Bergelar Sarjana dan Menjadi Ibu Rumah Tangga, Kubuat Pilihan Ini dengan Cinta

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: Nina Nola Boang Manalu

"Orangtua sudah susah payah menyekolahkan sampai sarjana, ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga?" Aku pernah membaca sebuah artikel tentang persoalan ini. Saat itu jawaban yang kudapat adalah bahwa seorang muslimah sejati takkan enggan untuk menjawab, I’m a full time mom and wife at home and I love it. Hatiku langsung bergejolak.

Aku seorang muslimah dan mengapa tidak berani mengambil keputusan seperti itu? Itu adalah sebuah keputusan yang sangat berat sebenarnya. Ada kedua orangtua tempat berdiskusi dan meminta izin. Kedua mertua yang juga tak bisa diabaikan restunya. Namun, yang pertama sekali menjadi supporter utama dalam keputusan itu adalah sang suami tercinta, ayah dari putriku, Anugrah Mulia Tampubolon. Kebimbanganku menjadi keyakinan yang kuat saat sang motivator ini mendukung penuh keputusanku untuk berhenti bekerja.

Kehidupan yang berkecukupan waktu itu membuatku benar-benar terbuai dengan kemewahan dunia. Tak bisa disangkal, apa pun yang kuinginkan selalu bisa kupenuhi tanpa ada yang melarang, termasuk suami pada saat itu.

Keluarga Tercinta

Keluarga./Copyright Nina Nola Boang Manalu
Keluarga./Copyright Nina Nola Boang Manalu

Sempat juga tersirat dalam benakku, seandainya aku tak bekerja, aku tak akan mampu untuk membeli ini ataupun itu sesuka hatiku. Penghasilan yang kuterima sebagai seorang tenaga pendidik di sekolah dasar ditambah dengan menjadi guru privat juga dapat menyaingi honor suami yang bekerja sebagai dosen di universitas swasta.

Bahkan, honorku saat bekerja dapat melebihi honor suami. Namun, ada yang fatal dalam kehidupan rumah tanggaku dengan kondisi kami yang seperti itu. Aku bekerja sejak pukul 7 pagi dan baru sampai di rumah jam 8 malam. Sementara, suami juga melakukan hal yang sama. Pergi dari pagi dan pulang bekerja di malam hari.

Kala itu, putriku yang baru berusia 2,5 tahun sudah diasuh oleh opungnya (ibu kandungku) sejak berumur 6 bulan. Dengan keadaan masih bekerja, mereka harus bolak-balik Medan dan Pematangsiantar untuk mengisi kerinduan kami pada putriku.

Masa pensiun beliau pun harus dihabiskan dengan mengasuh seorang bayi, yaitu cucunya sendiri. Beliau memang tak menolak, bahkan menawarkan agar putriku diasuh olehnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di TV membuat kedua orangtuaku merasa ngeri untuk membiarkan putri kecilku dirawat orang lain. Itu tak seharusnya terjadi. Apalagi, aku benar-benar telah mengabaikan tugasku sebagai seorang istri dan seorang ibu.

Aku tak pernah melayani suamiku dengan baik. Seperti memasak untuk suami, membuatkannya teh atau kopi saat pulang bekerja, dan untuk sekadar mengajaknya berbicara pun aku melupakan hal itu. Aku merasa seperti kembali ke zaman kuliah, di mana segala sesuatunya kulakukan sendiri. Yang lebih parahnya lagi, kami harus mengirim pakaian ke laundry untuk disetrika. Lalu, apa gunanya aku menikah? Apa tugasku sebagai seorang istri? Ya, aku merasa sangat hebat kala itu sebagai seorang wanita karier.

Akhirnya, tiga tahun menikah dan memiliki seorang putri kecil, Allah membuka mata hatiku. Alhamdulillah, Allah Swt membuka pikiranku saat putri pertamaku tumbuh besar. Dia berkembang dengan pesat. Mulai dari fisik sampai keingintahuannya yang sangat besar.

Aku malu sebagai seorang ibu yang tak dapat melihatnya beranjak. Rasa kekhawatiran yang begitu kuat saat melihatnya tumbuh tanpa pendampingan seorang ibu membuatku segera berpikir. Waktuku bersamanya benar-benar tak efisien lagi.

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Kadang kala, saat tiba di rumah, aku mendapatinya sudah tertidur pulas. Ingin bermain dengannya walau sebentar saja, tetapi aku tak tega untuk membangunkannya sekadar melihat kepulanganku. Aku kehilangan masa-masa manis bersama putri kecilku, itulah yang terbesit dalam benak. Padahal, Islam mengatakan bahwa madrasah utama bagi seorang anak adalah ibunya. Lalu, ke mana aku saat anakku membutuhkan diriku? Aku terus menatapnya setiap pulang bekerja.

Sulit untuk memutuskannya saat itu karena aku juga masih membutuhkan pekerjaan ini. Bukan untuk memuaskan nafsu dalam hatiku, tetapi aku berniat membantu suamiku dalam hal keuangan rumah tangga. Aku telah salah. Aku tak bisa terus seperti ini. Membiarkan putri kami tumbuh tanpa kasih sayang ibunya sendiri.

Di saat itulah, kuutarakan niatku untuk berhenti bekerja dan fokus merawat anak dan rumah tangga kami. Ada sesuatu yang berbeda dari wajah suamiku, wajahnya tersenyum bahagia. Dia merestui keputusanku itu.

Baginya, keadaanku bekerja maupun tidak bekerja tidak ada yang berubah darinya sebagai seorang pemimpin keluarga yang bertanggung jawab atas anak dan istrinya. Aku lega. Ya, ini adalah sebuah kelegaan saat seorang suami mengizinkan istrinya bekerja maupun tidak bekerja. Namun, tak serta merta aku melaksanakan niatku sebelum berdiskusi dengan keempat orang tua kami (orangtua dan mertuaku).

Aku tahu, mamak dan bapak pasti akan sedikit kecewa mendengar keputusanku ini. Saat mereka menyekolahkanku dulu, mereka pasti memiliki cita-cita yang besar terhadapku. Butuh alasan yang benar-benar tepat agar mereka merestui niatku ini. Kuyakinkan mereka bahwa tak ada yang salah dengan gelar sarjanaku walaupun aku tidak bekerja lagi.

Dengan ilmu yang sempat kuterima melalui perguruan tinggi akan membawaku menjadi seorang ibu yang tak gagap teknologi dan ilmu-ilmu tentang anak. Saat itu, mamak masih khawatir. Menurutnya, kebebasanku dalam mengelola keuangan rumah tangga akan semakin sulit karena aku tak memiliki penghasilan sendiri.

Aku mengerti dengan kekhawatirannya itu. Tetapi sekali lagi kupastikan pada beliau, ini adalah keputusan terbaik yang pernah kulakukan dalam hidupku. Begitupun dengan kedua mertuaku. Aku tak ingin mereka menganggap bahwa aku memanfaatkan suamiku di kala kehidupan kami mulai membaik. Syukur alhamdulillah, mereka juga benar-benar mendukung surga adalah balasannya. Rezeki akan datang dari mana saja. Tidak usah takut! Itulah kalimat yang terujar dari ibu mertua.

Tabarakallah, sekarang aku merasa lega dan bahagia walaupun harus melepas kesuksesan yang sudah kuraih selama tujuh tahun menjadi seorang guru sekolah dasar. Alhamdulillah. Insyaallah selalu akan ada jalan keluar terbaik dalam hidup ini selama masih mengandalkan doa-doa orangtua dan saran-saran mereka. Aamiin ya Rabbalalamin.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel