Berapa Pengeluaran Jika Punya Mobil atau Motor Listrik?

Merdeka.com - Merdeka.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pro kontra di berbagai kalangan, utamanya karena akan mempengaruhi pengeluaran masyarakat. Di tengah kisruh tersebut, pemerintah mulai mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik karena diklaim bisa menghemat pengeluaran.

Selain lebih hemat, penggunaan kendaraan listrik bisa membantu pemerintah mengurangi emisi karbon di Indonesia. Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan, diperlukan upaya memitigasi perubahan iklim dengan menurunkan emisi karbon (dekarbonisasi) dengan tetap menjaga ketahanan energi.

Upaya mitigasi yang dilakukan antara lain dengan pengembangan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan penggunaan energi fosil, dan peningkatan penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Kementerian ESDM terus mendorong program KBLBB untuk mewujudkan penggunaan energi yang lebih bersih, pengurangan impor BBM, penghematan devisa serta penurunan emisi CO2.

"Hal ini menjadikan transisi energi semakin urgen untuk dilaksanakan sebagai arah kebijakan energi nasional ke depan yaitu transisi menuju energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan sesuai dengan komitmen Indonesia pada Paris Agreement dan target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat dengan bantuan Internasional," kata Ego beberapa waktu lalu.

Pengeluaran Motor Listrik

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, mengatakan saat ini baru ada 120 unit kendaraan motor yang dikonversi, dan akan dilakukan uji coba dengan jarak 10.000 km. Adapun komponen yang dikonversi berasal dari komponen impor dan komponen dalam negeri.

"Ini masih tahap pilot project, kita sudah ada 120 unit yang dikonversi sekarang ini dan sekarang sedang diuji coba untuk jarak 10.000 km yang sedang diuji coba dalam proses jalan, kemudian komponen-komponen apa yang dibutuhkan di sebelah kanan komponen luar negeri dan yang kiri komponen bikinan dalam negeri," kata Arifin di Jakarta, Senin (19/9).

Saat ini tercatat ada 120 juta motor di Indonesia. Jika konversi ini berhasil, maka banyak keuntungan yang bakal diperoleh bagi masyarakat dan negara, salah satunya bisa menghemat pengeluaran penggunaan BBM.

"Di Indonesia ini kan ada 120 juta motor, 10 tahun lagi yang sekarang motor baru udah 10 tahun kan usianya. Kemudian kan dia pakai BBM kira-kira ya 3-4 liter per hari. Nah, itu kalau dikali 120 juta itu sama dengan 700.000 barel yang dipakai kan banyak tuh," ujarnya.

Sedangkan jika menggunakan motor listrik, masyarakat cukup mengisi daya listrik saja. Misalnya, jika harga BBM di kisaran Rp 7.650 per liter maka kurang lebih uang yang keluar setahun untuk bayar BBM mencapai Rp 2,3 juta.

"Tapi kalau pakai motor listriknya cuma keluar duit Rp580.000, dengan BBM yang Rp 10.000 sekarang, maka bedanya makin besar. Jadi manfaatnya itu untuk penghematan masyarakat itu besar," ujarnya.

Sementara, keuntungan untuk negara yaitu pemerintah juga bisa mengurangi devisa impor BBM atau minyak. Maka sekarang adalah waktunya Pamerintah bisa mensosialisasikan program konversi ini, sehingga kedepannya masyarakat itu mau mengganti motornya yang usia di atas 10 tahun diganti dengan listrik.

Pengeluaran Mobil Listrik

Sementara itu, penggunaan mobil listrik juga disebut lebih hemat. Brodan, pemilik mobil listrik mengakui, jika dilihat dari sisi biaya pengeluaran, kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.

Brodan menuturkan, dia pernah menggunakan mobil listriknya dengan jarak sekitar 103 kilometer. Dari kapasitas baterai 100 persen, kemudian berkurang menjadi 51 persen. Dia kemudian mengisi penuh daya mobil di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Biaya yang dihabiskan sekitar Rp38.000.

Biaya yang dikeluarkan Brodan terbilang hemat, jika membandingkan kebutuhan bahan bakar minyak untuk perjalanan 100 kilometer. Brodan menuturkan, mobil berbahan bakar minyak sedikitnya membutuhkan 10 liter untuk menempuh jarak 100 kilometer. Jika mobil tersebut menggunakan BBM jenis pertalite, maka pengguna harus merogoh biaya paling sedikit Rp100.000.

"Kalau beli pertalite saja dengan harga Rp10.000 artinya dia butuh uang Rp100.000 sedangkan saya dapatkan hanya di 30 ribu sekian kalau dibulatkan bisa Rp40.000, artinya ada penghematan sekitar Rp60.000," pungkasnya.

Brodan juga mengatakan bahwa mobil listrik dapat menghemat pengeluaran karena, minim komponen perawatan (fast moving) selayaknya kendaraan berbahan bakar minyak. Pada kendaraan listrik, tidak ada perawatan rutin seperti mengganti oli, atau busi.

Hal lainnya adalah, biaya pajak. Untuk mobil listrik Brodan, pajak tahunan yang dibebankan diperkirakan di bawah Rp1 juta. "Ada pajak tahunan. Cuma karena Wulling masih plat sementara jadi belum ketahuan," ucap Brodan kepada merdeka.com, Senin (19/9).

Brodan memperkirakan harga pajak kendaraan listriknya karena membandingkan kendaraan listrik dengan merek lain seperti Ionic, produksi Hyundai. Dia mengatakan harga pajak tahunan untuk Ionic berada di angka Rp1,1 - Rp1,2 juta.

"Hopefully Wulling bisa Rp500.000," harapnya. [azz]