Beratnya Ujian Hidup pada Masa Lalu Tak Perlu Terus Diratapi

·Bacaan 7 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Ratu Adelia Ariani

Rumah adalah tempat berlindung yang kita harap akan menjaga kita dari serangan petir dan kuyupnya hujan. Tapi apa jadinya, jika tanpa diundang seringnya hujan selalu datang membasahi pipi kita karena petir selalu menggema di dalam rumah yang kita sayangi.

Ibuku adalah seorang ibu biasa yang mengharapkan bantuan dalam mengerjakan tugas rumahnya agar bisa duduk nyaman setelah mengurus keempat anaknya. Sementara ayahku adalah seorang pekerja biasa yang asyik mengasihi perempuan lain dalam hidupnya dan berharap ketika pulang istananya berkilau juga dihiasi dengan prestasi anaknya yang cemerlang.

Setiap hari aku berangkat sekolah yang jaraknya 19 km dari rumah. Aku bangun dengan teriakan alarm pagi ibuku, kemudian mandi dan menyiapkan bekal. Butuh waktu kurang dari satu jam untuk bisa sampai sekolah jika berangkat sebelum jalanan macet. Dengan mata yang berat, aku berusaha agar segala pelajaran dapat terserap dalam otakku. Tapi dengan segala masalah di rumah dan rasa kantuk yang menerpa, ilmu yang harusnya kuserap hanyalah angin yang terpental ketika menabrak dinding. Tidak berhasil masuk tapi aku selalu selamat karena teman baik yang selalu memberi jawaban ujiannya padaku. Terkenalah aku dengan anak pintar dalam keluarga padahal otakku tak lebih baik dari bola yang terisi angin. Sungguh tiada berisi!

Aku ingat, ketika lelah perjalanan panjang ke rumah selama dua setengah jam, aku ingin bisa duduk beristirahat sejenak sambil menonton acara TV kesukaanku. Seringnya, akan kutemui tas, buku, dan sepatuku yang terlempar ke halaman luar. Bukan karena aku belum mandi, tapi karena aku belum menyapu rumah dan terpergok sedang tiduran di depan TV.

Jika sepulang sekolah anak lain bisa mengerjakan tugasnya lalu istirahat, maka itu hanya mimpi untukku. Ya, waktuku habis di jalan. Mataku bosan melihat padatnya jalan, kesabaranku habis menanti angkutan umum yang selalu ngetem, tapi harus kutahan hingga rumahku bersih baru setelahnya aku bisa santai dan tertidur. Lalu bagaimana tugas sekolahku? Semua terlewat begitu saja karena otakku tidak bisa lagi bekerja. Esoknya pasti akan kukerjakan saat pagi dengan menyalin jawaban teman.

Lelah hati dan tenaga yang kurasa bukan hanya dirasakan oleh diriku saja, tapi juga terjadi pada dua kakakku. Cobaan yang terlalu berat kami rasakan sejak kecil, berjuang di rumah, di jalan, dan di sekolah membuat kami merasa jauh dari rasa bahagia. Belum lagi masalah orang tua yang tak harmonis dari masalah sepele sampai masalah besar, semua keributan terpampang jelas dihadapan kami. Otak kami pun semakin rusak, memang tidak terlihat seperti barang yang ikutan rusak di tengah pertikaian.

Perjalanan Hidup Memang Begini Adanya

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Satu per satu kakakku pun mulai berontak dan menunjukan kenakalannya. Mungkin mereka ingin diperhatikan atau mungkin mereka asyik memperhatikan yang tak harusnya jadi pusat perhatian. Hingga akibat ulah mereka dentuman bom menggelegar semakin keras dan membuatku terpaksa belajar untuk lebih baik agar tidak menangis karena bentakan dan teriakan orang tua. Bukan main jenuhnya aku yang selalu jadi saksi ketidaknyamanan di dalam rumahku sendiri.

Lalu banyak waktu kuhabiskan dengan melamun, melamunkan nasib hidupku yang rumit di mana semua orang sibuk dengan dirinya sementara aku sibuk hanya dalam pikiran saja. Sementara waktu terus berlalu tanpa peduli pikiranku yang halu.

Sampai akhirnya lambat laun aku pun belajar bahwa sudah sewajarnya orang tua mempunyai banyak tuntutan. Mereka pun memiliki tanggung jawab yang mewajibkan mereka bekerja tanpa henti dan mengalah tanpa batas demi menghidupi dan memfasilitasi anak-anaknya sesuai kemampuan. Namun, ketika hasil yang didapat anaknya hanya berupa perkara, pengorbanan mereka tak terbayar.

Ya, jelas saja kekecewaan itu tertumpah pada makian dan cacian yang sebetulnya merupakan cara yang salah untuk diluapkan. Mereka lupa menyajikan udara dan pikiran yang sehat untuk memiliki anak yang pintar dan berbakti. Tapi itulah yang orang tuaku bisa. Tiada satu pun ilmu dari TK sampai kuliah yang mengajari kita ilmu parenting bukan?

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yang berusaha hidup dengan apa adanya dan berusaha nyaman ala kadarnya. Aku pernah terlalu putus asa dan menganggap diriku hidup sebagai manusia tiri, hingga apa pun yang aku punya saat itu selalu aku kutuki. Jelas saja, nasibku sangat tak bagus. Karena aku yang tak berulah pada akhirnya aku pula yang gagal kuliah karena uang masuk kampus yang disiapkan untukku tak jadi terkumpul karena habis menutupi utang kartu kredit ayahku yang dipakainya untuk membiayai wanita lain.

Di tahun depannya ibuku mendaftarkan aku dengan modal berutang ke tantenya. Dari situlah aku melihat bahwa ibuku menjadi pengemis saking susahnya demi masa depanku. Aku mulai tergerak untuk maju. Berangkatlah aku ke kampus dengan uang jajan yang hanya pas untuk ongkos. Malah semakin hari semakin kurang, tapi tak pernah aku keluhkan. Ya saking kekurangannya mungkin ibuku lupa kalau ongkos angkutan umum setiap tahun naik atau mungkin beliau hanya mampu mengeluarkan sebanyak itu.

Aku berusaha tidak menuntut dan mencari jalan lain agar memiliki tambahan uang dengan berjualan di kampus. Laris! Entah berapa juta yang kuhasilkan saat itu yang jelas sangat mudah mendapatkan penghasilan agar aku bisa makan di kampus, fotokopi buku dari perpus, membawa jajanan ke rumah, dan membeli baju baru untuk diriku sendiri.

Saat libur panjang datang, biasanya itu menjelang lebaran. Aku pun tak bisa berlibur seperti kebanyakan mahasiswa lainnya karena aku membantu ibuku berjualan kue lebaran. Membuatnya dari setelah sahur sampai tengah malam. Aku harus membantunya karena uangnya pun dipergunakan untuk membayar biaya kuliahku.

Rasa kantuk, haus, dan lapar, hilang dan datang tapi aku harus tetap di situ untuk mengurangi lelahnya ibuku. Selama tanganku bekerja, selama itu pula aku bertanya pada Tuhan. Mengapa aku terlahir di keluarga ini? Mengapa hidupku pahit begini? Mengapa orang lain yang hidup enak? Tapi siapa yang bisa menjawab pertanyaanku pada Tuhanku? Selain diriku sendiri!

Sampai akhirnya aku pun mencoba mengerti bahwa ketidakpuasanku akan fasilitas yang ada tidak akan mengubah nasibku menjadi lebih baik. Aku makin bisa berpikir, bahwa mungkin akulah yang bisa menunjukan jalan yang baik untuk adikku kelak.

Aku harus mengubah pandangan hidupku. Walau bukan untuk menjadi yang sempurna tapi setidaknya bisa lebih berguna untuk masa depanku dan kuharap bisa menjadi contoh yang baik untuk adikku. Walau dengan fasilitas yang sangat seadanya dan walau dengan kelelahan yang sungguh luar biasa. Kuyakini dengan kekuatan doa aku pasti bisa melaluinya.

Akhirnya, terlalu timpang dari kedua kakakku yang langganan ikut semester perbaikan di masa kuliah. Saat itu bahkan aku beberapa kali mendapat IPK sempurna dengan mudah. Hanya dengan tekad ikhlas tanpa memikirkan apa yang akan aku dapat kelak. Begitu mudahnya Tuhan menyentuh hatiku melalui segala pelajaran hidup yang kudapat.

Semakin aku memahami maksud cobaan yang Tuhan hujankan padaku, membuatku mengetahui bahwa seluruh doa orang tuaku yang dipanjatkan untuk anak-anaknya selalu tersangkut kepadaku dan selalu dikabul-Nya lebih cepat untukku dari pada untuk saudaraku yang lain karena selama ini akulah yang bekerja di rumah demi kebersihan dan kenyamanan kedua orang tuaku dan aku pulalah yang berusaha berprestasi demi menjadi pelipur lelah kedua orang tuaku. Aku lulus dengan IPK 3,67 lalu bekerja 4 bulan untuk kemudian dilamar oleh sahabat SMA yang sudah lama tak kujumpai.

Kini aku sudah berkeluarga, memiliki satu anak perempuan yang cantik, memiliki satu unit apartemen dan rumah di kawasan yang cukup elit, dan difasilitasi kantor dengan kendaraan bagus di usiaku yang belum genap 30 tahun. Tapi aku tidak perlu lelah lagi di perjalanan untuk bekerja dan tak perlu lagi mondar-mandir berjualan untuk mengisi kantongku sendiri dan tak perlu menonton adegan horor dihadapanku.

Aku hanya perlu bangun pagi menyajikan sarapan dan bekal untuk suamiku, mengurus semua kebutuhan anakku, memastikan rumah bersih dan tertata, mengurus semua properti yang kupunya, menulis yang merupakan hobiku, dan tetap cantik dan langsing di mata suami. Dan satu hal yang paling terpenting, aku tidak mengandalkan orang tua apalagi menyusahkannya.

Itulah cobaan yang membentukku menjadi manusia yang tahan banting. Tantangan baruku kini, hanya harus bisa membagi waktu dengan sangat baik agar semua kewajibanku sebagai ibu dan istri bisa berjalan tanpa cela. Harapku, hanya agar anakku tidak mengulangi takdir yang sama sepertiku karena itu akan menandakan bahwa hidupku bisa jauh lebih baik dari keterpurukanku. Semangat!

#ElevateWomen