Berburu Oleh-oleh Khas Wonosobo

TEMPO.CO, Jakarta--Oleh-oleh tentunya tidak pernah ketinggalan ketika Anda sedang berwisata. Oleh-oleh khas selalu dicari ketika berkunjung ke sebuah daerah tertentu. Seperti ketika Anda berkunjung ke Wonosobo, pasti akan mencari pusat oleh-oleh daerah ini.

Toko Cendawan Emas II yang berada di Jl. A. Yani No.5 Honggoderpo Wonosobo bisa menjadi referensi untuk mencari oleh-oleh khas Wonosobo. Pemilik Toko, Yuniati, mengatakan oleh-oleh khas Wonosobo yang sering diincar pembeli adalah kacang dieng, carica, dan keripik jamur. Ketiga oleh-oleh ini merupakan buatan masyarakat lokal dan menjadi icon Wonosobo. "Seperti carica yang merupakan produk alam Wonosobo,” katanya, Rabu 12 Juni 2013.

Selain menyediakan ketiga oleh-oleh khas, toko ini juga menyediakan aneka jajanan lain seperti keripik kentang, sagon, kopi dieng, jenang, serta jajanan khas lainnnya. Harganya pun bervariasi, untuk kacang dieng seharga Rp13.000,-, carica seharga Rp 5.500,- hingga 16.000,-, keripik jamur seharga Rp18.500,- hingga Rp25.000,-.

Yuniati mengatakan tokonya buka setiap hari dari jam 08.00WIB hingga jam 09.00WIB. Biasanya saat-saat liburan atau weekend, tokonya ramai dikujungi wisatawan.

Selain jajanan khas, Wonosobo juga terkenal dengan tempe kemul, geblek, dan kue mangkok. Disebut tempe kemul karena tepung yang mengelilingi seperti menyelimuti tempe. Tempe kemul ini biasanya disajikan dengan geblek sebuah makanan dari singkong. Sedangkan untuk kue mangkok merupakan kue yang terbuat dari tepung beras dan rasanya manis.

Ketiga jajanan ini biasanya dicari wisatawan ketika berkunjung ke Wonosobo. Lebih lagi tempe kemul dan geblek, sangat enak bila dihidangkan dengan kopi Dieng. Udara dingin pun tak lagi terasa ketika kehangatan kopi dan renyahnya tempe kemul tergigit di lidah.

OLIVIA LEWI PRAMESTI

Terhangat:

EDSUS HUT Jakarta | Kenaikan Harga BBM | Rusuh KJRI Jeddah

Baca juga:

Kampung Durian di Lereng Merbabu

Kekayaan Budaya di Festival Kuliner Aceh 2013

Lebih Dekat dengan Satwa Dunia di Secret Zoo Batu

Kenali Malang Lewat Museum Malang Tempo Doeloe

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.