Berebut Merek Citayam Fashion Week

Merdeka.com - Merdeka.com - Fenomena Citayam Fashion Week, membuat sejumlah orang berebut mematenkan aksi para remaja bergaya modis di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, sebagai merek usaha. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkum HAM, mencatat sudah ada empat pihak mengajukan Citayam Fashion Week sebagai merek usaha.

Pertama adalah perusahaan milik artis Muhammad Ibrahim atau Baim Wong bernama PT. Tiger Wong Entertainment. Perusahaan Baim Wong mengajukan Citayam Fashion Week dan diterima DJKI Kemenkum HAM pada tanggal 20 Juli 2022 dengan nomor permohonan JID2022052181.

Baim Wong mendaftarkan Citayam Fashion Week sebagai merek usaha hiburan bersifat peragaan busana. Dijelaskan bahwa layanan hiburan diajukan suami dari model Paula Verhoeven itu seperti menyediakan podcast di bidang mode, layanan pelaporan berita di bidang fashion serta menyediakan video online yang tidak dapat diunduh di bidang mode.

Kemudian organisasi peragaan busana untuk tujuan hiburan, pelaksanaan pameran, peragaan busana dan pameran kebudayaan untuk tujuan hiburan. Belakangan Baim berencana mencabut pendaftaran Citayam Fashion Week dengan setelah mendapat kritik dari pelbagai terkait keputusannya tersebut.

Namun dia membantah pengajuan merek Citayam Fashion Week untuk mengambil keuntungan. Baim berdalih pengajuan merek Citayam Fashion Week untuk mengangkat fenomena remaja bergaya beragam sandang di zebra cross untuk lebih baik.

"Enggak ada niatan untuk, tadi juga berpikiran akan dibikin HAKI bareng-bareng juga sama mereka cuma saya bilang daripada berkelanjutan lah, oke saya pun bisa bilang enggak lah karena kita juga niatannya tidak ke sana sama sekali," kata Baim seperti dikutip dari YouTube Baim Paula, Selasa (26/7).

Selain Baim Wong, pendaftar kedua seorang warga bernama Indigo Aditya Nugroho asal Gunung Putri, Bogor jawa Barat. Indigo mengajukan aksi pamer busana remaja yang semula berasal dari Citayam, Depok, Bojonggede hingga Tangerang itu pada 21 Juli 2022 dengan nomor permohonan JID2022052496.

Indigo mengajukan Citayam Fashion Week sebagai usaha merek hiburan berbentuk kontes kesenian, kebudayaan dan pendidikan. Kemudian peragaan busana, teater, kompetisi, pameran, festival, eksposisi, dan acara olahraga. Namun belum sepekan mendaftarkan, Indigo mencabut pendaftaran merek Citayam Fashion Week pada 25 Juli 2022.

Pada laman resmi pdki-indonesia.dgip.go.id, permohonan atas nama Indigo itu kini tertulis '(TM) Ditarik Kembali'. Permohonan itu tertera dengan nomor JID2022052496.

Indigo berdalih tidak bermaksud untuk menguasai merek Citayam Fashion Week. Alasan mendaftarkan merek itu agar tidak kehilangan identitas dan orisinilitas yang dibuat oleh para konten kreator. Bahkan, dia mengaku sudah membuat konten di area Dukuh Atas sekitar 1 tahun lalu dan sudah menginterview Bonge dan Kurma dua bulan lalu sebelum viral.

"Dengan situasi dan opini masyarakat saat ini yang gelah menyadari bahwa memang tidak seharusnya ada kepemilikan merek karena milik semua yang ingin bebas berekspresi, dengan setulus hati telah melakukan pencabutan Citayam Fashion Week. Kami percaya jika CFW akan selalu menjadi cerita dan berjalan dengan apa adanya," kata Indigo saat dihubungi merdeka.com, Selasa (26/7).

Pendaftar Citayam Fashion Week selanjutnya seorang warga bernama Daniel Handoko Santoso, Kertasura, Karanganyar, Jawa Tengah. Daniel mengajukan Citayam Fashion Week ke DJKI Kemenkum HAM dan diterima pada tanggal 24 Juli 2022 dengan nomor permohonan DID2022053127.

Daniel mengajukan Citayam Fashion Week sebagai merek pelbagai pakaian bayi hingga orang dewasa mulai dari kaos, celana, daster hingga pakaian dalam. Daniel juga mendaftarkan merek Citayam Fashion Week sebagai aksesoris pakaian mulai dari kaos kaki anak hingga dewasa. Serta topi, hoodie dan juga celemek.

"Pakaian tahan air untuk dipakai pada saat hujan, celana pendek, celana panjang, gaun, rok, kemeja, kaos tanpa lengan, kaos/kemeja yang menyerap keringat, baju hangat, rompi, blus, ikat pinggang, skarf, sarung tangan, sarung tangan musim dingin, kaos kaki," demikian dikutip dari situs pangkalan DJKI Kemenkum HAM, Selasa (26/7).

Teranyar PT Tekstil Industri Palekat mengajukan nama Citayam sebagai merek usaha ke DJKI Kemenkum HAM pada 25 Juli 2022 dengan nomor permohonan DID2022053465.

Perusahaan yang terdaftar asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu mengajukan merek usaha Citayam sebagai usaha barang berupa alas piring dari plastik hingga bahan tekstil untuk memproduksi penutup untuk jok mobil serta bed cover.

"Dari empat permohonan yg ada pemohon Indigo telah mengajukan penarikan kembali," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Plt. Dirjen KI), Razilu saat jumpa pers di gedung Eks Sentra Mulia, Kementerian Hukum dan HAM, Selasa (26/7).

Keuntungan Pemegang Merek Citayam Fashion Week

Razilu mengatakan Citayam Fashion Week diperebutkan karena akan banyak mendapatkan keuntungan terhadap pemegang hak paten merek. Keuntungannya terkait royalti setelah merek itu dipatenkan.

"Terkait dengan keuntungan yang didapat, pastinya banyaklah. Pertama, perlu dipahami bahwa itu adalah hak eksklusif. Hak eksklusif adalah hak hanya diberikan kepada pemegangnya untuk mengeksploitasi nilai ekonomi daripada hak yang dia miliki," kata Razilu.

Razilu memaparkan, keuntungan lainnya yakni pemegang hak dapat memberikan persetujuan kepada orang lain atas merek tersebut dan mendapat royalti. Begitupun sebaliknya, dia berhak melarang pihak lain untuk menggunakan merek CFW.

"Dia juga menjadi identitas produk atau barang dan jasa di benak konsumen. Memberikan nilai tambah pasti," paparnya.

Selain itu, Razilu mengatakan dengan pendaftaran merek ke Kemenkum HAM, produk tersebut akan memiliki reputasi barang atau jasa, memberikan jaminan atau kualitas, dan menjadi intangible atau aset yang tidak nyata.

Dia mencontohkan, ketika seseorang menjual air di dalam botol yang tidak memiliki merek, orang akan ragu untuk membelinya. Namun, jika ditaruh dalam botol bertuliskan bermerek mempunyai nilai.

"Kemudian memberikan reputasi produk barang atau jasa, memberikan jaminan kualitas, dan dia menjadi aset yang tidak nyata. Dan hampir sebagian besar perusahaan itu aset mereka adalah aset tidak nyata, enggak kelihatan. Tapi nilainya ada," ungkap Razilu.

Razilu pun meminta kepada pemohon yang mengajukan permohonan merek Citayam Fashion Week untuk mencabut pengajuan tersebut. Hal itu guna menyelesaikan polemik yang terjadi di publik.

Dia menekankan jika pemohon tetap melanjutkan proses untuk mendapatkan merek Citayam Fashion Week, pihaknya akan membentuk tim khusus untuk pemeriksaan mendalam terkait merek tersebut.

"Jika kemudian tidak ditarik kembali biasanya pemeriksaan merek yang dilakukan itu oleh satu orang, kemudian akan diverifikasi secara berjenjang. Tapi saya sudah diskusi dengan Pak Direktur merek dan pemeriksa merek, untuk merek ini kita akan bentuk tim yang ketat untuk melakukan pemeriksaan," tandasnya. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel