Berhaji dengan Keterbatasan dan Tangan-Tangan Mulia Pemberi Bantuan

Merdeka.com - Merdeka.com - Sudirman sedang beristirahat di kamarnya siang itu. Dia sedang mengembalikan tenaga setelah perjalanan panjang dari Makassar menuju Madinah.

Tetapi dia bergegas menyambut saat melihat tim Media Center Haji (MCH) tiba di depan pintu kamar. Sudirman sigap beranjak dari kasurnya dan menyapa.

"Silakan masuk," kata pria berusia 37 tahun itu, Sabtu (18/6).

Sudirman salah satu dari 390 lebih jemaah embarkasi Makassar. Dia tiba di Madinah pada Jumat (17/6) pagi kemarin.

Sudirman menghuni kamar bersama enam orang lainnya sesama jemaah pria.

"Saya ke sini sama tante, istri belum mendapat panggilan," kata Sudirman mengawali perbincangan.

Sudirman mendaftar haji tahun 2010 bersama kedua orangtua serta om dan tantenya. Keberanian Sudirman mendaftar setelah memiliki dana cukup. Setiap hari dia coba menyisihkan Rp20.000 dari penghasilannya sebagai penjual pulsa.

Alhamdulillah, dia juga mendapat dukungan dari orangtua. Merasa uang telah cukup, sesegera mungkin Sudirman mendaftar. Seharusnya, dia berangkat pada 2020 lalu. Tetapi tertunda dua tahun karena pandemi.

Kira-kira pertengahan bulan Ramadan lalu, dia mendapatkan kabar gembira. Pesan dalam ponsel menginformasikan dia dan tante masuk kuota jemaah haji tahun ini.

"Rasanya senang sekali."

Sudirman memang tidak terlalu panjang menjawab ketika diberi pertanyaan. Tetapi dia selalu tersenyum. Cukup menggambarkan betapa Sudirman sangat bahagia bisa sampai di Madinah untuk berhaji.

Doa Istri Tercinta

Setelah mendapatkan kabar, Sudirman bersiap. Dia melengkapi segala hal diperlukan. Mulai dari dokumen hingga perbekalan lainnya. Termasuk menyiapkan mi instan dan camilan.

Sudirman menempuh perjalanan 12 jam dari Makassar menuju Madinah. Bahkan sebelumnya, dia juga harus menghabiskan waktu 10 jam menuju embarkasi Makassar dari tempat tinggalnya di Luwuk Timur. Kini semua kelelahan itu terbalas. Masjid Nabawi yang dahulu hanya dia lihat dari televisi kini ada di depan mata, bahkan berulang kali salat di dalamnya.

"Rasanya senang, bersyukur, tidak bisa berkata-kata. Tidak pernah terbayang sebelumnya," ucapnya malu-malu.

Kegembiraan itu dikabarkan Sudirman pada istri tercinta. Lewat sambungan telepon video, dia menceritakan pengalaman meski baru beberapa jam berada di Madinah. Di ujung telepon, istrinya hanya bisa terharu dan berpesan. Agar fokus ibadah dan jaga kesehatan.

Ada rasa sedih di hati Sudirman karena tidak bisa berangkat bersama-sama keluarganya yang lain. Di momen haji ini, dia manfaatkan untuk mendoakan agar keluarga serta istri dan anaknya bisa berhaji.

"Saya akan doakan orangtua, istri dan anak bisa ke sini juga," katanya.

Dia juga bercerita bagaimana keterbatasan yang dia memiliki justru membuat banyak tangan-tangan baik memberi bantuan. Sejak dari embarkasi sampai ke penginapan di Madinah. Sesama jemaah mengulurkan tangan untuk Sudirman. Sungguh pertolongan luar biasa buatnya.

"Senang banyak dibantu teman-teman lain. Punya keluarga baru yang selalu dibantu sejak dari embarkasi," katanya.

Termasuk saat Jumatan di Masjid Nabawi. Banyak orang ingin salaman dan berfoto dengannya. Buat Sudirman, permintaan itu justru membuatnya tambah bahagia.

Sudirman mengatakan. Niatnya menunaikan rukun Islam ke lima semata-mata untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah. Apapun kondisinya, dia yakin Allah akan selalu membantu. Termasuk ketika nanti tiba Makkah.

"Saya jalani saya, ikhlas saja. Oleh karena itu saya pesan jemaah lain jangan patah semangat pasti ada jalan ke sini," tutup bapak dua anak ini.

Sikap semangat yang ditunjukkan Sudirman membuat rekan sekamarnya terharu. Bahkan mereka semakin termotivasi membantu Sudirman ketika beraktivitas.

"Yang kita lihat dia gak pernah bilang capek tapi kita yang kasihan. Tapi lihat dia semangat kita makin semangat. Dia jadi motivasi kita dengan kekurangan tapi memiliki kelebihan," ungkap rekannya.

Ketua Kloter 1 Embarkasi Makassar, Ramli, mengatakan selama 11 jam penerbangan, dia melihat Sudirman sangat ada sehat.

"Saat di pesawat saya juga sering lewat ke tempat dia. Saya tanya aman, dia bilang aman-aman pak ketua," cerita Ramli.

Ramli memastikan meski ada tiga jemaah risti di kloternya, Sudirman tetap mendapat perhatian. Meski dia yakin Sudirman adalah jemaah yang sangat semangat meski berkebutuhan khusus.

"Saya pesan tetap jaga kesehatan," harap Ramli. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel