Berbuka Puasa dengan Nasi Pindang Kudus  

TEMPO.CO, Kudus - Kuliner ini namanya nasi pindang. Namun tidak sedikit pun bahan bakunya memakai ikan pindang (ikan laut yang sudah dimasak). Rasanya sangat khas. Khusus pada bulan Ramadan, menu ini dijadikan sebagai favorit untuk berbuka puasa. Selain menjajakan nasi pindang, pedagang biasanya mendampingkan masakan ini dengan soto Kudus.

Nasi pindang banyak disajikan di sejumlah warung makan, restoran, dan pedagang kaki lima yang bertebaran di Kota Kudus. Biasanya nasi pindang disajikan dengan cara ditaruh dalam piring yang dialasi daun pisang. Lalu, di atas nasi diberi suwiran ayam atau potongan daging kerbau (tergantung seleranya), ditambah daun melinjo muda, bawang merah goreng, dan diberi sambal kecap. Selanjutnya, baru dituangkan kuah. Untuk memakannya dipakailah suru, yakni lipatan daun pisang yang berfungsi sebagai sendok.

Jatmi, salah satu pedagang nasi pindang di Jalan Wahid Hasyim, menuturkan dalam sehari di bulan Ramadan ini dia bisa menghabiskan 100 potong ayam. Ada dua menu utama yang disajikannya, yakni soto ayam dan nasi pindang. »Kami berjualan sudah 25 tahun,” kata Jatmi.

Hal serupa juga diakui Ana, pedagang nasi pindang dan soto ayam di Kompleks Taman Bujana Ramayana. »Kami sudah berjualan lebih dari 35 tahun,” kata Ana, pemilik warung Ramijan, yang juga membuka cabang di Jalan Wahid Hasim Kudus. Tiap porsi nasi pindang dibanderol Rp 7.500. Lebih enak jika menyantapnya dilengkapi dengan kerupuk rambak yang terbuat dari kulit kerbau.

Omzet penjualannya, menurut Jatmi, tidak jauh dari hari-hari normal. »Awal puasa hingga pertengahan, pembelinya agak turun,” kata Jatmi. Namun begitu memasuki Lebaran, para pemudik dari luar kota memadati warungnya. »Hingga pertengahan puasa, omzetnya turun 10 persen dan setelah memasuki Lebaran bisa naik 20 persen dari hari normal,” kata Jatmi.

Nasi pindang ayam merupakan salah satu menu kesukaan Maman, warga Endrosono, Surabaya. »Jika dalam perjalanan melewati Kudus, saya sempatkan berhenti cari menu pindang ayam,” kata Saat Tempo datang, Maman sedang menyantap pindang ditemani anggota keluarga yang lain, Senin petang kemarin.

Menurut Maman, dia pertama kali menikmati nasi pindang ketika keluarganya di Kudus punya hajat. Saat itu menu yang disuguhkan adalah nasi pindang. Sejak itu, jika ia tiba di Kudus, dia selalu menyempatkan diri mencari nasi pindang. "Rasanya cukup khas, sangat jauh jika disamakan dengan rawon," katanya.

Bahan nasi pindang terdiri terdiri daging ayam atau daging kerbau. Daging ini direbus sampai empuk. Bumbunya kuah pindang terdiri bawang merah, bawang putih, kluwak, ketumbar, jinten, kemiri, terasi, daun jeruk, cabe rawit, dan kecap. Bumbu ini dihaluskan dan ditumis. Setelah itu bumbu ini dimasak bersama-sama dengan air santan kelapa dan daun melinjo.

Selain untuk dimakan sehari-hari, menu nasi pindang ini juga biasa disuguhkan pada saat warga Kudus mempunyai hajat mantu atau khitanan. Bagi yang penasaran nasi pindang, silakan mampir ke Kota Kudus.

BANDELAN AMARUDDIN

Terpopuler:

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.