Berdasarkan Studi, India Hasilkan Jumlah Misinformasi Covid-19 Terbesar di Media Sosial

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi baru berjudul '"Prevalence and Source Analysis of COVID-19 Misinformation in 138 Countries" menyebutkan bahwa India menghasilkan jumlah misinformasi terbesar di media sosial. Hal tersebut terjadi karena peningkatan konsumsi berita di media sosial, dan kurangnya literasi internet pengguna.

Studi tersebut menganalisis 9.657 informasi yang salah yang berasal dari 138 negara. Mereka diperiksa faktanya oleh 94 organisasi untuk memahami prevalensi dan sumber informasi yang salah di berbagai negara.

"Dari semua negara, India (18,07 persen) menghasilkan jumlah terbesar dari misinformasi media sosial, mungkin berkat tingkat penetrasi internet yang lebih tinggi di negara itu, peningkatan konsumsi media sosial dan kurangnya literasi internet pengguna," kata studi tersebut.

Dilansir dari oulookindia.com, pada hasil selanjutnya menunjukkan bahwa India menempati posisi pertema yang paling terkena dampak misinformasi sebanyak 15,94 persen. Kemudian, disusul oleh Amerika Serikat dengan 9,74 persen, Brasil 8,57 persen dan terakhir adalah Spanyol 8,03 persen.

Studi tersebut mengatakan, berdasarkan hasil, diduga prevalensi misinformasi Covid-19 dapat memiliki hubungan positif dengan situasi pandemi."Media sosial (84,94 persen) bertanggung jawab untuk menghasilkan jumlah terbesar dari misinformasi Covid-19, dan internet (90,5 persen) secara keseluruhan bertanggung jawab untuk sebagian besar. Selain itu, Facebook sendiri menghasilkan (66,87) persen dari misinformasi," demikian pernyataan dari studi tersebut.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memperingatkan bahwa informasi palsu tentang Covid-19 yang menyebar dapat membahayakan orang. WHO juga telah mendesak orang untuk memeriksa ulang semua yang mereka dengar dengan sumber tepercaya.

(MG/Geiska Vatikan Isdy)

Sumber: https://www.outlookindia.com/website/story/world-news-india-produced-largest-amount-of-covid-19-misinformation-us-study/394657

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel