Bereskan 2 Proyek Tol, Waskita Karya Minta PMN Rp 3 Triliun di 2022

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tersendatnya dana yang dimiliki membuat kinerja PT Waskita Karya menjadi menurun di 2021. Dengan dampak yang dirasakan perusahaan, Waskita mengajukan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 3 triliun.

Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono mengatakan suntikan dana tersebut akan digunakan untuk penyelesaian dua proyek jalan tol besar. Itu juga berarti sebagai penguatan permodalan dalam rangka restrukturisasi perusahaan.

“Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk tambahan menyelesaikan ruas tol Kayu Agung – Palembang dan Ciawi – Sukabumi,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (1/9/2021).

Ia melanjutkan dana PMN yang akan digunakan untuk ruas tol kayu agung – palembang adalah senilai Rp 2,004 triliun sementara untuk ruas tol Ciawi – Sukabumi sebesar Rp 996 Miliar.

“dengan target proyek Kayu Agung-Palembang selesai pada Maret 2023 dan Ciawi-Sukabumi pada Juli 2024,” katanya.

Ruas tol Kayu Agung-Palembang-Betung, hingga Juli 2021 telah diselesaikan sebesar 64 persen dari total panjang ruas 111,69 kilometer. Sementara ruas Ciawi – Sukabumi telah mencatatkan progres 51,7 persen dengan total panjang 54 kilometer.

Lebih lanjut ia mengatakan beberapa manfaat yang didapat jika ajuan PMN ini disetujui. Bagi BUJT, akan memastikan ketersediaan dana untuk Cash Deficiency Support da Equity portion guna penyelesaian proyek sesuai jadwal.

Kemudian, melancarkan proses restrukturisasi kredit di BUJT karena adanya dukungan dana dari shareholder. Lalu, bagi Waskita, ini akan melancarkan proses restrukturisasi keuangan Waskita induk.

“dan Melengkapi PMN tahun 2021 untuk membantu penyelesaian konstruksi dua ruas tol yakni Kayu agung-palembang-betung dan ciawi-sukabumi,” katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Dampak PMN

Tarif empat ruas Jalan Tol Trans Jawa yang dikelola oleh anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan Waskita Toll Road akan naik pada 19 Agustus 2021. (Dok Jasa Marga)
Tarif empat ruas Jalan Tol Trans Jawa yang dikelola oleh anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan Waskita Toll Road akan naik pada 19 Agustus 2021. (Dok Jasa Marga)

Selanjutnya, manfaat bagi masyarakat dengan memberikan manfaat ekonomi secara umum kepada masyarakat dan mendongkrak perekonomian sekitar.

“Ini penyerapan tenaga kerja, pendapatan meningkat, pengurangan beban bunga karena pendapatan waskita meningkat, berdampak pada vendor yang stuck pembayarannya, ini akan bantu vendor untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya,” katanya.

Destiawan mengatakan, dengan adanya PMN tersebut bisa berdampak positif bagi perekonomian secara luas. Ia juga memproyeksikan sejumlah pos akan meningkat karena adanya suntikan dana tersebut.

PMN diproyeksikan akan menyerap 254.076 tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian, pembentukan nilai tambah bruto senilai Rp 29.798 miliar GVA dalam perekonomian Nasional. Lalu output multiplier sebesar RP 64.327 miliar penciptaan output multiplier dalam perekonomian nasional.

“itu juga akan meningkatkan kontribusi pajak Waskita sebesar tiga persen, dan peningkatan laba bersih perusahaan diprediksi akan meningkat 25 persen serta pendapatan usaha juga meningkat 26 persen dari perbandingan 2021 dan 2026,” tuturnya.

Penurunan Kinerja

Tarif empat ruas Jalan Tol Trans Jawa yang dikelola oleh anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan Waskita Toll Road akan naik pada 19 Agustus 2021. (Dok Jasa Marga)
Tarif empat ruas Jalan Tol Trans Jawa yang dikelola oleh anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan Waskita Toll Road akan naik pada 19 Agustus 2021. (Dok Jasa Marga)

Informasi, Waskita mengalami penurunan kinerja dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini juga menjadi dorongan bagi Waskita untuk kembali meminta PMN senilai RP 3 triliun.

Destiawan menuturkan faktor-faktor penentu menurunnya kinerja perusahaan. Pertama, tertundanya transaksi divestasi karena pembatasan aktivitas selama pandemi Covid-19. Kemudian meningkatnya beban bunga investasi jalan tol yang meningkat signifikan.

Lalu, menurunnya progres pekerjaan yang terdampak pandemi, lalu penurunan kolektibilitas piutang dari project owner selama pandemi.

“Fasilitas modal kerja perbankan tidak dapat ditarik sejak kuartal-IV 2020 sehingga produksi menurun karena 75 persen proyek terhenti, dan utilitas plant precast rendah, serta penurunan volume lalu lintas di tol investasi yang mengakibatkan turunnya pendapatan,” tuturnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel