Berbagai Janji Taliban yang Bakal Memerintah di Afghanistan

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Kabul - Taliban berjanji menghormati hak-hak perempuan, memaafkan mereka yang berselisih dengan Taliban, dan memastikan Afganistan tidak menjadi surga bagi para teroris. Janji-janji itu merupakan upaya Taliban yang segera memerintah di Afghanistan untuk dapat berhubungan dengan negara lain di dunia.

Menyusul serangan kilat di Afganistan yang membuat banyak kota jatuh tanpa perlawanan, Taliban berusaha menggambarkan diri mereka lebih lunak daripada saat mereka memaksakan bentuk pemerintahan Islam yang ketat pada akhir 1990-an.

Namun, banyak orang Afganistan yang tetap skeptis, dan ribuan orang berlomba mencapai bandara dengan putus asa untuk melarikan diri dari negara tersebut, seperti dilansir AP News, Rabu (18/8/2102).

Generasi yang lebih tua mengingat aturan Taliban sebelumnya, ketika sebagian besar dari mereka memenjarakan perempuan di rumah mereka, melarang televisi dan musik, dan mengadakan eksekusi di depan umum. Invasi pasukan Amerika Serikat mengusir Taliban dari kekuasaan beberapa bulan setelah serangan 9/11 pada 2001, karena dianggap telah meindungi al-Qaida.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Konferensi Pers Perdana di Kabul

Zabihullah Mujahid berjanji akan menghormati hak-hak perempuan di depan bendera Taliban pada konferensi pers pertamanya di Kabul, Selasa (17/8/2021) (AP Photo/Rahmat Gul)
Zabihullah Mujahid berjanji akan menghormati hak-hak perempuan di depan bendera Taliban pada konferensi pers pertamanya di Kabul, Selasa (17/8/2021) (AP Photo/Rahmat Gul)

Zabihullah Mujahid, juru bicara lama Taliban muncul dari bayang-bayang pada hari Selasa yang merupakan penampilan pertamanya untuk mengatasi masalah-masalah lewat konferensi pers.

Ia berjanji, Taliban akan menghormati hak-hak perempuan dalam norma-norma hukum Islam, tanpa penjelasan lebih lanjut. Taliban telah mendorong perempuan untuk kembali bekerja dan mengizinkan anak perempuan untuk kembali bersekolah, sambil membagikan jilbab di depan pintu. Seorang pembawa berita perempuan mewawancarai pejabat Taliban pada Senin 16 Agustus di sebuah studio TV.

Perlakuan terhadap perempuan sangat bervariasi di seluruh dunia Muslim. Bahkan, dalam satu negara yang sama perlakuannya dapat berbeda, dengan daerah pedesaan yang cenderung lebih konservatif. Beberapa negara Muslim termasuk Pakistan memiliki perdana menteri perempuan. Sementara Arab Saudi yang ultrakonservatif tak lama ini baru mengizinkan perempuan untuk mengemudi.

Mujahid juga mengatakan, Taliban tidak akan membiarkan Afganistan digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang negara lain, seperti tahun sebelum 9/11 2001. Jaminan tersebut adalah bagian dari kesepakatan damai 2020 yang dicapai antara Taliban dan pemerintah Trump yang membuka jalan bagi penarikan Amerika.

Pentagon mengatakan, para komandan AS sedang berkomunikasi dengan Taliban saat mereka mengevakuasi ribuan orang melalui bandara internasional Kabul. Dikatakan bahwa Taliban tidak melakukan tindakan berseteru di sana.

Mujahid mengulangi bahwa Taliban telah menawarkan amnesti penuh kepada warga Afganistan yang bekerja untuk AS dan pemerintah Barat, dengan mengatakan, "Tidak ada yang pergi ke pintu mereka untuk bertanya mengapa mereka membantu." Ia menambahkan bahwa media harus tetap independen, tetapi jurnalis tidak boleh bekerja melawan nilai-nilai nasional.

Kabul, ibu kota, tetap tenang saat Taliban berpatroli di jalan-jalannya. Namun banyak yang tetap ketakutan setelah dipenjara dan gudang senjata dikosongkan selama serangan pemberontok di seluruh negeri.

Penduduk Kabul mengatakan sekelompok pria bersenjata telah mengetuk dari pintu ke pintu, mencari orang yang bekerja dengan pemerintah dan pasukan keamanan yang telah digulingkan. Namun tidak jelas apakah orang-orang bersenjata itu adalah Taliban atau para kriminal yang menyamar.

Mujahid menyalahkan kerusakan aparat keamanan dari mantan pemerintah, menambahkan bahwa Taliban hanya memasuki Kabul untuk memulihkan hukum dan ketertiban setelah polisi dibubarkan.

Seorang penyiar perempuan di Afganistan mengatakan ia bersembunyi di rumah kerabat karena terlalu takut untuk pulang. Apalagi bekerja. Ia dan perempuan lainnya mengatakan bahwa mereka tidak percaya Taliban telah mengubah cara mereka. Ia berbicara dengan syarat anonim karena takut akan mengancam nyawanya.

Sekelompok perempuan mengenakan jilbab untuk berdemonstrasi sebentar di Kabul. Mereka memegang papan tanda menuntut Taliban untuk tidak menghilangkan perempuan dari kehidupan publik.

Bantuan dari Uni Eropa dan Inggris

Taliban sedang berjaga di pos pemeriksaan yang sebelumnya dijaga oleh pasukan Amerika di dekat kedutaan besar AS, di Kabul, Afghanistan, Selasa (17/8/2021) (AP Photo)
Taliban sedang berjaga di pos pemeriksaan yang sebelumnya dijaga oleh pasukan Amerika di dekat kedutaan besar AS, di Kabul, Afghanistan, Selasa (17/8/2021) (AP Photo)

Penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, mengatakan AS dan pemerintah lainnya tidak akan percaya begitu saja tentang kata-kata Taliban terkait hak-hak perempuan.

“Seperti yang saya katakan selama ini, hal ini bukan tentang kepercayaan. Ini tentang verifikasi,” kata Sullivan pada briefing Gedung Putih. “Dan kami akan melihat apa yang akhirnya dilakukan Taliban dalam beberapa hari dan minggu ke depan, dan ketika saya mengatakan kami, maksud saya adalah seluruh komunitas internasional.”

Apa pun niat Taliban, mereka memiliki kepentingan dalam memroyeksikan sikap lunak untuk mencegah masyarakat internasional mengisolasi pemerintah mereka, seperti yang terjadi pada 1990-an.

Uni Eropa mengatakan pihaknya menangguhkan bantuan pembangunan ke Afganistan sampai situasi politik lebih jelas, tetapi akan mempertimbangkan untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengatakan Taliban harus menghormati resolusi Dewan Keamanan PBB dan hak manusia untuk mendapatkan akses ke sekitar 1,2 miliar euro (20,2 triliun rupiah) dana pembangunan yang dialokasikan hinggan 2024.

Menteri Luar Negeri, Dominic Raab mengatakan Inggris mungkin memberikan bantuan kemanusiaan hingga 10% lebih banyak, tetapi Taliban tidak akan mendapatkan uang yang sebelumnya dialokasikan untuk keamanan.

Aksi Nekat Merengut Nyawa Demi Meninggalkan Afganistan

Kondisi bandara internasional Kabul pada Senin (16/8/2021) (AP Photo/Shekib Rahmani)
Kondisi bandara internasional Kabul pada Senin (16/8/2021) (AP Photo/Shekib Rahmani)

Penerbangan evakuasi dilanjutkan setelah ditangguhkan pada hari Senin, ketika ribuan orang berebutan ke bandara. Dalam adegan mengejutkan yang terekam dalam video, beberapa orang nekat berpengangan pada sebuah pesawat saat lepas landas dan kemudian jatuh hingha tewas. Setidaknya 7 orang tewas dalam kekacauan di bandara, ujar pejabat AS.

Pada hari Selasa, Taliban memasuki bagian sipil bandara, menembak ke udara untuk mengusir sekitar 500 orang di sana, kata seorang pejabat Afganistan dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang untuk memberi tahu wartawan.

Taliban tampaknya berusaha mengendalikan kerumunan daripada mencegah orang pergi. Sebuah video beredar di media daring menunjukkan Taliban mengawasi keberangkatan puluhan orang asing secara tertib.

Kedutaan Besar AS di Kabul yang saat ini beroperasi dari sisi militer bandara mendesak warga Amerika untuk mendaftrar secara daring untuk evakuasi. Namun, jangan datang ke bandara sebelum dihubungi.

Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan pesawat angkut militer Jerman yang pertama mendarat di Kabul lepas landas dengan 7 penumpang karena kekacauan tersebut. Yang lainnya me,mbawa 125 orang.

Presiden AS, Joe Biden mempertahankan keputusannya untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika, menyalahkan cepatnya pengambilalihan Taliban terhadap pemerintah Afganistan dan pasukan keamanan yang didukung Barat.

Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, juga ikut menggemakan pernyataan tersebut. Sambil mengatakan aliansi harus menyelidiki kekurangan dalam upaya untuk melatih militer Afganistan.

Rencana Pembentukan Pemerintah Islam Inklusif

Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Afghanistan menyebut Presiden Afghanistan Ghani telah pergi ke Tajikistan. (AP Photo/Zabi Karimi)
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Afghanistan menyebut Presiden Afghanistan Ghani telah pergi ke Tajikistan. (AP Photo/Zabi Karimi)

Pembicaraan antara Taliban dan beberapa politisi Afganistan, termasuk mantan presiden, Hamid Karzai dan Abdullah Abdullah, yang pernah mengepalai dewan perunding negara itu berlanjut pada hari Selasa. Taliban mengatakan mereka ingin membentuk pemerintah Islam yang inklusif.

Pembicaraan difokuskan tentang bagaimana pemerintah yang didominasi Talliban akan beroperasi mengingat perubahan di Afganistan 20 tahun terakhir, daripada hanya membagi-bagi kementerian, tutur seorang pejabat yang mengetahui negosiasi mengatakan dengan syarat anonim untuk membahas pembicaraan tertutup.

Seorang pimpinan tinggi Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar tiba di Kandahar pada Selasa malam dari Qatar, yang mungkin menandakan kesepakatan sudah didepan mata.

Sementara itu, wakil presiden pemerintah yang diggulingkan mengunggah Tweet bahwa ia adalah presiden sementara yang sah di negara itu. Amrullah Saleh mengatakan bahwa di bawah konstitusi ia harus bertanggung jawab karena presiden Ashraf Ghani telah meninggalkan Afganistan.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel