Berburu Beduk, Meriahkan Hari Kemenangan

Heru Budhiarto
Berburu Beduk, Meriahkan Hari Kemenangan

Ada tradisi di kalangan umat Islam, pembacaan kalimat takbir pada malam lebaran selalu diringi tabuhan beduk. Tujuannya, agar pesta kemenangan terasa kian semarak dan meriah. Pada masa seperti sekarang, kala hari raya Idul Fitri semakin dekat, pedagang beduk mulai memadati jalan-jalan di ibu kota. Seperti di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Misalnya saja Kubil, yang sudah menjajakan beduk di Pasar Tanah Abang sejak tujuh tahun lalu. Ketika Plasadana.com mewawancarai untuk Yahoo Indonesia, Kubil menyatakan selalu berjualan beduk setiap bulan puasa. Sebab selain keuntungan yang cukup besar, Kubil merasa berkewajiban menjalankan bisnis tradisi tahunan ini. "Sambil cari tambahan penghasilan, adat anak Betawi tetap bisa dilestarikan," kata pria 45 tahun ini, Kamis, 17 Juli 2014.

Di kios, Kubil menjual beduk berbahan kulit sapi dan kambing. Untuk beduk kulit kambing berdiameter 60 sentimeter, ia menjual seharga Rp500 ribu, sedangkan yang diameter 30 sentimeter dilepas pada kisaran Rp150-200 ribu. "Kalau beduk bahan kulit sapi saya cuma jual yang besar saja, ukuran diameter 60-70 sentimeter harganya Rp800 ribu," kata Kubil.

Selan beduk, Kubil juga menerima pesanan kulit kambing atau sapi. Satu lembar kulit sapi ia hargai sekitar Rp750-825 ribu. Sementara selembar kulit kambing Kubil jual seharga Rp150-250 ribu. Menurut Kubil, satu lembar kulit cukup untuk membuat dua beduk.

Soal kualitas, Kubil mengklaim, beduk buatannya mampu menghasilkan bunyi nyaring dan berdaya tahan kuat. "Meski dipukul setiap hari, beduk mampu bertahan hingga lebih dari dua tahun," ujarnya. "Pembeli hanya perlu memilih gendang sesuai seleranya, baik dalam hal kualitas bunyi ataupun ukuran."

Meski sama-sama bagus, kulit sapi atau kambing memiliki perbedaan pada sisi keawetan. Menurut dia, kulit sapi lebih bisa bertahan lebih lama karena tebal. Itu pula yang menyebabkan harga jual kulit sapi jauh lebih mahal.

Pendapat sama juga diungkapkan pedagang lain, Tomi Firmansyah. Sebelum masuk ke pasar, pengrajin sudah melakukan seleksi terhadap mutu bahan baku beduk. Kulit yang dipilih berasal dari hewan sehat dan tidak terindikasi memiliki cacat pada kulitnya. Seperti bekas cambukan, gigitan hewan, ataupun penyakit kulit yang disebabkan parasit.

Ia juga selalu memperhatikan dengan detail proses pengulitan dan perakitan beduk. Agar standar kualitas beduk tidak menurun. Misal teknik pembersihan bulu yang harus dilakukan secara hati-hati supaya tidak merobek kulit. Perendaman dan pengeringan pun mesti proporsional supaya kulit tidak diserbu belatung. "Sebelum pengemasan, kami juga menguji kenyaringan bunyi beduk. Kalau mendem dan jelek, nggak kami jual," kata dia.

Meski sudah melalui tahap pengecekan, Tomi tetap mengizinkan calon pembeli untuk memeriksa calon beduk incaran. Jika ada kulit yang bolong atau suara tidak meyakinkan, pengunjung tak perlu ragu membatalkan niat untuk membeli. "Biasanya yang jadi patokan dua hal itu," kata dia. "Kalau ternyata kurang puas boleh ditawar, tapi misalnya tidak jadi juga tak masalah."