Berawal dari Momen Ini, Kuhapus Rasa Canggung Hubunganku dengan Ayah

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

TERKAIT: Bagi Anak Perempuan, Ayah adalah Sosok Pahlawan Hebat Pertama di Hidupnya

TERKAIT: Di Balik Sosok Ayah yang Tampak Kuat, Ada Rasa Lelah yang Disimpan Sendiri

TERKAIT: Ayah, Sosok Paling Sabar yang Jadi Sumber Kekuatanku untuk Selalu Tegar

***

Oleh: Hilda Putri Maulidiyah

Sebagai anak pertama, susah bagiku untuk bisa menunjukkan rasa manja kepada orang tua, lebih-lebih kepada Ayah. Sejak kecil, aku dituntut untuk menjadi panutan bagi adik-adikku. Berusaha untuk tegar dan mandiri, aku dewasa sebelum waktunya. Lebih dekat dengan ibuku, kala itu tak pernah kupeluk hangat Ayahku hingga ayahku menyeletuk bahwa ia sangat ingin anaknya bersikap manja seperti sikap sepupuku pada ayahnya ketika kami sedang bertamu kesana. Namun, jiwaku merasa malu dan segan menuruti hal itu.

24 tahun sudah, aku terlalu gengsi untuk sekedar memeluk Ayahku sendiri. Momen lebaran adalah satu-satunya momen emosional bagiku, momen yang membuatku memiliki alasan untuk memeluk hangat Ayahku tanpa rasa malu dan canggung. Bahkan ketika aku menemukan laki-laki yang kupuja, lagi-lagi ayahku tak tampak di fase hidupku kala itu. Bagiku, pria itu adalah pria terbaik yang kuinginkan dalam hidupku. Maaf Ayah, aku terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Suatu hari, pria yang kucinta, yang sabar dan lemah lembut tapi tak pernah menangis, kehilangan ibunya. Wajah terluka dan air matanya meluluhkan hatiku yang sekeras batu. Sehari sebelumnya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika ia membasuh kaki ibunya dengan penuh kelembutan. Sikap lembut yang tidak biasa kulihat dari seorang pria, kala itu bahkan aku yang tak pernah cemburu pada perempuan manapun, cemburu pada ibunya namun juga bangga padanya.

Saat dia yang kucinta memberitahu bahwa ibunya tiada, suaranya yang terluka mengingatkanku pada orang tuaku sendiri. Bagaimana bila aku kehilangan kedua orang tuaku? Entah mengapa justru malah Ayahku yang kuingat pertama, mungkin karena kesehatannya tidak sebaik ibuku.

Aku seketika menangis, teringat bahwa tak sekalipun aku menunjukkan rasa sayangku secara gamblang. Aku takut bila respons yang kuterima akan menjadi momen canggung diantara kami berdua. Tapi bila tidak dimulai, lalu kapan? Akankah aku menunggu mencium jasad yang hanya diam dan tidak memberikan respons apa pun? Aku tentu lebih memilih respons canggung daripada tidak direspon sama sekali.

Liburan semester berakhir dan aku masih tidak sanggup secara terang-terangan memeluk Ayahku tanpa alasan. Sebulan sudah aku di rumah dan harus kembali ke kampusku di kota lain. Seperti biasa, ayahku mengantarku naik bus. Kupikir inilah momennya.

Mencairkan Rasa Canggung

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dragon+Images
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Dragon+Images

Kulingkarkan tanganku di lehernya dengan canggung, leher beliau kaku dan terlihat kebingungan dengan sikapku. Dengan cepat dan lembut kucium kedua pipinya, lalu kupeluk hangat beliau selama beberapa detik. Dalam diam aku bergumam di hati, “Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Terima kasih telah menjagaku selama ini. Engkau lebih layak kucintai melebihi pria manapun di dunia."

Setelah memeluk Ayahku dengan pesan tersembunyi, aku naik bus, berharap bahwa pesan itu akan tersampaikan dan hal yang mengagetkan terjadi. Aku sempat melihat ayahku mematung cukup lama hingga beliau sadar bahwa bus yang kunaiki mulai berjalan.

Ayahku tersayang berjalan cepat bahkan berlari mengikuti laju bus hanya untuk melambai penuh semangat dan berkata “Hati-hati di jalan. Nanti jangan lupa telepon kalau sudah sampai. Jaga kesehatan, kalau ada apa-apa jangan lupa kirim kabar," pesan yang selalu beliau katakan setiap aku pergi.

Kali ini seperti adegan drama romantis, Ayahku mengejarku sambil mengatakan hal itu berkali-kali. Teringat adegan drama Korea, hanya bedanya kali ini bukan kekasih melainkan Ayahku sendiri, aku tersenyum setengah tertawa. Tanpa sadar aku menangis, emosiku yang kupendam selama ini telah runtuh. Aku sadar aku sangat menyayangi pria yang melihatku membuka mata pertama kali di dunia.

Itu kejadian empat tahun lalu yang tidak akan pernah kulupa seumur hidup. Aku kehilangan pria yang kucintai selama 10 tahun, tapi Ayahku tetap di sana untukku. Aku hancur karena kami memiliki perbedaan yang tidak bisa dipersatukan, tapi Ayahku masih menerima segala kekurangan yang kupunya. Kadang aku berpikir, mengapa aku baru sadar bahwa pria yang mencintaiku sepenuh hati adalah Ayahku.

Lebih Dekat dengan Papa

Ilustrasi./copyright shutterstock
Ilustrasi./copyright shutterstock

Sekarang, sahabatku kaget melihatku menelepon Ayahku dan berbincang layaknya seorang sahabat. Dia berkata, “Astaga, enak banget kamu ngobrol sama Papamu kayak gitu. Kalo papaku mah mana bisa diajak ngobrol gitu, adanya aku dimarahin mulu."

Aku tertawa, dia belum tahu saja kalau aku pun dulu hampir tidak pernah bercerita apa pun kepada Ayahku dan lebih banyak bercerita pada Ibuku. Sekarang aku bisa menjadi diriku sendiri di depan ayahku karena aku tahu aku dicintai tanpa syarat dan apa pun yang terjadi Ayahku akan selalu ada untukku.

Ayah memang terkadang terlihat kaku, tidak berperasaan, dan sangat protektif. Ayah harus begitu karena menjadi tumpuan keluarga. Ayahku penuh pertimbangan bila itu menyangkut anggota keluarga kami dan tidak jarang melarang kami melakukan ini itu. Tapi di saat aku membuka diri, semua dinding itu runtuh.

Hati ayahku lembut pada anak perempuannya. Bagiku, Ayahku adalah sahabat, therapist, strategist, apa pun yang kubutuhkan, Ayahku selalu ada. Bahkan sekarang Ibuku sering iri bila aku menghabiskan banyak waktu menelepon Ayahku.

Bila kalian sepertiku, akankah rasa gengsi menahanmu dari bersikap terbuka pada Ayahmu? Akankah kalian menunggu lebih lama lagi untuk menunjukkan rasa cinta pada pria yang pertama marah ketika kalian terluka? Maukah kalian memeluk hangat pria yang memelukmu erat dan bersyukur akan kehadiranmu di dunia?

Dialah ayahmu, pria pertama yang menatap kedua bola matamu dengan menangis bahagia saat suara tangisanmu menggema di dunia untuk kali pertama. Dialah ayahmu, pria yang masih saja mencintaimu meskipun kamu memilih pria lain untuk kau cintai lebih dari cintanya. Selamat Hari Ayah, Pa. Terima kasih untuk semua.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel