BERANI BERUBAH: Kelola Atap Masjid untuk Tanaman Hidroponik

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta- Tak ingin berdiam diri selama pandemi covid-19, Sofyan bersama keenam temannya mencari cara agar produktif. Tujuannya agar mereka bisa tetap menghasilkan sesuatu meski di tengah kondisi sulit.

Tak lama, sebuah ide pun muncul di benak para jemaah Masjid Baitussalam Jakarta Barat ini. Karena banyaknya orang menganggur, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) akhirnya dibentuk. Mereka kemudian mengajak warga Berani Berubah dengan bertani menggunakan sistem hidroponik.

“MB Farm dimulai awal pandemi, kurang lebih bulan Maret 2020 terbentuk MB Farm. Kita para petani didukung Ketua DKM membuat sistem hidroponik yang berada di rooftop Masjid Baitussalam,” jelas Sofyan kepada Tim Berani Berubah.

“Awalnya sih enggak ada ilmu enggak ada apa, kita belajar secara manual dari Youtube, dari media-media, dari sharing teman, gitu aja sih,” lanjutnya.

Sofyan sendiri bertindak sebagai Ketua Kelompok Masjid Baitussalam Farm. Dia mengatur para petani yang jumlahnya 15 orang untuk bergantian merawat tanaman hidroponik. Mereka pun bisa memanen hingga 30 kilogram.

Namun, bukan hanya untuk menambah pendapatan, tapi juga untuk mengisi waktu. Sofyan dan teman-temannya bersama mewujudkan ide ini agar jemaah masjid punya kegiatan untuk menyibukkan diri.

“Ya salah satu manfaatnya kita cari pengalaman, cari ilmu jemaah untuk bisnis hidroponik, untuk pemberdayaan hidroponik. Jadi salah satu manfaatnya juga hasil dari ini kita untuk nyumbang masjid,” tutur dia.

“Ini untuk bisa nambahin infaq ke masjid hasilnya tuh. Kisaran harga kita per-pack 400 gram dengan harga Rp 10.000. Itu sudah termasuk kita berinfaq ke masjid,” sambung Sofyan.

Sistem Hidroponik Lebih Efektif

Jemaah yang mengurus tanaman hidroponik di atap Masjid Baitussalam Jakarta Barat ini mampu memanen 30 kg sayur dalam sekali panen. (Foto: Liputan6.com).
Jemaah yang mengurus tanaman hidroponik di atap Masjid Baitussalam Jakarta Barat ini mampu memanen 30 kg sayur dalam sekali panen. (Foto: Liputan6.com).

Sebelum menanam secara hidroponik, Sofyan dan yang lain sempat mencoba bercocok tanam di tanah. Namun, dia menilai hasilnya kurang maksimal. Setelah diskusi bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan sistem hidroponik.

“Mungkin pertama kali ada pengarah dari anak mahasiswa IPB yang kita undang ke sini, di situ. Ya sudah main hidroponik saja di pipa katanya gitu. Ya sudah saya sama orang mahasiswa IPB main hidroponik,” ungkapnya.

“Keuntungannya kita menanam hidroponik, tidak pakai pestisida, aman, higienis, dikonsumsi masyarakat,” dia mengakhiri.

Pastinya cerita ini menjadi kisah inspiratif untuk pantang menyerah di saat kondisi terpuruk. Yuk, ikuti kisah ini maupun yang lainnya dalam Program Berani Berubah, hasil kolaborasi antara SCTV, Indosiar bersama media digital Liputan6.com dan Merdeka.com.

Program ini tayang di Stasiun Televisi SCTV setiap Senin di Program Liputan6 Pagi pukul 04.30 WIB, dan akan tayang di Liputan6.com serta Merdeka.com pada pukul 06.00 WIB di hari yang sama.

Ingin tahu cerita lengkapnya, simak dalam video berikut ya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel