AS bergegas bendung kemarahan saat Trump terima serangan balasan

Para pemimpin di seluruh Amerika Serikat pada Selasa mencari cara untuk membendung meningkatnya keresahan atas kasus rasisme polisi, dari memperpanjang jam malam hingga merangkul pengunjuk rasa, sementara itu Presiden Donald Trump menepis kritik pedas pada keputusannya untuk mengerahkan pasukan guna membubarkan demonstrasi damai.

Delapan hari setelah George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika yang tidak bersenjata, mati lemas ditekan dengan lutut seorang perwira polisi kulit putih di Minneapolis, demonstrasi besar yang terjadi sekali dalam satu generasi untuk menentang rasisme sistemik dan kebrutalan polisi di Amerika itu menunjukkan sedikit tanda pelambatan, meskipun ancaman Trump untuk melakukan penumpasan secara militer.

Di kampung halaman Floyd di Houston, puluhan ribu orang berkumpul untuk mengenangnya pada Selasa.

"Hari ini bukan tentang Balai Kota, ini tentang keluarga George Floyd, kami ingin mereka tahu bahwa George tidak mati sia-sia," kata walikota Sylvester Turner kepada sekitar 60.000 orang di Kota Texas tempat Floyd tumbuh dan akan dimakamkan.

Protes telah diadakan di kota-kota di seluruh negeri, sebagian besar damai tetapi banyak yang berubah menjadi kekacauan saat malam tiba, dan baik aktivis dan pejabat menyalahkan pengacau dan ribuan ditangkap.

New York pada Selasa memperpanjang jam malam pertamanya sejak Perang Dunia II selama sepekan penuh, sementara militer dapat dilihat tampak di jalan-jalan ibu kota Washington ketika para pengunjuk rasa damai sekali lagi berpawai menuju Gedung Putih.

Floyd meninggal setelah ia ditekan lehernya dengan lutut selama hampir sembilan menit oleh seorang petugas polisi kulit putih, Derek Chauvin, yang mengabaikan permohonannya ketika nyawanya terancam.

"Kita harus mengambil momen ini untuk mengubah semuanya," kata Letnan Gubernur Minnesota Penny Flanagan tentang diskriminasi struktural.

Dia mengatakan kepada wartawan bahwa negara bagian sedang meluncurkan penyelidikan hak-hak sipil pada Departemen Kepolisian Minneapolis, memeriksa kemungkinan pelanggaran yang terjadi 10 tahun yang lalu.

Di Los Angeles, satu dari lusinan kota yang dilanda kerusuhan, petugas polisi dan Walikota Eric Garcetti berlutut dalam aksi solidaritas simbolis ketika mereka bertemu pawai yang dipimpin oleh kelompok Kristen Afrika-Amerika.

"Kulit hitam seharusnya tidak dihukum mati, tidak menjadi tunawisma, sakit, menganggur, atau tidak berpendidikan," kata Garcetti kepada mereka, mengundang para pemimpin ke Balai Kota untuk berdiskusi tentang masalah itu.

Mantan presiden George W. Bush meminta AS untuk memeriksa "kegagalan tragisnya" dan "mendengarkan suara begitu banyak orang yang terluka dan berduka."

Di Washington, ribuan orang kembali ke jalan-jalan pada Selasa untuk pawai damai "Black Lives Matter".

Tiga jam setelah jam 7 malam, pengunjuk rasa bernyanyi sementara helikopter melayang di atas jalan-jalan dekat Gedung Putih, tetapi situasinya tetap tenang.

"Saya hanya lelah, pada dasarnya, takut pada polisi, untuk tidak mendapatkan keadilan," kata Jada Wallace, seorang pemrotes berusia 18 tahun di luar Gedung Putih sebelumnya yang mengatakan dia siap mengambil risiko ditangkap.

Di tempat yang sama pada Senin, polisi federal tiba-tiba membuka gas air mata dan menembakkan peluru karet untuk membubarkan protes tanpa kekerasan, membuka jalan bagi Trump untuk berjalan-jalan keluar untuk melakukan sesi foto di sebuah gereja bersejarah yang rusak malam sebelumnya.

Langkah itu dikecam keras oleh para pemimpin agama, rival politik presiden, dan penonton di seluruh negeri.

Tetapi Trump, yang telah menolak peran tradisional sebagai penyembuh, menyuarakan kegembiraan di Twitter atas tanggapan di Washington dan menuduh kepemimpinan New York - yang dipimpin oleh saingannya dari Partai Demokrat - menyerah pada "kelompok rendahan & pengacau".

"Kekuatan yang luar biasa. Dominasi," tulisnya, seraya menambahkan: "Washington, D.C., adalah tempat teraman di dunia tadi malam!"

Dia membalas kritik di Twitter kemudian, dengan menulis: "Anda salah! Jika para pengunjuk rasa begitu damai, mengapa mereka membakar Gereja malam sebelumnya? Orang-orang menyukai cara saya."

Joe Biden, saingan Trump dari Demokrat dalam pemilihan November, mengecam tindakan keras terhadap pengunjuk rasa damai sebagai penyalahgunaan kekuasaan dan berjanji, jika terpilih, untuk mengatasi "rasisme sistemik" di negara itu.

"Donald Trump telah mengubah negara ini menjadi medan perang yang didorong oleh kebencian lama dan ketakutan baru," kata Biden dalam pidatonya di Philadelphia, yang juga dilanda kekerasan.

Amerika Serikat juga menghadapi kritik yang tidak biasa, sekalipun sopan, dari beberapa sekutu internasional.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menyebut protes anti-rasisme "dapat dimengerti dan sangat sah."

Jerman, Inggris dan Australia menyuarakan keprihatinan tentang keamanan media setelah sejumlah jurnalis dihajar oleh polisi atau kadang-kadang oleh perusuh.

New York, "Kota yang Tak Pernah Tidur" yang baru saja muncul dari minggu-minggu di bawah penguncian atas virus corona, memperpanjang jam malam hingga Minggu yang akan dimulai setiap malam pukul 08.00 malam.

"Kami akan segera mengambil langkah-langkah untuk memastikan akan ada perdamaian dan ketertiban," kata Walikota Bill de Blasio, yang memiliki hubungan baik dengan polisi, dengan kemarahan yang terlihat.

Jam malam dimulai Senin pukul 11.00 malam - terlambat untuk menghentikan penjarahan meluas di New York, dengan perusuh menghancurkan etalase di toko-toko mahal di Fifth Avenue.

Beberapa ribu turun ke jalan pada Selasa di Manhattan, berlutut dan berteriak, "George Floyd, George Floyd."

Pengunjukrasa Nat Hooper, 27, seorang penjual buku Afrika-Amerika, menyebut demonstrasi "tugas sipil kami" dan berharap bahwa Trump akan kalah pada November.

Ribuan orang terus berpawai di kota itu setelah jam malam pada Selasa.

Minneapolis relatif tenang tetapi kekerasan menyebar di tempat lain.

Seorang petugas Las Vegas berada dalam "kondisi serius" pada Selasa setelah ditembak selama protes semalam. Seorang pria Hispanik bersenjata ditembak dan dibunuh oleh polisi setelah mengangkat senjatanya dalam insiden terpisah di dekatnya.

Tetapi seorang pensiunan kapten polisi St. Louis ditembak mati pada Selasa pagi di luar sebuah toko yang dijarah.

Trump mencuit bahwa David Dorn, yang berkulit hitam, "ditembak mati dan dibunuh oleh penjarah tercela."