Berbaik Sangka dengan Kontroversi Baju Koko ala Jokowi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ucapan Calon Gubernur Jakarta Joko Widodo yang mengatakan, "Ya bosenlah. Semua yang maju ke pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah, biar kelihatan religius," menuai protes dari Lembaga Kebudayaan Betawi.

Salahkah ucapan Jokowi? Jawabnya adalah tergantung dari bagaimana mempersepsikan kalimat tersebut.

Fikar Arsyad, seorang jurnalis warga (citizen journalism) di kompasiana.com mencoba berbaik sangka.

Lewat tulisannya berjudul "Politik cari-cari Kesalahan Jokowi," Fikar melihat ucapan walikota Solo itu dipolitisir terlalu jauh. Apalagi Jokowi sama sekali tidak menyebut kata-kata Betawi dalam ucapannya.

"Saya rasa kita tidak semestinya membelokkan dari yang sebenarnya. Jokowi suka pakai baju muslim, peci dan saya rasa suka pakai sarung. tapi bukan untuk pencitraan biar kesannya religius. Tempo hari ke (masjid) Sunda kelapa pakai koko putih dan peci, Jumatan dengan baju Muslim dan peci, juga makan di warteg masih menggunakan baju itu (karena setelah Jumatan), juga diundang pengajian beliau pakai peci," tulis Fikar Arsyad.

Seperti diketahui, sekitar 10 hari sebelum kontroversi itu mencuat, Jokowi memang tampak menunaikan sholat Jumat di Masjid Sunda Kelapa pada Jumat 6 April 2012 lalu dengan busana koko plus kopiah.

Fikar menilai dari situ saja sudah jadi bukti gamblang kalau Jokowi sudah terbiasa pakai baju koko plus kopiah. Ia hanya enggan menjadikan penampilan seperti sebagai pencitraan agamis dalam kaitan pencalonan dirinya sebagai calon gubernur Jakarta.

Karena itu, Jokowi memilih simbol-simbol kerakyatan sebagai pencitraan yakni pemakaian produk dalam negeri berupa baju kotak-kotak yang biasa dijual murah meriah di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat.

"Dalam hal ini Jokowi memilih "merakyat" sebagai "pencitraan". Ya, memang Jokowi selama menjabat walikota memang merakyat, tidak hanya saat pilkada. Akan maju DKI ia bagi-bagi beras kepada masyarakat Solo (bukan masyarakat Jakarta)," tulis Fikar.

Fikar menulis lagi, "Ini saya menilai positif daripada sehari-hari jarang pakai baju koko pas mau pilkada tiba-tiba pakai baju koko. Sehari-hari tidak peduli budaya tiba-tiba pas pilkada pakai baju beralasan budaya," sambungnya.

Fikar lantas teringat ucapan Jokowi yang mengaku bosan dengan foto calon gubernur (Cagub) pakai jas. 

"Bukannya ia benci jas lalu setiap yang pakai jas buruk, bukan begitu. Tapi karena sudah keseringan foto cagub pakai jas, jadi bosen. Apalagi bila untuk pencitraan biar keliatan pinter dan modern," tulisnya.

Untuk meyakinkan bahwa Jokowi sudah terbiasa pakai baju koko dan jas, sang jurnalis warga ini lantas membuat parade foto-foto dokumentasi Jokowi mengenakan baju koko dan kopiah serta foto- foto lain mengenakan jas.

Secara terpisah, di Solo Jokowi menanggapi kritik dari LKB itu dengan kepala dingin.

"Tidak ada pernyataan saya seperti itu (melecehkan baju koko dan kopiah -red). Saya juga memakai baju koko dan kopiah kok. Setiap Jumatan saya pasti pakai. Persoalannya ini hanya salah menafsirkan saja," tutur sang Walikota Solo.

"Saya tidak pernah bilang seperti itu. Tidak pernah. Saya hanya menyatakan bahwa kemeja kotak-kotak yang dijadikan ikon pasangan Jokowi - Ahok itu keluar dari kebiasaan," imbuhnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.