempat ragu rilis "Makmum 2"

Baca juga: Tujuh film horor Indonesia yang banyak dibicarakan sepanjang 2019

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel