Berbagai Kendala Anak Berkebutuhan Khusus Saat Hendak Khitan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Proses khitan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak sama dengan proses khitan bagi anak pada umumnya.

Menurut Ketua Umum dan Founder Yayasan Ananda Mutiara Indonesia (Y-AMI) Yenni Darmawanti, SE khitan bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan ruang eksekusi tertutup agar anak tidak kabur. Hal ini tentunya berbeda dengan anak pada umumnya yang bahkan bisa melakukan khitan di lapangan contohnya ketika khitanan massal.

Dilihat dari biaya, khitan untuk anak berkebutuh khusus cenderung lebih mahal dari khitan anak non disabilitas. Hal ini berhubungan dengan berbagai prosedur yang perlu dilalui sebelum khitan hingga biaya bius total yang terbilang mahal. Penanganan dan dokter khusus pun menjadi alasan mengapa tarif lebih mahal dari biasanya.

Setidaknya tiga hari sebelum khitan ABK harus diperiksakan dan dipastikan kondisinya sedang prima. Hal ini untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, berkaitan juga dengan proses penyembuhan pasca khitan.

“Untuk ABK, banyak sekali prosedur yang harus dilewati, mulai dari skrining tesnya harus benar-benar sehat, tidak boleh ada batuk, harus dibius total, sementara saat ini harga sangat mahal kalau harus bius total,” ujar Yenni kepada Liputan6.com, Kamis (19/11/2020).

Bius total diperlukan agar anak tidak melawan saat dikhitan. Guna memastikan keamanan, setidaknya dibutuhkan hingga delapan orang dewasa untuk memegangi anak berkebutuhan khusus yang mengalami kepanikan. Terlebih, bagi ABK yang telah menginjak usia dewasa misal 23 tahun dengan badan besar dan kekuatan yang besar pula.

“Biaya itu sangat memberatkan bagi orangtua yang ekonominya menengah ke bawah.”

Kurangnya Dukungan Keluarga

Selain kendala proses dan biaya, kendala lainnya timbul ketika keluarga tidak memberikan dukungan penuh pada ABK untuk menjalani proses khitan.

“Tidak ada yang membantu bawa anak ke tempat khitan, biasanya kebanyakan dari keluarga ABK itu tidak didukung oleh keluarga (di luar keluarga inti).”

Salah satu contoh kasusnya adalah seorang ibu menggendong anaknya yang berusia belasan tahun menggunakan selendang dengan jarak yang jauh tanpa diantar oleh keluarganya yang lain. Ibu itu naik sepeda motor dari pelosok Surabaya ke Sidoarjo agar anaknya bisa dikhitan.

“Bahkan ada juga yang naik kereta sendirian bawa anak dari Jember ke Sidoarjo.”

Dalam hal ini, jarak pun menjadi kendala tersendiri. Para orangtua rela menempuh perjalanan jauh karena tidak banyak tempat khitan ABK yang sesuai. Jika ada pun, acara khitan massal biasanya diperuntukkan anak non disabilitas.

“ABK boleh itu tapi mereka tidak dikhususkan penangananya sehingga orangtua pun was-was,” pungkas Yenni.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini: