Berapa Lama Seseorang Kebal Virus Corona Setelah Sembuh COVID-19?

·Bacaan 4 menit

Jakarta - Pertanyaan mengenai kekebalan setelah terinfeksi Virus Corona COVID-19 sudah membayangi sejak awal pandemi. Terlebih setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sesumbar dalam sebuah kampanye, "saya kebal COVID-19."

Pernyataan itu diungkapkan Trump setelah keluar dari rumah sakit akibat terpapar Sars-Cov-2. Namun riset teranyar dari Inggris meragukan, apakah Truml benar-benar imun terhadap Virus Corona.

Dalam uji coba selama tiga bulan di Inggris dari Juni hingga September yang diikuti 365.104 responden, jumlah orang yang dites positif memiliki antibodi Virus Corona, turun hingga 26,5%. Penelitian yang disebut REACT ini dikoordinir oleh Imperial College London.

Metode tes menggunakan pengambilan sampel darah dari ujung jari, untuk mengecek eksistensi antibodi COVID-19 dalam darah. Hasilnya, respons antibodi terhadap Virus Corona setelah sembuh dari COVID-19, turun lebih cepat dari perkiraan. Artinya kekebalan juga turun.

Meski begitu, belum jelas apakah ini bisa memicu gelombang kedua infeksi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Mitos yang Membuat Tubuh Kebal COVID-19

Banner Infografis Infografis WHO Akui Kemungkinan Penularan Covid-19 via Udara. (Liputan6.com/Trieyasni)
Banner Infografis Infografis WHO Akui Kemungkinan Penularan Covid-19 via Udara. (Liputan6.com/Trieyasni)

Mitos seputar virus corona (COVID-19) semakin banyak beredar di masyarakat, bahkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya kerap dipercaya. Padahal, akan menyesatkan bahkan merugikan.

Mitos tersebut di antaranya hal yang membuat kita kebal dari penularan COVID-19, dikutip dari berbagai sumber berikut daftar mitos tersebut:

Mitos: Suplemen vitamin C akan menghentikan Anda tertular COVID-19

Para peneliti belum menemukan bukti bahwa suplemen vitamin C dapat membuat orang kebal terhadap infeksi Covid-19. Faktanya, bagi kebanyakan orang, mengonsumsi vitamin C ekstra bahkan tidak menangkal flu biasa, meski dapat mempersingkat durasi pilek jika Anda tertular.

Konon, vitamin C memiliki peran penting dalam tubuh manusia dan mendukung fungsi kekebalan normal. Sebagai antioksidan, vitamin menetralkan partikel bermuatan yang disebut radikal bebas yang dapat merusak jaringan dalam tubuh. Ini juga membantu tubuh mensintesis hormon, membangun kolagen dan menutup jaringan ikat yang rentan terhadap patogen.

Jadi, vitamin C mutlak harus dimasukkan dalam makanan harian jika ingin menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh. Tetapi dosis tinggi suplemen tidak mungkin menurunkan risiko Anda tertular Covid-19, dan paling banyak memberi Anda keuntungan sederhana terhadap virus, jika Anda terinfeksi.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa apa yang disebut suplemen penambah kekebalan - seperti seng, teh hijau atau echinacea - juga membantu mencegah Covid-19.

Berhati-hatilah dengan produk yang diiklankan sebagai perawatan atau obat untuk virus corona baru. Sejak wabah Covid-19 dimulai di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) telah mengeluarkan surat peringatan kepada tujuh perusahaan karena menjual produk palsu yang berjanji untuk menyembuhkan, mengobati, atau mencegah infeksi virus.

Minum Pemutih hingga Alkohol

Banner Rapid Test, Tes Massal Virus Corona Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Banner Rapid Test, Tes Massal Virus Corona Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)

Mitos: Meminum pemutih atau disinfektan lain dapat melindungi dari COVID-19

Anda sama sekali tidak boleh minum pemutih atau disinfektan rumah tangga lainnya, dan juga tidak boleh menyemprotkannya ke tubuh. Zat ini beracun jika tertelan, dan juga dapat menyebabkan kerusakan pada kulit dan mata, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.

Ketika tertelan, natrium hipoklorit (pemutih rumah tangga) dapat menyebabkan apa yang disebut "nekrosis pencairan," atau proses yang mengakibatkan transformasi jaringan menjadi massa kental cair, Live Science sebelumnya melaporkan. Pemutih juga dapat merusak sel karena natrium bereaksi dengan protein dan lemak di jaringan seseorang dalam proses yang disebut saponifikasi (sabun), kata dokter medis pada tahun 2018 dalam sebuah publikasi oleh Emergency Medicine Residents Association.

Yang mengkhawatirkan, hampir 4 dari 10 orang dewasa Amerika dalam survei baru-baru ini melaporkan terlibat dalam praktik berbahaya pembersihan untuk mencegah Covid-19, seperti mencuci makanan dengan pemutih, menggunakan produk desinfektan rumah tangga pada kulit mereka atau dengan sengaja menghirup uap dari produk pembersih.

Mitos: Minyak Wijen Halangi Virus Corona Masuk Tubuh

Menurut WHO, menggunakan minyak wijen pada hidung tidak akan membunuh atau menghalangi virus corona untuk masuk dalam tubuh. Sebenarnya memang ada desinfektan seperti berbasis pemutih/klorin, etanol 75 persen, asam perasetat atau kloroform, yang bisa membunuh virus corona pada permukaan.Namun, cairan desinfektan ini sedikit atau tidak memiliki dampak untuk mencegah virus corona, bila kita menggunakannya di kulit atau bawah hidung.

Hal tersebut dapat membahayakan kulit, khususnya mata dan mulut.

Mitos: Minum minuman beralkohol membuat Anda terlindung dari infeksi COVID-19

Minum minuman beralkohol tidak dapat melindungi Anda dari bahaya infeksi COVID-19. Minuman beralkohol justru berbahaya bagi kesehatan, terutama jika Anda mengonsumsinya secara berlebihan.

Infografis 3 Hormon Bahagia Jaga Imunitas Tubuh dari COVID-19

Infografis 3 Hormon Bahagia Jaga Imunitas Tubuh dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Hormon Bahagia Jaga Imunitas Tubuh dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan video pilihan di bawah ini: