Berbakat, Remaja Ini Berani Ekspresikan Dirinya Lewat Menari

Liputan6.com, Jakarta - Bagi kebanyakan orang, masa remaja adalah masa mencari jati diri. Di masa itu, remaja akan mengeksplor segala hal untuk mengetahui di mana tempat mereka sebenarnya, apa bakat yang mereka miliki, dan tahap pencarian jati diri lainnya. Itu pula yang dilakukan oleh Giovanni Angelica Gunawan.

Gadis muda yang memilih untuk terjun dalam bidang menari untuk mencari jati diri itu mengajak para anak muda untuk mengenali bakat sejak remaja.

“Eksplor banyak kegiatan, nanti kita jadi tau kita senangnya apa. Buat aku nari itu menyenangkan. Kita bisa ekspresiin diri, luapin rasa marah, galau, senang,” ujar remaja perempuan kelahiran 2003.

Setelah mengenali bidang minat yang disukai, seseorang dapat menekuninya dengan mengikuti kursus, seperti les menari. Bahkan Vanni telah mengikuti ekskul menari sejak kelas 1 SD, namun lebih ke tarian tradisional, lalu di kelas 6 SD mengikuti kursus modern dance hingga saat ini.

Perempuan yang mengidolakan Parris Goebel mengaku pernah tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya.

“Aku pernah banget ngerasa minder, dancer itu kan di mata orang awam harus tinggi, langsing, putih, cantik, nari tuh harus cewek. Padahal nari itu haknya semua orang, cowok pun sah-sah aja,” kata remaja yang menggemari genre musik R & B.

 

 

Selanjutnya

Doc: Istimewa

Perlahan, sosok yang akrab disapa Vanni melawan rasa mindernya dengan belajar untuk bersikap cuek pada orang-orang yang mencibirnya.

“Jangan dengerin mereka yang ngejatohin semangat kita, latihan, kalau memang kita suka bidang itu, tekuni, cetak prestasi. Orang-orang yang mengejek kita bakal diem,” kata penganut aliran dance urban ladies ini.

Vanni juga mengajak teman-teman penari untuk bercerita pada sesama penari jika memiliki masalah dan berbagi masukan yang membangun.

Saat peraih juara 3 Lomba Dance Arcofest dan K Pop Dance ini merasa putus asa dalam menari, ia selalu ingat tentang kumpulan penari asal luar negeri yang memiliki semangat membara dalam menari, meskipun para dancer itu duduk di atas kursi roda.

“Mereka yang punya keterbatasan nggak ngeluh, nggak nyerah gitu, kita ya harus semangat juga dong,” kata remaja kelahiran Jakarta ini.

 

 

Selanjutnya

Doc: Istimewa

Menurut Vanni, seorang dancer juga harus mampu menghayati lagu yang akan dibawakan dengan tariannya. Penghayatan akan perpisahan dengan keluarga berbeda jika dibandingkan dengan perpisahan dengan teman, dll.

“Jadinya belajar kontrol emosi, ya harus tampilkan sesuai gerakan dan lagu. Kalo lagu dan gerakannya senang, ya nyengir gitu,” ungkap Vanni.

Di dalam komunitas menarinya, Vanni diajarkan untuk memiliki attitude saling mendukung antar penari.

“Jangan saling ngerendahin. Yang ga bisa belajar sama yang bisa dan yang bisa ajarin yang gak bisa. Selama mau latihan pasti bisa,” papar Vanni percaya diri.

Ia mengutip slogan dari Kinjaz, seorang crew dancer dari luar negeri yakni, “Respect all Fear None,” artinya setiap orang harus menghargai sesama dancer, namun jangan takut kalah ketika harus berkompetisi dengan sehat. Masa muda adalah waktu untuk menggali bidang kegemaran dan mengembangkan potensi.

“Coba cari yang kita suka di bidang mana, latih dan kembangin yang kita suka. Bisa jadi hobi itu jadi pekerjaan,” pesan Vanni untuk generasi muda.

 

 

Penulis:

Patricia Astrid Nadia