Berawal dari Sekretaris AKBP Yuli Cahyanti Ikut Misi di Sudan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) sudah enam tahun ini mengirimkan anggotanya membawa misi perdamaiaan di bawah payung Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) ke Sudan. Bukan hanya polisi pria, Polisi Wanita (Polwan) pun dikirimkan ke daerah konflik tersebut.

Cerita Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Yuli Cahyanti mungkin bisa memberikan gambaran bagi warga Indonesia, ternyata Polwan Indonesia pun mampu menjalankan misi dengan baik di negeri orang.

Pagi itu, Tribunnews sengaja menemui AKBP Yuli di ruangannya di Gedung Trans Nasional Crime Center Polri lantai 9, Jumat (5/7/2013). Ia bercerita panjang lebar dari mulai dirinya sebelum menjadi polisi sampai akhirnya dikirim ke Sudan dalam rangka membawa misi kemanusiaan.

Wanita kelahiran Jombang, Jawa Timur ini awalnya tidak pernah bermimpi menjadi polisi. Ia awalnya kuliah di Universitas Airlangga dengan jurusan Bahasa Inggris. Setelah lulus ia pun bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ekspor impor di Surabaya dan menjadi pengajar bahasa Inggris. Secara pekerjaan dan penghasilan baginya saat itu sudah lumayan.

Tiba-tiba disaat dia menikmati pekerjaan, dua temannya semasa kuliah yang aktif di Resimen Mahasiswa (Menwa) mendatanginya dan mengajaknya untuk mendaftar ke Sekolah Perwira Prajurit Karir (SEPA PK) di Magelang.

"Saya sebenarnya tidak mau. Tapi teman saya bilang sudah daftar saja. Kemudian saya pun mau mendaftar dengan syarat semua berkas pendaftarannya diurus teman saya, bila ada yang perlu di cap-cap di desa, mereka harus urus.

Tapi teman saya melakukannya," ungkap wanita yang kini bekerja di Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri ini. Pada saat lulus masuk SEPA PK tahun 1994, ia pun merasa kesal dan sempat tidak menerima kenapa dirinya berada di sekolah perwira tersebut.

"Saat itu saya dongkol juga lulus, karena marah dalam hati saya protes, ngapain saya di sini?," kenangnya.

Kemudian orangtuanya lah yang membuat Yuli tetap bertahan mengikuti pendidikan, kebetulan ayahnya seorang anggota TNI Angkatan Udara saat itu. Ia pun mengikuti pendidikan di SEPA PK dan mengambil jurusan kepolisian. Sementara dua temannya mengambil jurusan TNI Angkatan Laut dan Angkatan Darat.

"Kalau jadi TNI Angkatan Darat kesannya macho, saya kan dari sipil, sehingga saya memilih yang tetap ada nuansa kesipilannya," ucap wanita kelahiran 1970 ini.

Itulah awal Yuli menjadi polisi dan akhirnya menikmati menjadi seorang anggota Polri. Selama berdinas di kepolisian Yuli lebih banyak berdinas di Divisi Hubungan Internasional Polri. Sehingga berkomunikasi dengan bahasa asing menjadi hal yang biasa baginya.

Sampai suatu saat Yuli mengemban misi perdamaian ke Sudan selama satu tahun. Baginya budaya dan bahasa adalah kendala yang harus cepat diselesaikan saat masuk dalam lingkungan masyarakat baru. Semua itu bisa dilakukannya.

Keinginan AKBP Yuli Cahyanti mengikuti misi perdamaian ketika dia berkunjung ke Afganistan. Saat itu pangkatnya masih Ajun Komisaris Polisi (AKP) ditugaskan Mabes Polri mengikuti acara Internasional Police Woman. Saat turun dari pesawat di Afganistan dia dikawal ketat visitor counter.

Dari sanalah keinginannya muncul untuk mengikuti misi ke daerah konflik. Ia berfikir saat itu dia akan menjadi visitor counter bila sudah berpangkat Kompol atau AKBP. Sampai akhirnya keinginan tersebut terealisasi pada tahun 2012.

"Untuk melaksanakan tugas itu, saya harus mencari pengalaman, sampai akhirnya dapat tugas ke Darfur saat saya sudah berpangkat AKBP," ucapnya.

Sebelum diberangkatkan ke Darfur, Sudan, Yuli harus bersaing dengan polisi-polisi lainnya mengikuti tes. Tes bahasa Inggris, tes menyetir, dan menembak. Ada dua tahap seleksi yang harus dilalui, pertama yang dilakukan Mabes Polri yang kedua diakukan PBB langsung. Dari sekian banyak polisi dalam angkatannya hanya lulus 100 orang, kemudian nama-nama tersebut dikirim markas PBB di New York dan barulah diseleksi kembali, sampai akhirnya 43 orang dinyatakan lolos, lima diantaranya Polwan.

Sebelum berangkat ia pun sempat mendapatkan pembekalan bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan warga di sana.

"Kita dibekali kursus bahas Arab di Cipinang sekitar dua minggu, tapi waktu seperti itu tentu kurang. Sehingga saat di sana kita hanya menggunakan bahasa Arab umum saja, sehingga walau pun hanya mengucapkan assalamualaikum warga di sana sudah senang," ungkapnya.

AKBP Yuli pun terbang ke Danfur Mei 2012 ke Sudan dan ditempatkan di Darfur bersama rekan-rekannya. Saat itu Yuli meninggalkan anak dan suaminya yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Berat sebetulnya bagi Yuli meninggalkan keluarga, tetapi karena keinginannya yang kuat, AKBP Yuli mampu meredam semuanya itu.

Dia ditugaskan menjadi police advicer, ia sempat mengikuti patroli-patroli di Sudan. Sampai akhirnya ia mendapatkan kesempatan menjadi planning advisor yang ditugaskan Unamid. Tugas-tugas dalam misi ke daerah konflik memang berisiko besar. Tapi niat Yuli yang kuat membuat segala bentuk ketakutan tersebut terkubur.

"Saya niatnya lillahitaala, saya sudah ingin ke sana, bila terjadi sesuatu kepada saya, itu sudah kehendak Tuhan. Saya pasrah sama Tuhan dan saya sampaikan pada keluarga segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan," ungkapnya.

Pengalaman yang bisa ia petik saat menjalankan misi di Sudan, Yuli merasa bersyukur terlahir sebagai orang Indonesia. Melihat keadaan alam di Danfur yang kering dan sulitnya mendapatkan makanan menjadi sebuah hikmah tersendiri baginya.

Selain itu, meskipun dalam proses demokrasi di Indonesia banyak ketidakpuasan, tidak berarti bila dibandingkan dengan kondisi di Danfur.

"Dengan mengikuti misi ini saya merasa Tuhan itu memberikan pelajaran dan membuka mata saya tentang sisi lain dunia ini," ungkapnya.

Baca Juga:

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.